The trials (of being a self-proclaimed rational and an utopianist)

“Ugh, and they believe to celebrity barging in to someone’s instagram live and say hi? People really believe that?”

“You call yourself a mother? When what you do is lashing out your anger to your child as if they are a punching bag?”

Those thoughts are always there with me. When people say their inner critics mostly put anything you make under scrutiny and most of the time, bad-mouthing your creation, my inner critics are doing a multitasking; one time ripping off everything I make, the other time whipping what others do.

This feature was not given, though. More like acquired. Like a skill your RPG game character get when they level up. I remember it started to pop up when I read more books and articles than I usually did.

It all because of philosophy and other non-fiction, self-help-ish books. My mind created a ‘perfect’ mental image of how things should work and should be. The mental image is also reinforced by years of knowing the ulterior motives behind good deeds, which makes me question almost everything, and being a mega-skepticist.

For example, when Obama came to Indonesia in 2010, he said “Nasi goreng!, Bakso!, Sate!” or all Indonesian cuisine because he had a childhood relation with the country. People would go crazy over a familiar word spoken by him, creating a massive loud scream. I don’t. My mind would steer my thinking to a rational mode and say “come on, Obama is exercising his soft, subtle power by saying something that would make you feel like standing on a common ground with him.”

At some point, I would hold back the thought because sometimes it doesn’t work that way. But when you are already in the habit of thinking that way, reverting back is hard. So it keeps on bouncing back and hard to contain.

I would also point things that should be fixed whenever I feel like it should. There was this mother who would snap to her son whenever he wanted to play or just jumping around. The mother would scream loud and “command” her son to keep his voice low. All of that was done while fixing her eyes solely to the cellphone.

That successfully made my adrenaline level increase. I mean, that’s not how it supposed to be. It’s your friggin son. By giving birth, you committed to keep and nurture your son! Come on!

The other thing that would make me cringe hard is how conventional wisdom plays out in Indonesia. Some of the conventional wisdoms are noble and good to follow, but the others are just…. irrational.

Like how people think students are measured by the scores, low scores mean stupid or brainless. Come on! This is a well-known cause of educational destruction here. Students would rather spend time chopping a tree with a dull ax than sharpening it then chop the tree effortlessly. Worse, the tradition keeps on rolling up until this very second.

I also just heard that my friend went through a breakup because the boyfriend is socially considered inadequate due to lack of will to finish college and not having enough income source. He’s just 22, come on.

My rant could go further than this, but I stop it right here.

Though it is useful as a bullshit-piercing bullet, having this way of thinking is also agonizing at times.

Lost a lot of opportunities because of that. Because I was acting gingerly.

Lost a friend. Because I was once thought that true friendship is when a friend could understand you so well, and I haven’t found one.

It was hard being genuinely interested to what people say, because I knew people doesn’t actually interested in talking to me.

This was the condition where I thought I have two personalities. Like, an alter-ego.

However, starting from this year, I really really want to change. I don’t want to be trapped in my own ego, the thought of me being a special being for thinking like that.

Yes. I have to change.

Review(ID): Reply 1988

Review(ID): Reply 1988

 

screenshot-2017-02-15-07-30-23
Ssangmundong, bakal jadi tempat yang bikin sedih kalau kalian nonton drama ini

[SPOILER ALERT]

TL;DR, Gue sangat, sangat, sangat merekomendasikan drama ini bahkan untuk yang belum pernah nonton drama Korea sekalipun. Karena ceritanya yang sangat-sangat bagus dan sarat makna, kalau ada yang ingin nonton dan enggak mau tahu ceritanya duluan, cukup baca sampai sini aja. Totally recommended. You’ll know it in the first three episodes.

————————-[SPOILER STARTS BELOW]—————————

TENTANG REPLY 1988

Reply 1988 adalah sebuah drama yang bercerita tentang 5 orang teman beserta 5 keluarga yang tinggal di satu gang kecil di Ssangmun-dong, Seoul. Reply 1988 merupakan seri ketiga setelah Reply 1997 dan Reply 1994. Seperti judulnya, latar cerita di Reply 1988 berada di tahun 1988.

PENGHUNI SSANGMUNDONG

Keluarga Sung 

(Kiri atas: Sung Duk-seon, Kanan atas: Sung Dong-il (ayah), Kiri bawah: Sung Bo-ra (kakak Duk Seon, Tengah bawah: Sung No-eul (adik Duk Seon), Kanan bawah: Lee Il-hwa (ibu))

Sung Duk-seon (Lee Hyeri)

Perempuan yang paling males belajar, di sekolah rankingnya selalu di angka 999 dari 1000. Paling hiperaktif dari keluarga Sung.

Sung Dong-il (Sung Dong-il)

Kepala keluarga Sung yang kerja di bank. Selalu dimarahin istrinya karena suka mabuk kalau pulang kerja. Orangnya diam-diam perhatian sama anak-anaknya

Sung Bo-ra  (Ryu Hye-young)

“Kepala keluarga”, paling galak dan kerjaannya teriak-teriak, juga berantem mulu sama Sung Duk-seon. Kuliah di Seoul University, salah satu kampus paling bergengsi dan baik di sana.

Sung No-eul (Choi Sung-won)

Di umur 17 tahun, No-eul punya muka yang sama tuanya sama ayahnya. Paling sering dijadiin bahan bully oleh Bo-ra dan Duk-seon.

Lee Il-hwa (Lee Il-hwa)

Ibu dan istri yang cukup sabar ngadepin anak-anak dan suaminya. Paling sayang sama anak-anaknya.

Keluarga Kim

(Kiri atas: Kim Jung-hwan, Kanan atas: Kim Sung-kyun, Kiri bawah: Kim Jung-bong (kakak Jung-hwan), Kanan bawah: Ra Mi Ran)

Kim Jung-hwan (Ryu Jun-yeol)

Jung-hwan punya ciri khas yakni cuek. Seakan enggak peduli sama apapun di sekitarnya, tapi diem-diem, merhatiin sekitarnya dan perhatian.

Kim Sung-kyun (Kim Sung-kyun)

Tipe-tipe ayah yang paling demen sama dad jokes. Paling hiperaktif di keluarga Kim, kadang-kadang melankolis, kadang-kadang bijaksana.

Kim Jung-bong (Ahn Jae-hong)

Jung-bong adalah tipe orang yang polos dan gampang tertarik sama hal yang enggak bikin orang tertarik secara umum; rubik, ngumpulin perangko, jadi admin chatroom, atau bacain buku alamat. Hampir 7 tahun nyoba tes kuliah enggak masuk-masuk.

Ra Mi Ran (Ra Mi Ran)

Mi Ran ini pure emak-emak. Setiap hari kerjaannya teriak-teriak mulu, karena semua penghuni di rumahnya laki-laki dan rata-rata pemalas.

Keluarga Sung (Sun-woo)

(Kiri atas: Sung Jin Joo (adik Sun-woo), Kanan atas: Kim Sun-young (ibu), Bawah: Sung Sun-woo)

Sung Jin-joo (Kim Seol)

Jin-joo ini anak yang deket banget sama kakak dan ibunya. Kadang hiperaktif.

Kim Sun-young (Kim Sun-young)

Semenjak suaminya meninggal, Sun-young harus bekerja keras untuk hidupin anak-anaknya. Ibu yang perhatian sama anak-anaknya.

Sung Sun-woo (Go Kyung-pyo)

Tipe anak idaman orang tua; pinter, jadi ketua OSIS, dan sayang banget sama keluarganya.

Keluarga Choi

(Kiri: Choi Taek, Kanan: Choi Moo-sung (ayah))

Choi Taek (Park Bo-gum)

Pemain Go jenius, tapi untuk kegiatan sehari-hari, terlalu polos.

Choi Moo-sung (Choi Moo-sung)

Ayah Taek yang juga cuek dan hemat bicara, tapi diam-diam peduli sama sekitarnya dan kuat.

Keluarga Dong-ryong

 

(Kiri: Ryu Jae-myung (ayah), Kanan: Ryu Dong-ryong)

*Keluarga ini ada ibu dan kakak, tapi jarang terlihat

Ryu Jae-myung (Yoo Jae-myung)

Kepala sekolah dan ayah dari Dong-ryong. Orangnya strict dan galak, terutama ke Dong-ryong

Ryu Dong-ryong (Lee Dong-hwi)

Anak hiperaktif yang disebut counselor karena kebijaksanaannya dalam ngasih saran.

UNSUR FAVORIT

1. Ssangmundong Squad

answer20-01805b.jpg

 

Bagi kalian yang udah nonton atau akan nonton, ini adalah pemandangan yang bakal kalian lihat di setiap episode. Ada atau enggak adanya Choi Taek di rumah (karena dia sering pergi ke luar negeri untuk kompetisi Go/Baduk), Sun-woo, Dong-ryong, Jung-hwan, dan Duk-seon pasti akan ngumpul di tempat ini untuk nonton, makan ramen di panci besar, atau sekadar ngobrol-ngobrol dan curhat. Kelimanya juga punya hobi nginep bareng di rumah Taek, tidur di lantai pakai selimut.

Buat gue, pemandangan kaya gini bikin senang. Terutama karena hal kaya gini udah jarang ditemuin di era yang masing-masing udah pegang handphone. Boro-boro ketemu, chat pun kadang suka lama dibalas. Makanya, ngelihat adegan-adegan yang ngelibatin mereka semua, bikin rindu ngumpul sama teman-teman.

2. Parents’ squad

answer02-00321.jpg

Enggak cuma anak-anaknya aja yang rajin ngumpul, tapi orang-orang tuanya pun ikutan rajin ngumpul. Biasanya, para orang tua ngumpul di saat-saat ada perayaan besar atau biasanya, kalau Taek jadi juara atau sekedar menang kompetisi internasional. Mereka pun enggak ada canggung-canggungnya kalau ngomong satu sama lainnya, selain itu, perhatian yang mereka kasih ke satu sama lainnya pun besar. Di satu episode, ada cerita waktu Choi Moo-sung jatuh sakit dan akhirnya di rawat di rumah sakit. Para orang tua pun secara bergantian bawain makanan atau sekedar berkunjung, yang ibu-ibunya lebih care lagi. Terutama karena istri Choi Moo-sung sudah meninggal.

Di episode pertama, penonton juga disuguhin adegan ketika masing-masing keluarga tukar-tukaran makanan sehingga yang awalnya meja makanan satu keluarga cuma ada satu macam makanan, jadi punya 5 sampai 6 macam makanan. Buat gue, hal kayak gitu udah hampir susah ditemuin di sini.

3. The Ahjummas

answer11-00037

Kalau sekarang ibu-ibu bisa ngegosip ketika ada satu platform yang sama (WhatsApp atau… Tukang sayur), ketiga ibu-ibu ini bisa kapanpun ketemu dan saling mengunjungi. Cerita satu sama lain masalah keluarga masing-masing atau bahkan masalah personal. Ketika satunya ada masalah, dua ibu-ibu lain pasti langsung terjun ngebantuin.

Di satu episode, Kim Sun-young tiba-tiba ketimpa masalah karena rumahnya mau disita oleh bank. Sun-young diminta bayar 10 juta won dalam waktu dekat atau ia diusir. Ibu mertuanya (yang jahat, nanti akan tau background-nya), justru malah minta Jin-joo dan Sun-woo untuk dikirim ke rumah ibu mertuanya, dan Sun-young “tinggal di jalan”. Il-hwa dan Mi Ran enggak tinggal diam dan langsung cari bantuan. Mi Ran bahkan mau meminjamkan 2-3 juta won untuk membantu Sun-young.

3. Hubungan orang tua-anak tetangga

Meskipun enggak terlalu sering kelihatan, tapi hubungan antara orang tua dan anak-anak tetangganya juga patut diapresiasi, dua potongan adegan di atas adalah buktinya. Yang paling gue seneng adalah ketika lihat Duk-seon dan Sung-kyung salam aneh-aneh. Tapi pesan yang bisa diambil, jaman dulu orang tua dan anak tetangga itu dekat banget. Ayah gue, yang melewati masa-masa 1988 juga bilang kayak gitu. Dulu waktu ayah main ke rumah temannya dan kebetulan lagi enggak ada, ayah malah main catur sama bapak dari temannya itu. Kadang juga minta makanan.

4. The Complexes

Setiap orang punya masalah. Itu pasti, dan itulah yang ditonjolin oleh Reply 1988. Setiap karakter punya complex-nya masing-masing. Masalahnya pun beragam dan enggak hanya sebatas cinta-cintaan remaja, tapi masalah real yang sampai sekarang pun kita hadapi. Coba lihat potongan adegan ini:

Secara enggak sadar, gue sendiri belajar bahwa ini adalah masalah-masalah yang bakal gue hadapi nanti waktu jadi orang tua dan gue harus siap sama itu. Gimana nanti ngehadapin anak yang kena kasus, ngehadapin kepala sekolah karena anak berantem, nerima takdir kalau orang yang kita sayang meninggal, gimana harus berkorban supaya anak senang, dan lain-lain. It’s like we’re being taught to be a good parent.

5. The values

Berkaitan sama poin nomor 4, di setiap episode Reply 1988 pasti sarat nilai. Ditambah, setiap episodenya punya tema masing-masing. Gue inget di episode pertama, Ra Mi Ran (ibu Jung-hwan) agak sedih karena anaknya enggak cerita soal sekolah, pelajaran, atau hal-hal kecil ke ibunya. Pas Jung-hwan lagi belajar, Mi Ran diam-diam bilang ke Jung-hwan kalau dia juga kepingin Jung-hwan cerita ke ibunya. Setelahnya, Mi Ran peluk anaknya secara awkward.

Ada juga episode yang nunjukkin kalau di balik hebatnya seorang ayah, yang enggak ada takut-takutnya ngadepin apapun, punya ketakutan juga.

6. Quotes

Banyak banget quotes-quotes yang bisa kalian jadiin status media sosial atau sekedar diinget, ini beberapa favorit gue:

“Dads don’t automatically become dads the moment you’re born because it was my first time being a dad” -Sung Dong Il-

“Adults keep it bottled up, adults feel pain too. They were too busy being adults and acted strong because of the pressure that came with their age.” -Duk Seon-

“Sometimes it’s okay to be deluded – if you can make your mother happy by making her think her cooking is good” 

“Adult-like child is just one without complaints, They’ve acclimated to the world of adults and they’ve grown used to the illusions around them. Adult-like child is just… a child.”

“Even when I’m at the age to be a mother, my mother always be my guardian angel. Calling her by the name Mom is something that has the power to tug at my heartstrings. Mothers are always strong” -Sung Bo Ra-

“When one is at the age when one can console one’s mother, it’s when one has matured past being able to say ‘Thank You’ and ‘I Love You’. If one wishes to make one’s mother happy, the words ‘Mom I need you” is more than enough”

7. The plot

Karena mungkin hampir 90% drama Korea dipenuhi dengan cinta-cintaan yang, orang bilang, enggak realistis, jadi drama-drama sebagus ini pun kena imbas kalau isinya ya pasti cinta-cintaan juga.

Enggak salah, sih.

Tapi yang gue suka dari Reply 1988, adalah ceritanya yang seimbang. Bahkan, porsi cinta-cintaannya lebih sedikit dibanding friendship dan family. Inilah drama yang gue suka.

KARAKTER FAVORIT

1. Ra Mi Ran

reply-1988-ra-mi-ran

Ra Mi Ran ini punya charm baik di dalam peran maupun sebagai Ra Mi Ran asli. Gue hanya fokus di Reply 1988, ya.

Kenapa Ra Mi Ran jadi karakter favorit gue nomor 1? Karena selama berepisode-episode, gue ngeliat segala ekspresi Mi Ran dari sedih, teriak-teriak, ketawa-ketawa, sampai gokil. Gue dibuat ketawa ngakak karena kelakuannya yang aneh-aneh, dibuat sedih karena dibalik mukanya yang garang dan galak ke keluarganya, Mi Ran juga bisa pecah nangis waktu Jung-bong mau dioperasi. Di depan Jung-bong, Mi Ran bilang kurang lebih “yaelah, operasi kecil doang gak sampe sejam! Udahlah! Enggak usah dipikirin! Mending makan aja! , tapi waktu tengah malam, ngeliat anaknya, Jung-bong lagi tidur dan ketakutan karena mau operasi, dia nangis sesegukan di ruang lain karena sebenarnya dia juga takut. Di sisi lain, Ra Mi Ran juga–di antara ibu-ibu–bisa jadi orang yang bijak dan suportif.

Gue rasa, kita bisa sayang (in terms of friendship, ya) sama orang kalau kita udah lihat semua ekspresinya. Di sini, gue ngerasa Ra Mi Ran kaya ibu beneran.

2. Sung Bo-ra

cc44f4395688f3c4a3f2270275697865e3180731_hq

Hampir karena alasan yang sama dengan Ra Mi Ran, di drama ini kalian bakal dilihatin macam-macam ekspresi dari Bo-ra. Di episode 1, gue yakin kalian akan benci banget sama perempuan ini. Tapi lama kelamaan, Bo-ra nunjukkin sikap hangatnya dan diam-diam perhatian sama keluarganya.

Di episode-episode sebelum terakhir, kalian akan lihat Bo-ra yang bener-bener sayang sama keluarganya dan itu yang bikin gue senang lihat Bo-ra. Di balik teriak-teriak “Lo mau mati!?”, dia bisa nangis dan bikin orang tuanya sadar kalau mereka beruntung punya anak kaya Bo-ra.

3. Sung Sun-woo

rep

Sun-woo mungkin adalah karakter yang paling relatable buat gue. Because I was once in his shoes that I can relate to all of his thoughts. Dia sayang ibunya, sampai-sampai, enggak tega dan bisa nangis karena ngelihat ibunya kerja untuk dia. Sun-woo juga sayang banget sama adiknya, Jin-joo, yang bahkan tiap hari dia ajak main dan suapin kalau lagi makan. Dia juga paling enggak mau ngerepotin ibunya dan kalau bisa, dia yang bantu ibunya.

FINAL THOUGHTS

Keputusan gue untuk copy Reply 1988 dan nonton pelan-pelan adalah keputusan yang baik. Selama nonton drama ini, gue enggak bisa berhenti ketawa, senyum, bahkan pada satu waktu, ikut nangis. Karena memang sangat relatable dan mengenai keluarga.

Di drama ini, gue ngerasain bener lari dari dunia nyata dan seakan tinggal di Ssangmundong bareng sama mereka-mereka ini. Karena, kehangatan antarkeluarga dan antarteman udah jarang banget dirasain di jaman kayak sekarang. Dulu gue punya teman kecil yang rumahnya dekat juga, hampir mirip Ssangmundong. Kami tinggal satu kompleks dan setiap hari ngunjungin rumah masing-masing untuk nongkrong, nonton, atau main. Berkat Reply 1988, gue keinget masa-masa itu. Meskipun sekarang udah pada mencar. Dulu juga gue punya keluarga besar yang selalu ngumpul di waktu-waktu tertentu, tapi karena sekarang sibuk masing-masing, ngumpul jadi jarang.

Buat gue, drama ini enggak hanya bagus, tapi juga menyinggung dunia hari ini. Kita terlalu sibuk dengan handphone masing-masing sampai-sampai interaksi antarmuka jarang terjadi. Kita lebih sibuk dengan dunia masing-masing. Di Reply 1988, TV hanya ada satu, belum ada internet atau handphone. Itu yang bikin interaksi antarmereka kuat.

Dengan selesainya gue nonton Reply 1988, gue ngerasa kosong. Padahal, hampir setiap minggu gue ngerasa ada di tempat itu.

Sangat, sangat, sangat, sangat direkomendasikan.

Thank you, Ssangmundong.

reply-1988.jpg

Seberapa Berbedakah Sinetron Indonesia dan Series Luar Negeri?

screenshot-2017-02-10-11-40-34screenshot-2017-02-10-11-40-48screenshot-2017-02-10-11-42-02

(Disadur dari Line Today, “4 Sinetron Sinemart ini Segera Tayang Serentak di SCTV”)

Sinetron adalah salah satu dari beberapa pemicu debat kusir setelah Kolom Detikcom, Politik, dan Young Lex.

Bisa dilihat dari gambar di atas. Ada pihak yang ingin ganyang sinetron (dengan argumen utama: merusak moral), ada pembela sinetron #1 (dengan argumen utama: “enggak usah ditonton ajasih!” dan emang karya lu apa?**“), pembela sinetron #2 (dengan argumen utama: “alah drama luar aja lebih parah kok!“), dan Mahatma Gandhi kw-sekian (dengan argumen utama: berbahasa baku), terakhir, penyedia fakta (argumen utama: bau data).

**Argumen yang paling mudah ditemukan di setiap kritik di Indonesia

Meskipun berkali-kali saya berpikir objektif tentang sinetron, memang sulit ditemukan. Tapi saya jadi penasaran membandingkan antara sinetron Indonesia, drama Korea, dan series TV Amerika/Inggris. Ketiganya sudah pernah saya jajal, jadi kurang lebih tahu di mana letak perbedaannya.

1. Cerita

Cerita adalah salah satu struktur paling penting dari sebuah series/sinetron/drama. Dengan cerita, kita tahu si A itu siapa, B itu siapa, C apanya A & B, dan ke mana mereka bertiga nantinya? Selain itu, hampir 90% penentu bagus atau enggaknya sebuah series/sinetron/drama ditentukan dengan ceritanya yang bikin penasaran. Salah satu sinetron Indonesia yang paling berkesan ceritanya adalah–saya yakin semua setuju–Keluarga Cemara. Dibantu dengan lirik lagu “Harta yang paling berharga, adalah keluarga….” plus cerita yang jauh dari “lo-gue” atau mobil-mobil mentereng, Keluarga Cemara jadi salah satu sinetron favorit sepanjang masa.

Sayangnya, sekarang jarang kelihatan lagi sinetron yang mbahas soal keluarga secara mendalam. Malahan, yang kita temui sekarang isinya tentang anak yang–enggak tahu gimana caranya–bisa ketukar (apa admin rumah sakitnya mabok?), balapan di jalan (padahal di 86 Net TV udah pernah ketangkep itu balap liar), dan…

hqdefault
Hello Kitty rebus.

Lalu intinya, selalu tentang cinta lagi, cinta lagi. Dengan porsi yang enggak ketulungan besarnya.

Memang enggak bisa dipungkiri kalau cerita cinta bisa jadi daya tarik utama untuk narik penonton. Overall, love is what we longing, right? Tetapi, harusnya porsi cerita cintanya bisa dikecilkan atau dibalut dengan cerita yang unik.

Hal itu yang saya temuin beberapa drama Korea dan series Amerika/Inggris. Reply 1988 adalah salah satu drama Korea yang punya kesan paling baik buat saya. Dibanding fokus dengan adegan cinta-cintaan dan unyu-unyu, drama ini fokus ke hubungan antara 5 keluarga yang tinggal di satu gang kecil di Ssamundong. Tradisi-tradisi berkumpul di satu rumah, tuker-tukeran makanan antarkeluarga jadi satu hal yang bikin saya jatuh cinta sama drama ini. Sementara itu di series Amerika, ada How I Met Your Mother dan Friends. Meskipun saya belum nonton Friends, tapi How I Met Your Mother dan Friends pun fokus terhadap hubungan masing-masing karakter yang diselingi dengan adegan-adegan yang enggak selalu mengarah ke cinta.

2. Akting

Selain cerita, akting juga jadi salah satu faktor yang menentukan bagus atau enggaknya sebuah sinetron/drama/series. Ibaratnya, cerita itu rumah dan akting adalah gerbang masuknya. Kalau gerbang masuknya udah sengeri rumah-rumah di film horor, apa berani kita masuk dan lihat isinya (kecuali Harry Pantja dan kru Dunia Lain)?

Dalam observasi saya, akting enggak hanya meliputi gimana seorang aktor melakukan sebuah adegan, tapi ekspresi, gestur, sampai intonasi pun masuk ke hitungan.

Coba kita lihat adegan marah dari tiga scene:

Ini salah satu adegan dari Reply 1988:

Dan ini dari Anak Jalanan:

Plus, dari Whiplash:

See the difference?

Inilah kenapa akting penting. Selain jadi pilar untuk cerita dan keseluruhan film/series/drama/sinetron, dari akting, kita sebagai penonton juga bisa ikut mengalami naik-turun emosi bersamaan dengan protagonis. Di sisi lain, kita juga bisa ikut merasakan kerentanan (vulnerability) dari aktor dan peran yang diperankan. Kalau tidak begitu baik aktingnya, sulit bagi penonton untuk merasakan rollercoaster of emotion, apalagi paham ceritanya.

3. Sinematografi

Saya enggak tau banyak soal sinematografi, tapi definisinya:

“Seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab semua aspek Visual dalam pembuatan sebuah film. Mencakup Interpretasi visual pada skenario, pemilihan jenis Kamera, jenis bahan baku yang akan dipakai, pemilihan lensa, pemilihan jenis filter yang akan dipakai di depan lensa atau di depan lampu, pemilihan lampu dan jenis lampu yang sesuai dengan konsep sutradara dan cerita dalam skenario. Seorang sinematografer juga memutuskan gerak kamera, membuat konsep Visual, membuat floorplan untuk ke efisienan pengambilan gambar. Artinya seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab baik secara teknis maupun tidak teknis di semua aspek visual dalam film.”

Artinya, aspek-aspek yang enggak kelihatan pun berpengaruh. Kalau kita lihat dari contoh adegan di Reply 1988 dan Anak Jalanan, ada perbedaan jelas antara kedua adegan tersebut.

Di adegan Reply 1988, kita bisa lihat perbedaan letak ambil (angle), ada berapa kali buram (blur), dan kamera yang agak bergetar waktu Duk Seon mulai marah, dan enggak banyak zoom.

Sementara di Anak Jalanan, pergerakan kameranya enggak beragam. Kalau enggak zoomin/zoom-out, ya dilambatkan (slowmotion)Jadi emosinya enggak terlalu ketangkap.

Contoh lain, ada di series Inggris, Sherlock. Coba perhatiin adegan ini:

Mirip seperti Reply 1988, ada beragam pergerakan kamera dan enggak hanya itu-itu aja.

4. Poster

Ini adalah salah satu masalah estetika yang menurut saya pribadi, mengganggu banget. Poster untuk promosi seharusnya dibuat semenarik mungkin dan semisterius mungkin, supaya penonton penasaran.

Caranya? Banyak. Pakai karakter tulisan (font) yang berbeda-beda, angle-nya dimainkan, warna latar, dan lain-lain. Coba bandingkan tiga poster berikut:

 

(Kiri ke kanan: Reply 1988, Sherlock, Ganteng-Ganteng Serigala)

Ada perbedaan yang kontras dari ketiganya, kan? Di dua poster di sebelah kiri, misalnya, semua pemeran terlibat di satu foto dan punya ekspresi yang sama. Sementara untuk GGS, terlihat edit-annya kurang rapih dan…. itu serigala di belakang untuk apa? Coba kalau poster GGS dibuat lebih simpel, satu klub serigala (atau apapun lah…) berdiri di satu lorong sekolah pakai jas khas keserigalaannya dan difoto dari tengah? Bakal lebih bagus.

Dan penggunaan font kurang pas di poster GGS, sayangnya. Belum lagi beberapa karakter di posternya warna kulitnya jadi beda-beda.

Kesimpulan

Tulisan ini intinya emang mau memojokkan sinetron Indonesia atas kemonotonannya dan kurang menarik. Banyak aspek yang kelihatannya dibiarin begitu aja tanpa dibuat bagus, alhasil, ya apa yang banyak orang lihat itu bisa dibilang karya seadanya. Agak kecewa juga banyak aktor yang bangga dengan pekerjaannya sebagai aktor sinetron. Bukan berarti semua aktor Indonesia jelek, sayangnya, aktor-aktor yang bagus dan senior seperti Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, Dian Sastro, Alumni The Raid, dan banyak lagi malah ketutup sama yang ngisi sinetron.

Sebenarnya, sinetron Indonesia bisa jauh lebih baik dari sekarang, coba baca Artikel ini, itu salah satu cerita di balik industri sinetron Indonesia. Intinya, penulis cerita sinetron enggak bisa disalahkan mutlak. Karena cerita sinetron dibuat sesuai kesukaan dan permintaan pasar (alasan saya buat tulisan Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?). Jadi, kalau ditanya seberapa beda antara sinetron, drama, dan series?

 

Jauh banget.

 

 

 

 

 

Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?

Dulu, pre-kuliah, buku yang paling seneng saya lihat (dan baca) adalah ensiklopedia buatan Time tentang dinosaurus, yang isinya 80% gambar, 20% teks. Ensiklopedia itu berjasa mengisi otak saya dengan pengetahuan tentang Allosaurus yang dielu-elukan sebagai saingannya Tyrannosaurus Rex. Diplocaulus (bukan DJ) yang kepalanya segitiga. Plesiosaurus yang lehernya panjang dan musuh paling ngeselin di Dino Crisis 2, dan lain-lain.

a1wyrmy1h6l
Kurang lebih begini bentuknya

Kuliah semester 2, saya mulai baca buku yang porsi gambarnya lebih sedikit dibanding tulisan. Mau tahu apa? Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw. Mungkin itu buku pertama yang saya baca dengan 217 halaman. Isinya sendiri enggak ada serius-seriusnya. Cukup miris juga, waktu itu hampir 18 tahun umur saya tapi enggak pernah baca buku selain Biologi Kelas 1 SMP/SMA. Paling mentok? Bagaimana Cara Menjadi Cepat Kaya Dengan Beternak Kecoak Madagaskar. Enggak deng, boong.

Setahun setelahnya, di semester 4, tepatnya tahun 2014, saya mulai baca-baca buku yang teksnya penuhin satu halaman dan tebalnya bukan main. Waktu itu, saya sering disuruh baca buku-buku hubungan internasional karena mahasiswa hubungan internasional senjatanya hanya baca dan nulis. Enggak gampang, karena terbiasa lihat gambar-gambar lucu, sekarang disajiin gambar korban perang dan paling mentok, diagram hutang luar negeri.

Pelan-pelan, saya mulai terbiasa baca buku-buku yang teksnya banyak karena terdorong kewajiban kuliah. Ditambah, saya enggak mau kuliah hanya untuk mejeng tanpa sadar duit orang tua udah kekikis. Jadi ya mau enggak mau harus baca.

Di tahun yang sama, portofolio buku bacaan saya mulai nambah pelan-pelan. Dari baca buku melankolis kaya The Fault in Our Stars, sampe buku filsafat seberat The History of Sexuality karya Michel Foucault. Banyak waktu saya mulai keambil untuk baca. Di TransJakarta, di kampus, di kelas, di rumah, dan termasuk, kamar mandi.

Salah satu sensasi yang paling memuaskan dari membaca adalah, perasaan masuk ke dunia dan pandangan orang lain.

masa sih? Itu kan cuma tulisan doang?”

Ada beberapa kutipan yang sejalan dengan apa yang saya bilang:

“A book is a dream that you hold in your hand.”

–Neil Gaiman

“Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light.”

–Vera Nazarian

“Great books help you understand, and they help you feel understood.”

–John Green

“A book is a version of the world. If you do not like it, ignore it or offer your own version in return.”

–Salman Rushdie

Sensasi yang paling kuat saya rasain waktu baca buku-bukunya Haruki Murakami. Murakami dikenal sebagai penulis yang karakter-karakter di bukunya selalu sendiri, pendiam, enggak tertarik dengan apapun, dan berlatar belakang agak sedih. Uraian kata-kata yang ia tulis selalu membuat saya rasanya ada di dalam dunia yang Murakami tulis, lengkap dengan suasana yang digambarkan oleh Murakami di setiap tulisannya. Dan ini adalah bagian yang paling saya suka dari membaca buku.

Oke, stop ngomongin tentang apa yang saya alami. Rasanya terlalu narsistik kalau ngomong tentang diri sendiri.

Di Indonesia, buku jadi salah satu hal yang paling ditakutkan. Kalau diurut, mungkin begini:

HAL YANG DITAKUTKAN MASYARAKAT INDONESIA

  1. Kecoak terbang
  2. “Ada yang pengen dibicarain”
  3. Anak Jalanan/Tukang Bubur Naik Haji tamat
  4. Buku
  5. Raffi Ahmad – Nagita Slavina cerai

Buktinya, ada di beberapa artikel ini The case of reading and preserving Indonesian literature90 persen orang Indonesia tak suka baca buku, dan Why Indonesians Don’t Read More Books.

Dari artikel di Jakarta Post, menurut studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di Amerika Serikat, Indonesia ada di urutan 60 dari 61 negara dalam minat membaca. Mau tahu di bawah kita siapa? Botswana.

BotswanaBot-swana. Bot-swa-na.

Bukan berarti Botswana jelek lho ya (meskipun masih sering ada gajah nyebrang jalanan), tapi, Botswana?

Hal itu yang bikin saya merasa agak miris, sebenarnya. Karena ketidaksukaan membaca ini ngaruh ke banyak hal.

Salah satunya, adalah kurang berwarnanya pemberitaan di Indonesia, terutama di kolom-kolom yang harusnya berisi berita menyenangkan.

Kita banyak juara olimpiade fisika, matematika, robotika, dan -tika -ika lainnya. Beberapa kali orang-orang kita dikirim ke luar negeri untuk belajar, ikut ini-itu, dan banyak lagi.

Tapi hanya sedikit dari pemberitaan di Indonesia yang meliputi anak-anak yang inovatif, kita pernah ditiup angin segar dengan hadirnya Esemka, baru-baru ini Pesawat N219 yang bakal mulai mengudara April nanti di Makassar.

Enggak sampai di situ, dulu kita punya Laras dan Luthfia yang berhasil membuat tusuk gigi pendeteksi boraks. Lalu ada juga senjata elektrik tanpa suara, penyaring udara dari kotoran sapi, canting batik otomatis, detektor telur busuk, dan lainnya. (Ini sumbernya)

Kemana itu semua?

Berita hari ini lebih banyak bicara soal Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji mau tamat, segala hal berbau “mantan” (Seriously guys, it’s overused.), om telolet om yang mendunia (selama beberapa hari), sampai Raffi Ahmad.

Kenapa?

Karena permintaan pasar. Media juga cari untung, dong. Alhasil berita yang dimuat harus bisa menjual ke orang-orang yang membaca dan menonton. Sejauh ini, berita yang dimuat terus-menerus soal artis yang selingkuh, dan politik yang enggak ketolongan bikin enegnya. Artinya? Orang-orang masih banyak yang menikmati hal-hal itu.

Ya, kita masih senang melihat Stefan William berakhir dengan Celine Evangelista, bukan Natasha Wilona. Dibanding khawatir dengan kondisi dunia yang begitu cepat berubah (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous (VUCA)).

Kita masih lebih sedih lihat Anak Jalanan tamat. Dibanding berpikir soal solusi macet Jakarta yang enggak ada selesai-selesainya.

Kita masih lebih tertarik dengan menghujat orang-orang yang sekarang lagi bermunculan di TV. Dibanding berpikir gimana cara jadi Steve Jobs atau Elon Musk selanjutnya.

Kalau melihat daftar 30 under 30 dari Forbes, saya suka minder sendiri. Seumuran saya rata-rata udah bikin produk yang seengganya mengubah hajat hidup orang jadi lebih mudah atau baik.

Minimnya niat membaca juga berpengaruh ke buku-buku yang dijual, karya orang Indonesia, di toko-toko buku terdekat.

Banyak tulisan-tulisan yang incredible. Eka Kurniawan, Tere Liye, Ika Natassa, Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, misalnya. Belum lagi kalau menghitung yang enggak keliatan di permukaan.

Sayangnya, buku-buku bagus ini seringkali ketutup sama buku-buku yang–dengan 900++ halaman–membicarakan soal iluminati, atlantis, Rothschild, dan buku-buku konspirasi lainnya.

Meskipun jumlahnya enggak keterlaluan banyak, tapi ini juga mencerminkan keinginan pasar yang cukup tinggi atas buku-buku senada Garut Kota Illuminati.

Buku-buku yang diterbitkan karena penulisnya terkenal pun marak. Jadi, kadang enggak perlu perhatiin kontennya, karena terkenal, ya pasti banyak yang beli. Jadi urusan konten urusan belakangan.

Selanjutnya, kurangnya minat baca juga bikin kita kekurangan bahan obrolan, referensi data, kesempatan untuk keliatan geeky, dan, enggak ganti-ganti candaan selain soal mantan dan om telolet om.

Kalau mau bukti, coba ketik “mantan” di Google. Hasilnya kaya begini:

screenshot-2017-02-08-11-49-24

Dan soal om telolet om, I hate to rain on your parade, but this is…… embarrassing.

screenshot-2017-02-08-11-54-38

Inilah kenapa kadang rentang waktu candaan kita lebih panjang…..

Selain itu, seperti dilansir di Harvard Business Review, dalam artikel berjudul The Business Case for Reading Novels, ada satu kalimat yang berbunyi:

It’s when we read fiction that we have the time and opportunity to think deeply about the feelings of others, really imagining the shape and flavor of alternate worlds of experience

Artinya, kalau kita mbaca buku (terutama fiksi), kita jadi bisa lebih memahami perasaan orang lain dengan menempatkan kita di posisinya.

Di satu media berita terbesar di dunia, Line Today, saya nemu satu berita yang berjudul “Pakai Apple Watch, Ketua MK: Jam Rp13 Juta Sudah Cukup”. Bagi warga Indonesia, komentar apa yang Anda kira akan muncul di kolom komentar? Ya, kurang lebih komentar yang bernada iri-ditutupi-sarkastik macam begini

Ayolah. Rp13 juta untuk jam buat sekelas pejabat eselon atas bisa dibilang masih murah. Nih ya, untuk referensi, salah satu merek terkenal yang biasa dipakai banyak orang-orang kelas atas:

screenshot-2017-02-08-12-12-44
dan ini barang second.

 

Jadi ya… Kalau ditanya Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar? Jawabannya bisa diambil kesimpulan oleh masing-masing dari sepotong uraian yang saya tulis di atas.

Saya sendiri belum begitu banyak baca buku, per buku saya bisa habis 3-4 minggu. Cukup lama, tapi masih bisa ditingkatkan. Warren Buffet, investor terkenal dan pemilik Berkshire Hathaway, setiap hari baca 500 artikel setiap pagi. Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt selama hidupnya baca lebih dari 2000 buku (itupun yang dia ingat), Steve Jobs pun terinspirasi dari buku (14 books that inspired Steve Jobs), begitu pula Elon Musk (The Transformative Effects of Reading + Elon Musk’s Reading List) (P.S. Elon Musk tahu cara bikin roket karena baca buku).

Mengambil kutipan dari salah satu artikel di atas, yang diambil dari penulis Nora Ephron di buku “I Feel Bad About My Neck”

“Reading is everything. Reading makes me feel like I’ve accomplished something, learned something, become a better person. Reading makes me smarter. Reading gives me something to talk about later on. Reading is the unbelievably healthy way my attention deficit disorder medicates itself. Reading is escape, and the opposite of escape; it’s a way to make contact with reality after a day of making things up, and it’s a way of making contact with someone else’s imagination after a day that’s all too real. Reading is grist. Reading is bliss.”

Bungee Jumping

I haven’t done a real-life bungee jumping, to be fair.

I have seen it many times, it makes me giddy. But some part of my body shot up adrenaline, distributed it evenly to all of my body to joint. Boy did it makes me excited.

So far, the closest thing I have ever done to bungee jumping is hypothetical bungee jumping, mental bungee jumping, or any bungee jumping analogy.

Only yesterday, I woke up with tight eyes and walked like a zombie downstairs, aiming for bathroom to shot some urine. From my room to the bathroom, everything seemed normal. But after I went to close the bathroom door using the inside-doorknob, something crawled hastily on my hand towards my armpit. After getting some information from the nerves of my hand and translated it to my brain, I flinched and whip my hand to shake it off. It was a cockroach waiting on the inside-doorknob. Unknowingly crawled using its tiny freaking legs.

That was such a mental bungee jumping for me. It was still dark in the morning, anyway.

But that’s not only it. Lately I’ve been lingering on Quora and YouTube and Reddit, finding some self-help content that would make my time before reaching 23 used for something of an investment. You know, the best investment I could make for now is for myself.

Among those three, Quora has been a big help since the web provides answers not only from a self-proclaimed motivators or so but professionals and practitioners are there, too. Gordon Ramsay and Jimmy Wales (Founder of Wikipedia) for example.

It became a sudden realization to me, after reading so much answers of how broad our world is. I mean, at the end of last year all I could think about is becoming a rich person in order to easily give money to my family and the needs, but, the Quora answer opened wide my eyes to understand that there are countless permutations of things to happen. The ambition of becoming rich slowly fade, not that fading cause you know it’s a dream, but that’s not a sole priority.

Not to brag or being a snob, but, this life is too wonderful for us to be an average Joe. To be satisfied by “this is enough”. I hate to be a pester but, YOLO seems relevant now. Not to use it as an excuse to do a somersault from Burj Khalifa without parachute, of course. But each second we are closing to death so why don’t we left a good impression to the world and our successors?

At the same time, I realize how HUGE the dream is, and how far I am right now from that. So I have to take the giant leap which will involve loneliness and insurmountable stress, also discomfort.

Much like bungee jumping. You are on the verge of a cliff or the edge of a tower; you either make the jump to say “Hey I did the bungee jumping! it was fun but bla bla bla” or sit in scare and watch people done it without ever doing it first hand.

There’s always more.

I’ve been pushing myself to write over the past two weeks.

It was hard for me to write because the intensity of work has become more intense along the time. Plus, I added some activities to my daily life. “But that can’t be a reason” my mind argued to myself, who are responsible as an authority over the whole body to order every joint to do this or that. “You still have to write, are you gonna leave that blog like the previous?” it added. I’ve written in more than 4 personal blogs and none of them are sustainable, those blogs are either contain too much melancholy, full of cringe, or complacency just get the best of myself.

From four of those personal blogs that are discontinued, I got a lesson that my consistency is questionable. This blog almost suffer the same fate as those previous blogs, the pattern of me writing something has something to do with my motivation. At the time I was so motivated by Haruki Murakami or Indonesian blogger-turned-writer, Raditya Dika, so there were barrages of posts in a short period of time. But along the way as I found something more exciting, I hopped off. This cannot be happening.

So here I am, back at writing cause I feel guilty to leave such a good user-interface (sorry blogger.com) and contents that I wrote by squeezing my brain to its limit. I really have to write again.

Anyway, during my absence of writing, I earn myself an epiphany that is… supposedly sustainable but I’ll get there slowly. There’s this website called Quora that displays many self-help, entrepreneurship, and everything-Elon-Musk question. You know, I’ve been struggling over the past months with motivation and life seemed to be conspiring to make me walk over conveyor belt over and over again. That emotion was reflected on my previous posts clearly.

Just by paying a regular visit there, I feel rejuvenated, reinvented, and ready to plug the cable and rock on!

It’s because I am exposed to a challenges that are… HUGE. I mean, all this time exposed great people are only a few. We know Warren Buffet, Peter Thiel, Satya Nadella, Mark Zuckerberg, Elon Musk, or Steve Jobs. But that’s that, we don’t know anymore people with second-placed quality or more.

That makes me think those people might be born with superpowers or just huge percentage of luck.

While actually, they aren’t. Plus, what made me relieved is realizing there are some people like them who aren’t exposed yet but possess similar quality. This realization got me thinking that I someday could be one by doing tasks and being consistent.

It doesn’t stop there.

I feel like knowing myself more. Reading back stories of aforementioned successful people, how people are different with a lot of traits permutation, and why people are like this or that also somehow gave me a cool breeze in a desert. By reading their stories, they become reachable and I could see how many ladders I have to climb in order to reach their level, though painful and long, I’ll be there in the end.

My curiosity came back from its long hibernation. It fuels me to go miles again, just like the old times. Now I’m ready to run, walk, or even crawl for miles to satisfy my curiosity and my almost-insatiable longing of being a person of success.

Just when I thought I reached the end of the lane (I depicted it like Truman Show ending), there’s more to discover and it become endless.

Because when you think you are enough, there’s always more.

(Tried to sound wise but…. Okay, at least I tried.)

Ada polanya.

*N.B: Saya bukan lagi mahasiswa politik, tapi mantan. Tidak lagi saya terlalu tertarik sama dunia politik. Jadi komentar saya ini tidak akan membahas sampai ke jeroan karena khawatir ada salah informasi yang bisa berakibat bahaya.

Remaja menuju ke dewasa, umur-umur 14-25 tahun mungkin lagi senang-senangnya komentar sana-sini. Apalagi ada sosial media, dan kita yang berumur segitu pun lagi senang-senangnya (enggak sengaja) baca berita yang muncul sekelibat di sosial media kita.

Berita soal Aurel operasi plastik, Donald Trump terpilih, soal pilgub, ini, itu, dan lain-lain. That’s why kolom komentar di website berita banyak penuh sama komentar-komentar, meskipun enggak semuanya remaja-dewasa.

img_1058
Kurang lebih begini

Ini adalah bagian dari tumbuh dewasa, jadi wajar. Enggak jauh, setahun lalu pun, gue masih suka komentar sembarangan karena merasa bisa paling benar dan pintar. Dulu, dalam hati rasanya kepingin sumpah serapah di depan muka mereka karena komentarnya yang–gue rasa–bodoh. Makanya kolom komentar terus penuh, apalagi untuk isu-isu yang gampang di-google dan muncul di mana-mana, pasti deh, ada komentar yang nadanya begitu.

Political fiasco yang lagi terjadi di Jakarta contohnya. Coba kalian main ke detikcom, lihat berita yang ada kaitannya dengan Pilgub DKI 2017, pasti komentarnya lebih dari 100. Isinya? Subjektif. Bantah sana-sini, ngatain sana-sini, semua binatang keluar, macam-macam.

capture33
Bener kan? (Sumber: detikcom)

Kejadian semacam ini enggak terjadi sekali-dua kali, dan enggak terjadi hanya di Indonesia. Di luar negeri, kolom komentar bisa jadi arena bertarung untuk buktiin siapa yang lebih benar dan siapa yang salah.

Capture44.PNG

Hal ini wajar. Wajar dalam demokrasi sekarang-sekarang, wajar dalam dunia per-netizen-an, wajar dalam perbedaan pendapat.

Semua wajar sampai kalian liat isi dari perdebatan di atas. Di gambar ketiga, saya ambil komentar-komentar itu dari video The Western Media Is Being Paid Millions To Hide This Video! Putin Tells us a BIG SECRET!. Sebelum kalian judge saya kalau saya penyuka video-video yang konspirasi-global-ish atau yang berbau Garut Kota Illuminati, tunggu dulu. Saya punya pertanyaan untuk kalian renungin:

“Apa selama ini yang kalian tonton, baca, dengar, itu mutlak benar? Pernah kalian coba cari alternatifnya?”

Untuk pertanyaan itu, saya menjawab bahwa tidak semua yang saya tonton, baca, dengar adalah mutlak benar. Kecuali agama yang saya pegang. Saya batasi sampai situ.

Jika kalian juga berpikir sama seperti saya, bahwa apa yang telah dicekoki kepada kita tidak mutlak benar, maka kalian akan masuk ke sebuah alam pikiran yang isinya, akan skeptis dan terus kritis tentang sebuah hal yang dianggap “kebenaran”.

Dalam konteks ini, saya enggak bahas soal Pilgub DKI 2017. Melainkan video soal Vladimir Putin yang ini:

Di video ini, Putin kurang lebih bilang kalau sebenarnya ISIS adalah buat-buatan Amerika. Meskipun enggak blak-blakan, tapi itu poin yang dibilang Putin.

Saya percaya? 95 persen, ya.

Kenapa saya percaya?

Pertama, jangan dipikir bahwa “power” itu selalu berbentuk kekerasan. Terlalu sempit artinya. Kalau power hanya berbentuk kekerasan, untuk membuat orang patuh sama kita, jalannya hanya satu: hajar. Tapi power punya banyak bentuk lain, makanya, di jurusan hubungan internasional, dibagi menjadi beberapa konsep: soft power, hard power, smart power. Artinya, pukul-pukulan bukan hanya satu jalan.

Softpower dalam wikipedia:

Soft power is a concept developed by Joseph Nye of Harvard University to describe the ability to attract and co-opt rather than by coercion (hard power), using force or giving money as a means of persuasion. Soft power is the ability to shape the preferences of others through appeal and attraction. A defining feature of soft power is that it is non-coercive; the currency of soft power is culture, political values, and foreign policies.

“kemampuan untuk menarik dan bekerjasama dibanding kekerasan … kemampuan untuk membentuk persepsi untuk disukai melewati cara-cara menarik seperti melalui budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negeri”

Ada yang ingat video di tahun 2010 waktu Obama ke Indonesia dan bilang “Sate… Bakso…”? Itu salah satu softpower. Ada yang suka lihat kalau lagi Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, ada duta besar Amerika Serikat ngucapin di RCTI? Itu softpower. Tidak sebatas itu. Film seperti Avengers, Inception, Dark Knight, Home Alone, itu semua juga bisa jadi softpower. Karena memperkenalkan budaya dan nilai-nilai Amerika Serikat secara tidak langsung. Berpengaruh juga terhadap sifat dan sikap. Ragu? Cek ini: Media Effects Theory.

Artinya, media juga bisa jadi perpanjangan tangan dari power. Media yang membentuk persepsi, media yang secara tidak sadar, membuat kita punya pikiran tertentu. Media juga enggak harus media semacam CNN, Fox, TVOne, atau semacamnya. Tapi sesederhana Meme.

Ada yang pernah lihat meme ini?

86281788_0c02e424-070c-44a5-9c57-37064286c6ab

Model perempuannya, Heidi Yeh, hidupnya rusak sekarang karena disangka operasi plastik oleh orang-orang yang lihat meme ini. Reputasinya jadi negatif dan enggak ada yang mau kerja lagi sama dia. Basically, karirnya mati. (Plastic surgery meme ruined my life: Model Heidi Yeh reveals her regret over ad). Padahal, itu iklan kosmetik.

Dan itu cuma satu meme.

Sekarang bayangin Vladimir Putin, yang dapat label jelek di sana-sini karena sering berseberangan dengan Amerika Serikat. Kalau kalian google “Vladimir Putin” dan klik tab “Berita”, kalian bisa lihat segimana banyaknya berita yang headline-nya selalu bermakna negatif soal Putin.

So there we have it! Imej Putin yang buruk dan terpatri di otak.

Hal yang sama terjadi sama Donald Trump. Bedanya, Putin enggak ambil pusing dan diam. Trump malah berkoar-koar yang bikin api makin berkobar. Rencana untuk mengeluarkan muslim dari Amerika emang bikin sakit hati. Tapi tanpa disadari, adakah–atau banyakkah berita miring soal Hillary Clinton? Sedikit.

Hillary Clinton diduga didukung dan dibiayai oleh bank-bank besar di Wall Street dan juga media. Alhasil, kita tahu arahnya ke mana. Padahal, Donald Trump belum jadi presiden. Tapi banyak juga warga negara kita sudah mengecap bahwa Trump itu buruk.

Kebanyakan netizen sangat reaktif sama berita-berita semacam ini. Ada berita A, berita A dirubungin. Berita B? Langsung diserang. Berita C? Hajar. Tidak hanya di Indonesia tapi di luar negeri.

Kalau kita lihat upil dari mikroskop, tentu enggak kelihatan seperti upil. Tapi kalau kita lihat dari mata telanjang, itu jelas upil.

Ada pola-pola yang sering dilewatkan sama orang banyak. Karena terlalu reaktif melihat satu kejadian tanpa menyambungkan titik-titik lain yang ada kaitannya, supaya tahu kesimpulannya.

Pola-pola ini tentu enggak akan dengan sembarangan menampakkan diri, biasanya, pola-pola ini sembunyi. Atau, karena kita melihat dari dekat, pola ini enggak kelihatan. Makanya kalau di Sherlock Holmes, ada hal yang kayak gini:

2a1ea1f7e5cb6f634a2c39d30900a5b1.jpg

Fungsinya untuk mengaitkan satu kejadian sama kejadian lainnya agar kita paham dari sudut manapun. Enggak hanya reaktif di satu kejadian.

Pada akhirnya, video-video dan gambar-gambar tadi menunjukkan sesuatu; bahwa sebenarnya hal-hal di atas juga hanya bagian dari satu gambar besar yang masih jadi pertanyaan.

Tapi, pesannya adalah, jangan terlalu gampang menerima hal–apapun. Selalu koreksi, selalu introspeksi diri, selalu kritis.

Karena semua kejadian, ada polanya.