“Indonesian (kids) don’t know how stupid they are”

“Indonesian (kids) don’t know how stupid they are”

Sebelum Anda marah-marah karena judulnya, biar saya jelaskan kalau ini adalah artikel yang dibuat oleh Elizabeth Pisani, seorang jurnalis dari Amerika Serikat yang berfokus kepada Indonesia, terutama untuk ilmu pengetahuan, politik, serta budaya.

(Ini tautan untuk artikel yang dibuat oleh beliau Indonesian kids don’t know how stupid they are)

Kesan pertama saya membaca judulnya cukup terkejut, bukan karena tersulut ingin marah, tapi karena keberanian yang dimiliki ibu Pisani ini. Saya tidak ambil pusing sama judulnya, karena saya tahu isi artikel dan faktanya memang mirip. Lagipula, hal ini pun didukung oleh tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation & Development), sebuah organisasi yang dibentuk untuk memberikan informasi bagi setiap negara yang berguna untuk dijadikan sebagai referensi kebijakan untuk kemajuan ekonomi dan kesejahteraan setiap manusia.

Sedikit tentang PISA

Tes PISA sendiri dilakukan 3 tahun sekali. Sampel yang diambil adalah anak-anak berumur 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih berdasarkan standar teknis yang ditentukan melalui proses quality assurance sehingga benar-benar harus sesuai dengan standar. Materi yang diujikan ada 3; Reading (membaca), Mathematics (matematika), serta Science (ilmu pengetahuan, tidak sebatas IPA). Saya kutip dari website PISA:

PISA focuses on the assessment of student performance in reading, mathematics and science because they are foundational to a student’s ongoing education. PISA also collects valuable information on student attitudes and motivations, and formally assesses skills such as collaborative problem solving and is investigating opportunities to assess other important competencies related, for example, to global competence.

Soal yang dibuat oleh PISA sendiri tidak murni menggunakan Bahasa Inggris, di salah satu pertanyaan FAQ (Frequently Asked Questions) ada kalimat yang berbunyi:

Participating PISA countries and economies are invited to submit questions that are then added to items developed by the OECD’s experts and contractors. The questions are reviewed by the international contractors and by participating countries and economies and are carefully checked for cultural bias. Only those questions that are unanimously approved are used in PISA. Further, before the main test there is a trial test run in all participating countries and economies. If any test questions prove to have been too easy or too hard in certain countries and economies, they are dropped from the main test in all countries and economies.

Jadi, pertanyaan yang dibuat oleh PISA bisa dibilang independen, dan niatnya khusus untuk mengetahui kapabilitas manusia-manusia di bumi ini.

Hasil tes PISA Indonesia

Sebelum masuk ke hasil yang Indonesia capai pada tahun 2015, saya ingin menjabarkan definisi yang ditetapkan oleh tes PISA terhadap kategori Reading, Mathematics, dan Science, disadur dari laporan PISA (hal.28) (Laporan PISA 2015)

  • Reading literacy (kemampuan membaca): Adalah kemampuan siswa untuk memahami, menggunakan, dan merefleksikan teks tertulis dengan tujuan untuk mencapai tujuan (goals), mengembangkan potensi dan pengetahuan, serta terlibat di masyarakat

 

  • Science literacy (memahami ilmu pengetahuan): Adalah kemampuan siswa untuk memahami hal-hal saintifik, serta dapat menggunakan ide dan teori saintifik sebagai alat untuk diskusi dan refleksi. Siswa dengan science literacy yang baik dapat berdiskusi dan mau terlibat dalam diskusi yang menggunakan metode-metode saintifik, termasuk dalam menjelaskan fenomena-fenomena, interpretasi data, dan memberikan bukti secara saintifik*. NB: Saintifik bukan berarti berkaitan hanya dengan Fisika, Matematika, dan Kimia.

 

  • Mathematical literacy (keterampilan matematika): Adalah kemampuan siswa untuk menggunakan, menginterpretasikan, serta merumuskan matematika dalam konteks yang berbeda-beda. Termasuk pula, berargumen dengan dasar matematika serta menggunakan konsep, alat-alat, fakta, serta prosedur matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi sebuah fenomena.

 

Untuk mendapatkan data komprehensif, PISA juga membagikan kuesioner tambahan untuk mengetahui informasi kontekstual dari mulai latar belakang siswa, keadaan keluarga, besar ruang kelas, hingga aspek terkecil seperti motivasi siswa, cara belajar, dan kebiasaan siswa.

Berikut adalah tabel lengkap mengenai hasil dari PISA 2015

45

Indonesia berada di urutan 9 dari bawah, persis di bawah Yordania. Jika dilihat dari data yang ditampilkan, dari sejumlah siswa Indonesia yang diikutsertakan dalam tes PISA, hanya 0.8% yang merupakan Top Achievers (Mencapai level 5 atau 6 pada satu atau lebih subjek) dan 42.3% merupakan Low Achievers (Tidak melewati level 2 pada semua subjek). Artinya, siswa Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara-negara lain.

Tetapi, untuk kebahagiaan, siswa Indonesia paling bahagia berada di sekolah menurut laporan PISA 2012

 

Lalu, apa salahnya?

Sayangnya, paling bahagia tidak menjamin seorang siswa untuk menjadi top achievers.

Semasa kuliah, saya merenungkan pilihan-pilihan saya dan apa yang telah terjadi semasa saya SD hingga SMA. Saya merasa ‘banyak yang kurang’ dari diri saya sendiri. Dulu, waktu SMA, saya pernah bercita-cita ingin jadi Tony Stark dari Indonesia, bisa punya perusahaan mobil, bisa bikin Iron Man, dan lain-lain. Masih hangat di otak saya bagaimana saya di SMA termotivasi gila-gilaan karena film Iron Man, saya dibuat cinta fisika karena film itu.

Beberapa minggu setelah menonton Iron Man, saya mengajak beberapa teman kelas yang pintar di fisika untuk membuat proyek, membuat baju exoskeleton a la Iron Man. Saya bertanya tentang gigajoule, tentang listrik, dan banyak hal lagi. Membuat sketsa baju Iron Man yang bisa melakukan hal apapun.

Namun, impian saya mulai patah ketika saya mulai tidak paham fisika. Di SMA, saya masuk jurusan IPA, beberapa kali mendapat nilai yang cukup memuaskan di fisika, kimia, dan biologi pula. Namun saya merasa ada yang kurang dari pemahaman saya. Tapi pada waktu itu, saya tidak tahu sama sekali apa yang kurang.

Lulus SMA, layaknya siswa pada umumnya, saya mencoba peruntungan dengan ikut serta dalam tes untuk masuk universitas negeri, pilihan saya jatuh ke Universitas Indonesia waktu itu. Pilihan pertama? Teknik mesin. Seingat saya, untuk memperbesar peluang masuk, sayapun memilih beberapa jurusan dengan ‘sedikit peminat’. Mengetahui kalau jurusan akan menjadi tanggungjawab saya dan pilihan karir, saya memilih jurusan seperti Arsitektur Interior, Metalurgi, dan Fisika yang seingat saya menyediakan banyak bangku kosong.

Sayangnya, saya tidak berhasil.

Saya kecewa bukan main waktu itu. Bertanya-tanya kenapa saya tidak bisa masuk UI? Hingga akhirnya saya coba evaluasi diri beberapa waktu kemudian dengan melihat soal-soal tes SIMAK UI. Awalnya saya merasa mengerjakan sesuai dengan rumus yang diajarkan. Sesuai dengan apa yang saya hafalkan sewaktu les.

Lama-lama, saya mengerti kalau sebenarnya saya tidak mengerti. Tapi hafal.

Ayah saya sering bilang:

Belajar itu ukurannya ‘paham’, ‘ngerti’. Ibaratnya, kalau kamu lihat gelas, mau dibolak-balik kaya apapun, kamu paham itu gelas. Tapi kalau hanya hafal, gelas kalau kamu lihat dari bawah cuma lingkaran. Kalau kamu lihat dari samping kaya silinder.

Mulai dari sinilah letak kesalahan saya sadari.

Kesalahan 1: Siswa diajarkan untuk ‘hafal’. 

Dulu, kami di sekolah diberikan segerombolan rumus-rumus dan cara cepat mengerjakannya. Termasuk di bimbingan belajar. Saya hanya tahu kalau rumus gravitasi adalah F= GxMm/r2. Tapi kenapa bisa begitu? Tidak tahu. Inipun terjadi di beberapa mata pelajaran lainnya. Dan ‘Cara cepat’ adalah hal yang menurut saya jelas terlihat kalau pelajaran tersebut diajarkan untuk dapat lulus Ujian Nasional. Kalau tidak, kenapa harus ada cara cepat

Kesalahan 2: Banyak jargon (istilah).

Ini pengalaman pribadi saya, jadi mungkin tidak berlaku untuk beberapa siswa. Saya tipe orang yang untuk paham hal tertentu harus dikaitkan atau dianalogikan dengan hal yang sederhana. Jargon sendiri seringkali hadir tanpa diperkenalkan terlebih dahulu. Akhirnya, saya kebingungan mengaitkan jargon satu ke jargon lainnya. Contoh:

Ia [Newton] mengemukakan bahwa benda yang memiliki massa lebih kecil akan cenderung tertarik oleh benda yang massanya lebih besar, apel tertarik oleh bumi. Gerak tersebut diakibatkan gaya tarik apel kepada bumi jauh lebih kecil jika dibandingkan gaya tarik bumi terhadap apel. Fakta ini kemudian dikenal dengan hukum gravitasi newton. (Disadur dari rumus hitung)

Tulisan yang saya tebalkan, menurut saya mengandung jargon. Karena biasanya fisika dan beberapa ilmu eksak lainnya perlu imajinasi, kalau kata-kata semacam ‘apel tertarik oleh bumi’ saja siswa sulit mengerti, bagaimana bisa lanjut ke tahap selanjutnya? Biasanya, kalau saya mengajar adik saya atau beberapa teman saya, saya selalu kaitkan istilah-istilah semacam itu dengan praktiknya di dunia nyata atau analogi dengan hal yang lebih mudah dipahami. Hal ini memudahkan siswa untuk memahami konsep dan mengenali jargon.

Kesalahan 3: Nilai = tingkat kepintaran.

Ini mungkin sudah jadi rahasia umum, tapi kenyataannya masih saja ada hal seperti ini. Saya selalu prihatin kalau nilai dikaitkan dengan tingkat kepintaran. Padahal, jelas-jelas nilai bagus tergantung dari prosesnya. Terkadang, proses juga masih sering dicampuri faktor lain, kalau siswa sedang sakit? Kalau ternyata sedang ada halangan tertentu? Bisa saja nilai terpengaruh. Sayangnya, nilai masih jadi tolak ukur yang seakan bisa jadi alat prediksi kesuksesan seorang siswa.

Hal ini juga didukung faktor eksternal seperti orang tua, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Semuanya berputar membentuk siklus.

Orang tua —-> Lingkungan —-> Sekolah —-> Pemerintah/media —-> Orang tua

Orang tua ingin anaknya sukses. Itu pasti. Tetapi, takaran suksesnya kadang-kadang bergantung pula dengan lingkungannya, ada yang ingin anaknya punya nilai 100 semua, rapor bagus dan dapat penghargaan. Siapa yang memberi penghargaan? Sekolah. Akibat dorongan pemerintah dan media, yang secara langsung dan tidak langsung menetapkan standar tertentu bagi ‘anak berprestasi’ dan ‘pintar’, sekolah membentuk mindset sendiri bahwa anak pintar adalah yang sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah secara langsung dan media secara tidak langsung. Imbasnya, tentu kembali ke orang tua. Kebanyakan orang tua pasti merasa malu kalau anaknya mendapat nilai ’40’ atau ’50’ di rapor. Lalu siklus ini kembali terulang.

Kesalahan 4: Kurang motivasi

Saya teringat guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA, bu Anik Zubaida. Ketika seharusnya Bahasa Indonesia membosankan, bu Anik dulu sering cerita tentang hal yang tidak sepenuhnya terkait dengan teori yang diajarkan di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau malah bercerita. Saya lupa persisnya cerita tentang apa saja, tapi yang saya ingat betul, saya termotivasi untuk mulai menulis karena bu Anik. Dan bu Anik adalah salah satu guru yang meninggalkan imej ‘keren’ di otak saya.

Seperti halnya kejadian saya yang tergila-gila dengan fisika setelah menonton Iron Man, seharusnya ruang kelas tidak hanya dipenuhi oleh catatan dan papan tulis yang penuh serta LKS dan PR yang menumpuk. Siswa tidak hanya menjalankan hidup yang linear sekolah – kuliah – kerja – menikah, beberapa dari mereka mungkin akan hidup dengan cara yang tidak konvensional. Ada yang akan jadi aktivis, traveler, pebisnis, yang setelah sekolah akan menikah, dan lain – lain. Seperti yang saya alami, hampir 80% dari memori saya tentang sekolah hanyalah tentang teman dan pengalaman. Tidak semua pelajaran akhirnya digunakan, hanya sedikit. Lalu, kenapa harus memenuhi ruang kelas hanya dengan catatan?

Kesalahan 5: “Matematika itu mengerikan/ Skripsi itu mengerikan”

“Matematika itu susah!” “Gue benci hitung-hitungan!” “Sumpah gue takut entar skripsi enggak bisa!”

Itu adalah beberapa hal yang sering terdengar dari siswa dan mahasiswa di Indonesia. Mungkin di luar negeri pun begitu, hanya beda bahasa.

Buat saya sendiri, betul matematika susah, dan skripsi adalah hal yang cukup menguras otak. Tetapi, kenapa harus dijadikan ketakutan?

Saya rasa, ketakutan terhadap matematika dan skripsi terlalu berlebihan, hingga ke tahap siswa dan mahasiswa benci dan cenderung menghindari. Tidak hanya di matematika dan skripsi, tetapi beberapa subjek lain.

Kesalahan 6: Membaca & Menulis itu membosankan

Hal ini saya temukan di banyak teman dan lingkungan saya. Membaca rasanya jadi aktivitas yang membosankan, apalagi harus membaca buku tebal berbahasa Inggris. Di jurusan saya, Hubungan Internasional dulu, buku yang diberikan dosen tidak tanggung-tanggung tebalnya. Saya teringat di semester pertama ketika masih culun dan bau kencur, dosen Pengantar Hubungan Internasional saya memberikan buku Global Politics yang tebalnya kurang lebih 500 halaman dalam bahasa Inggris. Saya yang belum tahu apa-apa dulu cuma bisa menghela nafas.

Menulis juga. Tidak separah membaca, karena saya sering menemukan blog orang-orang yang berisi mulai curhatan pribadi hingga blog yang kelihatan untuk tugas. Untuk di tingkatan menulis santai atau cerpen, masih OK. Tetapi, untuk di tingkatan yang lebih tinggi, seperti menulis buku, belum begitu banyak.

Kesalahan Tambahan: Sinetron, YouTube, dan media sosial

YouTube dan media sosial sebenarnya berlaku seperti pisau bermata dua. Tergantung pemakainya menggunakan untuk apa. Tapi, di masa-masa seperti ini, ada banyak influencer dan YouTuber yang menggunakan daya pengaruhnya justru untuk membawa penonton (yang termasuk anak-anak muda) ke arah yang…. Cenderung salah.

Subjektif memang kalau berbicara tentang salah. Tetapi, menggunakan standar norma Indonesia, akhlak, dan kepribadian, saya rasa banyak yang salah. Anak-anak kecil menggunakan jari tengah sambil bernyanyi, misalnya.

Sinetron adalah yang terparah. Hampir tidak ada unsur positif selain hiburan (murah). Sinetron memperlihatkan adegan-adegan yang aneh dan jalan cerita yang itu-itu saja. Hujatan saya terhadap sinetron ada di tulisan saya yang lain. Tetapi intinya, sinetron bisa memengaruhi dan merubah penonton dengan usia muda yang belum sepenuhnya rasional.

Akibatnya, apa?

Akibat dari kesalahan-kesalahan itu (dan kesalahan lain yang belum saya temukan) adalah:

Akibat 1: Siswa/mahasiswa yang tidak berorientasi terhadap proses

Kenapa mencontek dan jual-beli kunci jawaban sering terjadi? Karena siswa panik. Dari satu sisi, mereka tidak mengerti materi yang diajarkan dan dari sisi yang lain, ujian sudah di depan mata. Mereka sadar kalau SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak akan membantu mereka lulus ujian atau Ujian Nasional. Jadi, secara rasional, mereka memilih alternatif yang paling simpel dan menguntungkan: mencontek.

Mencontek sendiri tidak semata-mata terjadi karena itu, ada faktor-faktor lain pula seperti karena memang malas, atau hobi. Tapi untuk tulisan ini, kita anggap faktor utamanya adalah karena kepanikan.

Gabungan dari Kesalahan 1, 2, dan 3 berakibat hal ini. Terutama karena “nilai” berbanding lurus dengan kepintaran. Saya selalu eneg ketika setelah masa-masa Ujian Nasional, sering ada berita tentang siswa yang dapat nilai Ujian Nasional tertinggi. Buat saya, berita semacam itu tidak ada pentingnya kecuali karena ekspos dan nama baik untuk sekolah. Akibatnya? Secara tidak langsung, orang-orang se-Indonesia menetapkan standar bahwa pintar adalah sama dengan nilai tinggi. 

“Proses” menjadi hal yang aneh. Padahal, di masa depan, siswa dan mahasiswa akan menghadapi “proses” untuk menjadi seseorang yang sukses. Kalau terbiasa dengan pola yang melewati proses, maka sulit bagi siswa dan mahasiswa Indonesia untuk menikmati proses yang panjang.

Akibat 2: Fixed Mindset, not Growth Mindset

Saya punya kutipan yang jadi pegangan saya. Dari Elon Musk “I think it’s possible for ordinary people to become extraordinary” (Saya rasa mungkin untuk orang biasa untuk menjadi luar biasa).

Mimpi saya banyak. Mulai dari ingin bisa membuat baju Iron Man, mengerti fisika, punya jet pribadi dan lainnya. Apa semua mungkin? Mungkin. Klise memang kalau bilang ‘tidak ada yang tidak mungkin’, tapi itu betul. Saya merasa kita sebagai manusia, terlepas dari faktor geografi, budaya, dan lainnya, punya kesempatan yang sama untuk punya mimpi tinggi.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap bahwa ‘mimpi’ seharusnya hal yang masih bisa dicapai.

Penganut kepercayaan tersebut memiliki pemikiran disebut dengan Fixed Mindset. Artinya, orang dengan Fixed Mindset percaya bahwa kemampuan yang dimilikinya adalah mutlak. Tidak bisa dikembangkan. Mereka beranggapan bahwa orang-orang sukses memiliki kemampuan yang dibawa dari lahir, sukses secara genetik.

Sebaliknya, Growth Mindset adalah orang yang percaya bahwa kemampuannya selalu bisa dikembangkan, dan “nilai” adalah sekedar angka. Mereka selalu merasa “bodoh” dan akhirnya mengembangkan kemampuan terus-menerus.

Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Pak Rhenald Kasali:

 Seperti yang pernah saya tulis pada kolom di Jawa Pos setahun yang lalu, manusia memiliki dua jenis mindset, yaitu growth mindset dan fixed mindset. Orang-orang yang memiliki settingan pikiran tetap (fixed mindset) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan mereka yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap dirinya “bodoh”. Baginya ijazah dan IPK hanya merupakan langkah kemarin, sedangkan masa depan adalah soal impak: apa yang bisa Anda diberikan atau dilahirkan.  Maka kepada mereka yang pernah belajar dengan saya selalu saya tegaskan, pintar itu bagus, tetapi impak jauh lebih penting.  Celakanya universitas banyak dikuasai orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah sehingga mereka terkurung dalam penjara yang mereka set sendiri, yaitu fixed mindset. Bagi mereka impak itu sama dengan paper, atau kertas karya, terlepas dari apakah bisa dijalankan atau tidak.

Hal ini bisa terjadi karena kurangnya motivasi yang diberikan oleh setiap ruang kelas. Kita terlalu dipersiapkan untuk menjadi ‘pekerja’, bukan manusia.

Akibat 3: Konflik karena kurang baca, kurangnya buku bagus

Hal yang paling ironis saya temukan beberapa hari lalu ada di artikel yang saya cantumkan di atas. Berjudul Indonesian kids don’t know how stupid they are.

Kalau Anda lihat bagian komentarnya, sangat penuh orang Indonesia yang berbahasa Inggris, dan Indonesia beramai-ramai mencaci maki judul tulisannya.

Ditambah lagi, ada yang pura-pura terlihat saintifik dengan menanyakan metode penelitian PISA, padahal sudah terjawab semua di laman website PISA dan OECD.

STUPID
Contoh 1
STUPID1
Contoh 2

Komen-komen tersebut membuat saya… Gemas. Pasalnya, mereka yang menantang judul yang menggunakan “STUPID” justru memperlihatkan diri mereka sebagai “STUPID”. Lebih parahnya lagi, mereka tidak teliti membaca sebelum berkomentar.

Kedua, buku bacaan di Indonesia yang kurang bagus. Untuk novel dan buku cerita lainnya, saya tidak meragukan karena memang banyak yang bagus. Tapi untuk buku-buku yang memberikan pengetahuan baru? Saya rasa masih jarang. Bahkan untuk buku pengetahuan non-fiksi saja, masih sedikit.

Contohnya, kebanyakan buku-buku yang memberikan pengetahuan baru berasal dari buku luar negeri yang diterjemahkan. Kita punya buku seperti teori manajemen, makroekonomi, tapi tidak jauh berbeda dengan buku teori pada umumnya. Yang saya maksud ‘pengetahuan baru’ adalah buku yang memberikan perspektif baru, istilah baru, temuan baru yang berguna untuk khalayak luas.

Di luar negeri, banyak buku-buku seperti itu. Contoh, Outliers oleh Malcolm Gladwell, How to Win Friends and Influence People oleh Dale Carnegie, dan lain-lain. Di Indonesia, buku seperti itu tergolong sedikit, makanya dihadirkan versi terjemahan dari buku-buku semacam itu.

Hal tersebut bisa jadi merupakan imbas dari Kesalahan 6. Akhirnya tidak ada penulis buku-buku yang seperti itu.

Solusinya apa?

Solusi 1: Guru/Tutor, anggaplah kalian menjelaskan sebuah materi kepada anak 5 tahun

“If you can’t explain it simply, you don’t understand enough” kata sebuah kutipan. Kutipan ini tidak hanya sekadar kata-kata kosong, namun justru menjelaskan hal yang benar. Saya beberapa kali menemukan hal serupa. Contohnya, salah satu pertanyaan di wawancara kerja Apple adalah “Bagaimana Anda menjelaskan RAM kepada anak umur 5 tahun?”. Contoh lainnya, jika Anda senang mengunjungi website Reddit, Anda akan menemukan forum yang berjudul “Explain Like I’m 5“. Sebagai tambahan, sebuah metode belajar bernama Feynman Technique pun menyarankan untuk menjelaskan ulang menggunakan istilah-istilah sederhana.

Seperti saya uraikan di atas, penggunaan jargon yang terlalu banyak dan sulit dipahami membuat siswa/mahasiswa sulit mengerti konsep bahkan yang ada di tingkatan dasar sekalipun. Akan lebih baik jika pelajaran dibuat seperti storytelling.

Solusi 2: Orang tua, anak-anak memiliki keunikan tersendiri, dan mereka bukan robot

Orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anak, itu pasti. Sudah hukumnya. Tetapi, kalau anak Anda dijadikan ‘alat’ untuk Anda agar mendapatkan predikat ‘orang tua hebat’ atau pujian lainnya dari lingkungan Anda, itu salah. Anak Anda punya keunikan sendiri yang mungkin Anda harus temukan perlahan, tidak semua anak bisa dan–yang terpenting–mau ikut ekskul tertentu atau menyukai pelajaran tertentu. Nilai jelek di satu pelajaran bukan berarti dia bodoh atau tidak mampu.

Anak mungkin tidak mau dipaksa, tapi kalau diberi motivasi dan support, anak pasti akan terdorong untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Solusi 3: Kurangi baca cerita sukses

Untuk takaran tertentu, membaca cerita sukses bisa memberi kita energi dan motivasi untuk melakukan hal-hal yang terasa mustahil. Tapi jika terlalu banyak, cerita sukses akan memberikan perasaan kalau kita semua pada akhirnya akan sukses. Sehingga, rasa ‘harus bekerja keras’ akan hilang.

Sebaliknya, bacalah banyak cerita gagal. Ketahuilah kalau semua orang bisa bermimpi, namun eksekusi lebih penting daripada sekadar mimpi. Kita harus sadar kalau dunia terus berubah dan persaingan semakin ketat karena kualifikasi yang dibutuhkan untuk sukses akan semakin ketat pula. 20 atau 30 tahun lalu, tidak diperlukan kemahiran Digital Marketing, sekarang? Sudah perlu.

Solusi 4: Waktu adalah tsunami

Rasanya baru kemarin Pak Jokowi terpilih jadi presiden. Tapi ternyata, itu sudah 3 tahun lalu. Rasanya baru kemarin BlackBerry merajai pasar ponsel pintar, tapi sekarang sudah tergantikan oleh Apple dan Samsung.

Semakin hari, waktu tidak terasa. Satu tahun bagaikan beberapa bulan saja. Hari ini, sudah bulan ke-8 di tahun 2017, sisa 4 bulan lagi. Apa yang sudah kita lakukan untuk berubah?

Perlu disadari kalau di saat kita sedang asik menonton TV atau memandangi berita Lambe Turah, orang lain sedang mati-matian membangun dirinya dan bekerja keras. Waktu adalah mata uang yang harus kita bayarkan setiap hari, kalau kita hanya gunakan untuk leha-leha, apakah kita tidak merugi?

Sudah banyak website atau aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan diri. Ingat, pengembangan diri tidak perlu dan tidak akan selesai dalam satu malam. Kita bisa sedikit demi sedikit membangun diri, kalau mengutip istilah Kaizen, hanya perlu lebih baik 1% setiap harinya. Bayangkan, kalau kita ada peningkatan 1% di diri kita setiap harinya, berarti 365% selama setahun!

Caranya? Cukup dengan baca dan belajar hal baru.

Kesimpulan

Kita sering mendengar ungkapan “Indonesia adalah bangsa besar!” atau “Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bangsa besar di tahun 20XX”. Sekilas, itu semua terlihat seperti prediksi. Bahwa Indonesia PASTI akan menjadi besar pada beberapa tahun ke depan.

Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi kalau masing-masing dari kita tidak berkontribusi atau berubah sendiri.

Saya gemas dengan apa yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia selama ini. Alasan mengapa saya menaruh “Indonesian (kids) don’t know how stupid they are” adalah karena itu memang yang terjadi. Saya mengurung (kids) karena tidak hanya anak kecil, namun kita semua.

Kita terjebak dengan cerita-cerita Indonesia berhasil memenangi olimpiade, jargon-jargon kalau Indonesia akan menjadi besar, bonus demografi, anak Indonesia pintar-pintar.

Di atas kertas, itu semua benar. Tapi pada praktiknya, saya sendiri tidak menemukan hal itu.

Saya mungkin tidak terlihat nasionalis karena tidak setuju kalau Indonesia berpotensi menjadi bangsa besar. Karena memang pada kenyataannya, untuk sekarang, seperti itu. Mungkin, jika tulisan ini berhasil menggugah pembaca, hanya dalam kurun waktu 1-2 minggu, atau bahkan hitungan hari, pesan tulisan ini akan pudar begitu saja.

Juga mungkin terlihat seperti orang yang “Cuma bisa kritik tapi enggak ada karya dan solusi”. Percayalah, solusi dan karya muncul dari observasi dan kritik.

Saya percaya Indonesia bisa menjadi bangsa besar KALAU hal-hal yang saya jabarkan di atas–dan beberapa hal lainnya–mulai teratasi. Hingga nanti, mungkin saya akan ada di satu barisan dengan Elizabeth Pisani.

Advertisements

Review(ID): Reply 1988

Review(ID): Reply 1988

 

screenshot-2017-02-15-07-30-23
Ssangmundong, bakal jadi tempat yang bikin sedih kalau kalian nonton drama ini

[SPOILER ALERT]

TL;DR, Gue sangat, sangat, sangat merekomendasikan drama ini bahkan untuk yang belum pernah nonton drama Korea sekalipun. Karena ceritanya yang sangat-sangat bagus dan sarat makna, kalau ada yang ingin nonton dan enggak mau tahu ceritanya duluan, cukup baca sampai sini aja. Totally recommended. You’ll know it in the first three episodes.

————————-[SPOILER STARTS BELOW]—————————

TENTANG REPLY 1988

Reply 1988 adalah sebuah drama yang bercerita tentang 5 orang teman beserta 5 keluarga yang tinggal di satu gang kecil di Ssangmun-dong, Seoul. Reply 1988 merupakan seri ketiga setelah Reply 1997 dan Reply 1994. Seperti judulnya, latar cerita di Reply 1988 berada di tahun 1988.

PENGHUNI SSANGMUNDONG

Keluarga Sung 

(Kiri atas: Sung Duk-seon, Kanan atas: Sung Dong-il (ayah), Kiri bawah: Sung Bo-ra (kakak Duk Seon, Tengah bawah: Sung No-eul (adik Duk Seon), Kanan bawah: Lee Il-hwa (ibu))

Sung Duk-seon (Lee Hyeri)

Perempuan yang paling males belajar, di sekolah rankingnya selalu di angka 999 dari 1000. Paling hiperaktif dari keluarga Sung.

Sung Dong-il (Sung Dong-il)

Kepala keluarga Sung yang kerja di bank. Selalu dimarahin istrinya karena suka mabuk kalau pulang kerja. Orangnya diam-diam perhatian sama anak-anaknya

Sung Bo-ra  (Ryu Hye-young)

“Kepala keluarga”, paling galak dan kerjaannya teriak-teriak, juga berantem mulu sama Sung Duk-seon. Kuliah di Seoul University, salah satu kampus paling bergengsi dan baik di sana.

Sung No-eul (Choi Sung-won)

Di umur 17 tahun, No-eul punya muka yang sama tuanya sama ayahnya. Paling sering dijadiin bahan bully oleh Bo-ra dan Duk-seon.

Lee Il-hwa (Lee Il-hwa)

Ibu dan istri yang cukup sabar ngadepin anak-anak dan suaminya. Paling sayang sama anak-anaknya.

Keluarga Kim

(Kiri atas: Kim Jung-hwan, Kanan atas: Kim Sung-kyun, Kiri bawah: Kim Jung-bong (kakak Jung-hwan), Kanan bawah: Ra Mi Ran)

Kim Jung-hwan (Ryu Jun-yeol)

Jung-hwan punya ciri khas yakni cuek. Seakan enggak peduli sama apapun di sekitarnya, tapi diem-diem, merhatiin sekitarnya dan perhatian.

Kim Sung-kyun (Kim Sung-kyun)

Tipe-tipe ayah yang paling demen sama dad jokes. Paling hiperaktif di keluarga Kim, kadang-kadang melankolis, kadang-kadang bijaksana.

Kim Jung-bong (Ahn Jae-hong)

Jung-bong adalah tipe orang yang polos dan gampang tertarik sama hal yang enggak bikin orang tertarik secara umum; rubik, ngumpulin perangko, jadi admin chatroom, atau bacain buku alamat. Hampir 7 tahun nyoba tes kuliah enggak masuk-masuk.

Ra Mi Ran (Ra Mi Ran)

Mi Ran ini pure emak-emak. Setiap hari kerjaannya teriak-teriak mulu, karena semua penghuni di rumahnya laki-laki dan rata-rata pemalas.

Keluarga Sung (Sun-woo)

(Kiri atas: Sung Jin Joo (adik Sun-woo), Kanan atas: Kim Sun-young (ibu), Bawah: Sung Sun-woo)

Sung Jin-joo (Kim Seol)

Jin-joo ini anak yang deket banget sama kakak dan ibunya. Kadang hiperaktif.

Kim Sun-young (Kim Sun-young)

Semenjak suaminya meninggal, Sun-young harus bekerja keras untuk hidupin anak-anaknya. Ibu yang perhatian sama anak-anaknya.

Sung Sun-woo (Go Kyung-pyo)

Tipe anak idaman orang tua; pinter, jadi ketua OSIS, dan sayang banget sama keluarganya.

Keluarga Choi

(Kiri: Choi Taek, Kanan: Choi Moo-sung (ayah))

Choi Taek (Park Bo-gum)

Pemain Go jenius, tapi untuk kegiatan sehari-hari, terlalu polos.

Choi Moo-sung (Choi Moo-sung)

Ayah Taek yang juga cuek dan hemat bicara, tapi diam-diam peduli sama sekitarnya dan kuat.

Keluarga Dong-ryong

 

(Kiri: Ryu Jae-myung (ayah), Kanan: Ryu Dong-ryong)

*Keluarga ini ada ibu dan kakak, tapi jarang terlihat

Ryu Jae-myung (Yoo Jae-myung)

Kepala sekolah dan ayah dari Dong-ryong. Orangnya strict dan galak, terutama ke Dong-ryong

Ryu Dong-ryong (Lee Dong-hwi)

Anak hiperaktif yang disebut counselor karena kebijaksanaannya dalam ngasih saran.

UNSUR FAVORIT

1. Ssangmundong Squad

answer20-01805b.jpg

 

Bagi kalian yang udah nonton atau akan nonton, ini adalah pemandangan yang bakal kalian lihat di setiap episode. Ada atau enggak adanya Choi Taek di rumah (karena dia sering pergi ke luar negeri untuk kompetisi Go/Baduk), Sun-woo, Dong-ryong, Jung-hwan, dan Duk-seon pasti akan ngumpul di tempat ini untuk nonton, makan ramen di panci besar, atau sekadar ngobrol-ngobrol dan curhat. Kelimanya juga punya hobi nginep bareng di rumah Taek, tidur di lantai pakai selimut.

Buat gue, pemandangan kaya gini bikin senang. Terutama karena hal kaya gini udah jarang ditemuin di era yang masing-masing udah pegang handphone. Boro-boro ketemu, chat pun kadang suka lama dibalas. Makanya, ngelihat adegan-adegan yang ngelibatin mereka semua, bikin rindu ngumpul sama teman-teman.

2. Parents’ squad

answer02-00321.jpg

Enggak cuma anak-anaknya aja yang rajin ngumpul, tapi orang-orang tuanya pun ikutan rajin ngumpul. Biasanya, para orang tua ngumpul di saat-saat ada perayaan besar atau biasanya, kalau Taek jadi juara atau sekedar menang kompetisi internasional. Mereka pun enggak ada canggung-canggungnya kalau ngomong satu sama lainnya, selain itu, perhatian yang mereka kasih ke satu sama lainnya pun besar. Di satu episode, ada cerita waktu Choi Moo-sung jatuh sakit dan akhirnya di rawat di rumah sakit. Para orang tua pun secara bergantian bawain makanan atau sekedar berkunjung, yang ibu-ibunya lebih care lagi. Terutama karena istri Choi Moo-sung sudah meninggal.

Di episode pertama, penonton juga disuguhin adegan ketika masing-masing keluarga tukar-tukaran makanan sehingga yang awalnya meja makanan satu keluarga cuma ada satu macam makanan, jadi punya 5 sampai 6 macam makanan. Buat gue, hal kayak gitu udah hampir susah ditemuin di sini.

3. The Ahjummas

answer11-00037

Kalau sekarang ibu-ibu bisa ngegosip ketika ada satu platform yang sama (WhatsApp atau… Tukang sayur), ketiga ibu-ibu ini bisa kapanpun ketemu dan saling mengunjungi. Cerita satu sama lain masalah keluarga masing-masing atau bahkan masalah personal. Ketika satunya ada masalah, dua ibu-ibu lain pasti langsung terjun ngebantuin.

Di satu episode, Kim Sun-young tiba-tiba ketimpa masalah karena rumahnya mau disita oleh bank. Sun-young diminta bayar 10 juta won dalam waktu dekat atau ia diusir. Ibu mertuanya (yang jahat, nanti akan tau background-nya), justru malah minta Jin-joo dan Sun-woo untuk dikirim ke rumah ibu mertuanya, dan Sun-young “tinggal di jalan”. Il-hwa dan Mi Ran enggak tinggal diam dan langsung cari bantuan. Mi Ran bahkan mau meminjamkan 2-3 juta won untuk membantu Sun-young.

3. Hubungan orang tua-anak tetangga

Meskipun enggak terlalu sering kelihatan, tapi hubungan antara orang tua dan anak-anak tetangganya juga patut diapresiasi, dua potongan adegan di atas adalah buktinya. Yang paling gue seneng adalah ketika lihat Duk-seon dan Sung-kyung salam aneh-aneh. Tapi pesan yang bisa diambil, jaman dulu orang tua dan anak tetangga itu dekat banget. Ayah gue, yang melewati masa-masa 1988 juga bilang kayak gitu. Dulu waktu ayah main ke rumah temannya dan kebetulan lagi enggak ada, ayah malah main catur sama bapak dari temannya itu. Kadang juga minta makanan.

4. The Complexes

Setiap orang punya masalah. Itu pasti, dan itulah yang ditonjolin oleh Reply 1988. Setiap karakter punya complex-nya masing-masing. Masalahnya pun beragam dan enggak hanya sebatas cinta-cintaan remaja, tapi masalah real yang sampai sekarang pun kita hadapi. Coba lihat potongan adegan ini:

Secara enggak sadar, gue sendiri belajar bahwa ini adalah masalah-masalah yang bakal gue hadapi nanti waktu jadi orang tua dan gue harus siap sama itu. Gimana nanti ngehadapin anak yang kena kasus, ngehadapin kepala sekolah karena anak berantem, nerima takdir kalau orang yang kita sayang meninggal, gimana harus berkorban supaya anak senang, dan lain-lain. It’s like we’re being taught to be a good parent.

5. The values

Berkaitan sama poin nomor 4, di setiap episode Reply 1988 pasti sarat nilai. Ditambah, setiap episodenya punya tema masing-masing. Gue inget di episode pertama, Ra Mi Ran (ibu Jung-hwan) agak sedih karena anaknya enggak cerita soal sekolah, pelajaran, atau hal-hal kecil ke ibunya. Pas Jung-hwan lagi belajar, Mi Ran diam-diam bilang ke Jung-hwan kalau dia juga kepingin Jung-hwan cerita ke ibunya. Setelahnya, Mi Ran peluk anaknya secara awkward.

Ada juga episode yang nunjukkin kalau di balik hebatnya seorang ayah, yang enggak ada takut-takutnya ngadepin apapun, punya ketakutan juga.

6. Quotes

Banyak banget quotes-quotes yang bisa kalian jadiin status media sosial atau sekedar diinget, ini beberapa favorit gue:

“Dads don’t automatically become dads the moment you’re born because it was my first time being a dad” -Sung Dong Il-

“Adults keep it bottled up, adults feel pain too. They were too busy being adults and acted strong because of the pressure that came with their age.” -Duk Seon-

“Sometimes it’s okay to be deluded – if you can make your mother happy by making her think her cooking is good” 

“Adult-like child is just one without complaints, They’ve acclimated to the world of adults and they’ve grown used to the illusions around them. Adult-like child is just… a child.”

“Even when I’m at the age to be a mother, my mother always be my guardian angel. Calling her by the name Mom is something that has the power to tug at my heartstrings. Mothers are always strong” -Sung Bo Ra-

“When one is at the age when one can console one’s mother, it’s when one has matured past being able to say ‘Thank You’ and ‘I Love You’. If one wishes to make one’s mother happy, the words ‘Mom I need you” is more than enough”

7. The plot

Karena mungkin hampir 90% drama Korea dipenuhi dengan cinta-cintaan yang, orang bilang, enggak realistis, jadi drama-drama sebagus ini pun kena imbas kalau isinya ya pasti cinta-cintaan juga.

Enggak salah, sih.

Tapi yang gue suka dari Reply 1988, adalah ceritanya yang seimbang. Bahkan, porsi cinta-cintaannya lebih sedikit dibanding friendship dan family. Inilah drama yang gue suka.

KARAKTER FAVORIT

1. Ra Mi Ran

reply-1988-ra-mi-ran

Ra Mi Ran ini punya charm baik di dalam peran maupun sebagai Ra Mi Ran asli. Gue hanya fokus di Reply 1988, ya.

Kenapa Ra Mi Ran jadi karakter favorit gue nomor 1? Karena selama berepisode-episode, gue ngeliat segala ekspresi Mi Ran dari sedih, teriak-teriak, ketawa-ketawa, sampai gokil. Gue dibuat ketawa ngakak karena kelakuannya yang aneh-aneh, dibuat sedih karena dibalik mukanya yang garang dan galak ke keluarganya, Mi Ran juga bisa pecah nangis waktu Jung-bong mau dioperasi. Di depan Jung-bong, Mi Ran bilang kurang lebih “yaelah, operasi kecil doang gak sampe sejam! Udahlah! Enggak usah dipikirin! Mending makan aja! , tapi waktu tengah malam, ngeliat anaknya, Jung-bong lagi tidur dan ketakutan karena mau operasi, dia nangis sesegukan di ruang lain karena sebenarnya dia juga takut. Di sisi lain, Ra Mi Ran juga–di antara ibu-ibu–bisa jadi orang yang bijak dan suportif.

Gue rasa, kita bisa sayang (in terms of friendship, ya) sama orang kalau kita udah lihat semua ekspresinya. Di sini, gue ngerasa Ra Mi Ran kaya ibu beneran.

2. Sung Bo-ra

cc44f4395688f3c4a3f2270275697865e3180731_hq

Hampir karena alasan yang sama dengan Ra Mi Ran, di drama ini kalian bakal dilihatin macam-macam ekspresi dari Bo-ra. Di episode 1, gue yakin kalian akan benci banget sama perempuan ini. Tapi lama kelamaan, Bo-ra nunjukkin sikap hangatnya dan diam-diam perhatian sama keluarganya.

Di episode-episode sebelum terakhir, kalian akan lihat Bo-ra yang bener-bener sayang sama keluarganya dan itu yang bikin gue senang lihat Bo-ra. Di balik teriak-teriak “Lo mau mati!?”, dia bisa nangis dan bikin orang tuanya sadar kalau mereka beruntung punya anak kaya Bo-ra.

3. Sung Sun-woo

rep

Sun-woo mungkin adalah karakter yang paling relatable buat gue. Because I was once in his shoes that I can relate to all of his thoughts. Dia sayang ibunya, sampai-sampai, enggak tega dan bisa nangis karena ngelihat ibunya kerja untuk dia. Sun-woo juga sayang banget sama adiknya, Jin-joo, yang bahkan tiap hari dia ajak main dan suapin kalau lagi makan. Dia juga paling enggak mau ngerepotin ibunya dan kalau bisa, dia yang bantu ibunya.

FINAL THOUGHTS

Keputusan gue untuk copy Reply 1988 dan nonton pelan-pelan adalah keputusan yang baik. Selama nonton drama ini, gue enggak bisa berhenti ketawa, senyum, bahkan pada satu waktu, ikut nangis. Karena memang sangat relatable dan mengenai keluarga.

Di drama ini, gue ngerasain bener lari dari dunia nyata dan seakan tinggal di Ssangmundong bareng sama mereka-mereka ini. Karena, kehangatan antarkeluarga dan antarteman udah jarang banget dirasain di jaman kayak sekarang. Dulu gue punya teman kecil yang rumahnya dekat juga, hampir mirip Ssangmundong. Kami tinggal satu kompleks dan setiap hari ngunjungin rumah masing-masing untuk nongkrong, nonton, atau main. Berkat Reply 1988, gue keinget masa-masa itu. Meskipun sekarang udah pada mencar. Dulu juga gue punya keluarga besar yang selalu ngumpul di waktu-waktu tertentu, tapi karena sekarang sibuk masing-masing, ngumpul jadi jarang.

Buat gue, drama ini enggak hanya bagus, tapi juga menyinggung dunia hari ini. Kita terlalu sibuk dengan handphone masing-masing sampai-sampai interaksi antarmuka jarang terjadi. Kita lebih sibuk dengan dunia masing-masing. Di Reply 1988, TV hanya ada satu, belum ada internet atau handphone. Itu yang bikin interaksi antarmereka kuat.

Dengan selesainya gue nonton Reply 1988, gue ngerasa kosong. Padahal, hampir setiap minggu gue ngerasa ada di tempat itu.

Sangat, sangat, sangat, sangat direkomendasikan.

Thank you, Ssangmundong.

reply-1988.jpg

Seberapa Berbedakah Sinetron Indonesia dan Series Luar Negeri?

screenshot-2017-02-10-11-40-34screenshot-2017-02-10-11-40-48screenshot-2017-02-10-11-42-02

(Disadur dari Line Today, “4 Sinetron Sinemart ini Segera Tayang Serentak di SCTV”)

Sinetron adalah salah satu dari beberapa pemicu debat kusir setelah Kolom Detikcom, Politik, dan Young Lex.

Bisa dilihat dari gambar di atas. Ada pihak yang ingin ganyang sinetron (dengan argumen utama: merusak moral), ada pembela sinetron #1 (dengan argumen utama: “enggak usah ditonton ajasih!” dan emang karya lu apa?**“), pembela sinetron #2 (dengan argumen utama: “alah drama luar aja lebih parah kok!“), dan Mahatma Gandhi kw-sekian (dengan argumen utama: berbahasa baku), terakhir, penyedia fakta (argumen utama: bau data).

**Argumen yang paling mudah ditemukan di setiap kritik di Indonesia

Meskipun berkali-kali saya berpikir objektif tentang sinetron, memang sulit ditemukan. Tapi saya jadi penasaran membandingkan antara sinetron Indonesia, drama Korea, dan series TV Amerika/Inggris. Ketiganya sudah pernah saya jajal, jadi kurang lebih tahu di mana letak perbedaannya.

1. Cerita

Cerita adalah salah satu struktur paling penting dari sebuah series/sinetron/drama. Dengan cerita, kita tahu si A itu siapa, B itu siapa, C apanya A & B, dan ke mana mereka bertiga nantinya? Selain itu, hampir 90% penentu bagus atau enggaknya sebuah series/sinetron/drama ditentukan dengan ceritanya yang bikin penasaran. Salah satu sinetron Indonesia yang paling berkesan ceritanya adalah–saya yakin semua setuju–Keluarga Cemara. Dibantu dengan lirik lagu “Harta yang paling berharga, adalah keluarga….” plus cerita yang jauh dari “lo-gue” atau mobil-mobil mentereng, Keluarga Cemara jadi salah satu sinetron favorit sepanjang masa.

Sayangnya, sekarang jarang kelihatan lagi sinetron yang mbahas soal keluarga secara mendalam. Malahan, yang kita temui sekarang isinya tentang anak yang–enggak tahu gimana caranya–bisa ketukar (apa admin rumah sakitnya mabok?), balapan di jalan (padahal di 86 Net TV udah pernah ketangkep itu balap liar), dan…

hqdefault
Hello Kitty rebus.

Lalu intinya, selalu tentang cinta lagi, cinta lagi. Dengan porsi yang enggak ketulungan besarnya.

Memang enggak bisa dipungkiri kalau cerita cinta bisa jadi daya tarik utama untuk narik penonton. Overall, love is what we longing, right? Tetapi, harusnya porsi cerita cintanya bisa dikecilkan atau dibalut dengan cerita yang unik.

Hal itu yang saya temuin beberapa drama Korea dan series Amerika/Inggris. Reply 1988 adalah salah satu drama Korea yang punya kesan paling baik buat saya. Dibanding fokus dengan adegan cinta-cintaan dan unyu-unyu, drama ini fokus ke hubungan antara 5 keluarga yang tinggal di satu gang kecil di Ssamundong. Tradisi-tradisi berkumpul di satu rumah, tuker-tukeran makanan antarkeluarga jadi satu hal yang bikin saya jatuh cinta sama drama ini. Sementara itu di series Amerika, ada How I Met Your Mother dan Friends. Meskipun saya belum nonton Friends, tapi How I Met Your Mother dan Friends pun fokus terhadap hubungan masing-masing karakter yang diselingi dengan adegan-adegan yang enggak selalu mengarah ke cinta.

2. Akting

Selain cerita, akting juga jadi salah satu faktor yang menentukan bagus atau enggaknya sebuah sinetron/drama/series. Ibaratnya, cerita itu rumah dan akting adalah gerbang masuknya. Kalau gerbang masuknya udah sengeri rumah-rumah di film horor, apa berani kita masuk dan lihat isinya (kecuali Harry Pantja dan kru Dunia Lain)?

Dalam observasi saya, akting enggak hanya meliputi gimana seorang aktor melakukan sebuah adegan, tapi ekspresi, gestur, sampai intonasi pun masuk ke hitungan.

Coba kita lihat adegan marah dari tiga scene:

Ini salah satu adegan dari Reply 1988:

Dan ini dari Anak Jalanan:

Plus, dari Whiplash:

See the difference?

Inilah kenapa akting penting. Selain jadi pilar untuk cerita dan keseluruhan film/series/drama/sinetron, dari akting, kita sebagai penonton juga bisa ikut mengalami naik-turun emosi bersamaan dengan protagonis. Di sisi lain, kita juga bisa ikut merasakan kerentanan (vulnerability) dari aktor dan peran yang diperankan. Kalau tidak begitu baik aktingnya, sulit bagi penonton untuk merasakan rollercoaster of emotion, apalagi paham ceritanya.

3. Sinematografi

Saya enggak tau banyak soal sinematografi, tapi definisinya:

“Seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab semua aspek Visual dalam pembuatan sebuah film. Mencakup Interpretasi visual pada skenario, pemilihan jenis Kamera, jenis bahan baku yang akan dipakai, pemilihan lensa, pemilihan jenis filter yang akan dipakai di depan lensa atau di depan lampu, pemilihan lampu dan jenis lampu yang sesuai dengan konsep sutradara dan cerita dalam skenario. Seorang sinematografer juga memutuskan gerak kamera, membuat konsep Visual, membuat floorplan untuk ke efisienan pengambilan gambar. Artinya seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab baik secara teknis maupun tidak teknis di semua aspek visual dalam film.”

Artinya, aspek-aspek yang enggak kelihatan pun berpengaruh. Kalau kita lihat dari contoh adegan di Reply 1988 dan Anak Jalanan, ada perbedaan jelas antara kedua adegan tersebut.

Di adegan Reply 1988, kita bisa lihat perbedaan letak ambil (angle), ada berapa kali buram (blur), dan kamera yang agak bergetar waktu Duk Seon mulai marah, dan enggak banyak zoom.

Sementara di Anak Jalanan, pergerakan kameranya enggak beragam. Kalau enggak zoomin/zoom-out, ya dilambatkan (slowmotion)Jadi emosinya enggak terlalu ketangkap.

Contoh lain, ada di series Inggris, Sherlock. Coba perhatiin adegan ini:

Mirip seperti Reply 1988, ada beragam pergerakan kamera dan enggak hanya itu-itu aja.

4. Poster

Ini adalah salah satu masalah estetika yang menurut saya pribadi, mengganggu banget. Poster untuk promosi seharusnya dibuat semenarik mungkin dan semisterius mungkin, supaya penonton penasaran.

Caranya? Banyak. Pakai karakter tulisan (font) yang berbeda-beda, angle-nya dimainkan, warna latar, dan lain-lain. Coba bandingkan tiga poster berikut:

 

(Kiri ke kanan: Reply 1988, Sherlock, Ganteng-Ganteng Serigala)

Ada perbedaan yang kontras dari ketiganya, kan? Di dua poster di sebelah kiri, misalnya, semua pemeran terlibat di satu foto dan punya ekspresi yang sama. Sementara untuk GGS, terlihat edit-annya kurang rapih dan…. itu serigala di belakang untuk apa? Coba kalau poster GGS dibuat lebih simpel, satu klub serigala (atau apapun lah…) berdiri di satu lorong sekolah pakai jas khas keserigalaannya dan difoto dari tengah? Bakal lebih bagus.

Dan penggunaan font kurang pas di poster GGS, sayangnya. Belum lagi beberapa karakter di posternya warna kulitnya jadi beda-beda.

Kesimpulan

Tulisan ini intinya emang mau memojokkan sinetron Indonesia atas kemonotonannya dan kurang menarik. Banyak aspek yang kelihatannya dibiarin begitu aja tanpa dibuat bagus, alhasil, ya apa yang banyak orang lihat itu bisa dibilang karya seadanya. Agak kecewa juga banyak aktor yang bangga dengan pekerjaannya sebagai aktor sinetron. Bukan berarti semua aktor Indonesia jelek, sayangnya, aktor-aktor yang bagus dan senior seperti Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, Dian Sastro, Alumni The Raid, dan banyak lagi malah ketutup sama yang ngisi sinetron.

Sebenarnya, sinetron Indonesia bisa jauh lebih baik dari sekarang, coba baca Artikel ini, itu salah satu cerita di balik industri sinetron Indonesia. Intinya, penulis cerita sinetron enggak bisa disalahkan mutlak. Karena cerita sinetron dibuat sesuai kesukaan dan permintaan pasar (alasan saya buat tulisan Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?). Jadi, kalau ditanya seberapa beda antara sinetron, drama, dan series?

 

Jauh banget.

 

 

 

 

 

Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?

Dulu, pre-kuliah, buku yang paling seneng saya lihat (dan baca) adalah ensiklopedia buatan Time tentang dinosaurus, yang isinya 80% gambar, 20% teks. Ensiklopedia itu berjasa mengisi otak saya dengan pengetahuan tentang Allosaurus yang dielu-elukan sebagai saingannya Tyrannosaurus Rex. Diplocaulus (bukan DJ) yang kepalanya segitiga. Plesiosaurus yang lehernya panjang dan musuh paling ngeselin di Dino Crisis 2, dan lain-lain.

a1wyrmy1h6l
Kurang lebih begini bentuknya

Kuliah semester 2, saya mulai baca buku yang porsi gambarnya lebih sedikit dibanding tulisan. Mau tahu apa? Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw. Mungkin itu buku pertama yang saya baca dengan 217 halaman. Isinya sendiri enggak ada serius-seriusnya. Cukup miris juga, waktu itu hampir 18 tahun umur saya tapi enggak pernah baca buku selain Biologi Kelas 1 SMP/SMA. Paling mentok? Bagaimana Cara Menjadi Cepat Kaya Dengan Beternak Kecoak Madagaskar. Enggak deng, boong.

Setahun setelahnya, di semester 4, tepatnya tahun 2014, saya mulai baca-baca buku yang teksnya penuhin satu halaman dan tebalnya bukan main. Waktu itu, saya sering disuruh baca buku-buku hubungan internasional karena mahasiswa hubungan internasional senjatanya hanya baca dan nulis. Enggak gampang, karena terbiasa lihat gambar-gambar lucu, sekarang disajiin gambar korban perang dan paling mentok, diagram hutang luar negeri.

Pelan-pelan, saya mulai terbiasa baca buku-buku yang teksnya banyak karena terdorong kewajiban kuliah. Ditambah, saya enggak mau kuliah hanya untuk mejeng tanpa sadar duit orang tua udah kekikis. Jadi ya mau enggak mau harus baca.

Di tahun yang sama, portofolio buku bacaan saya mulai nambah pelan-pelan. Dari baca buku melankolis kaya The Fault in Our Stars, sampe buku filsafat seberat The History of Sexuality karya Michel Foucault. Banyak waktu saya mulai keambil untuk baca. Di TransJakarta, di kampus, di kelas, di rumah, dan termasuk, kamar mandi.

Salah satu sensasi yang paling memuaskan dari membaca adalah, perasaan masuk ke dunia dan pandangan orang lain.

masa sih? Itu kan cuma tulisan doang?”

Ada beberapa kutipan yang sejalan dengan apa yang saya bilang:

“A book is a dream that you hold in your hand.”

–Neil Gaiman

“Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light.”

–Vera Nazarian

“Great books help you understand, and they help you feel understood.”

–John Green

“A book is a version of the world. If you do not like it, ignore it or offer your own version in return.”

–Salman Rushdie

Sensasi yang paling kuat saya rasain waktu baca buku-bukunya Haruki Murakami. Murakami dikenal sebagai penulis yang karakter-karakter di bukunya selalu sendiri, pendiam, enggak tertarik dengan apapun, dan berlatar belakang agak sedih. Uraian kata-kata yang ia tulis selalu membuat saya rasanya ada di dalam dunia yang Murakami tulis, lengkap dengan suasana yang digambarkan oleh Murakami di setiap tulisannya. Dan ini adalah bagian yang paling saya suka dari membaca buku.

Oke, stop ngomongin tentang apa yang saya alami. Rasanya terlalu narsistik kalau ngomong tentang diri sendiri.

Di Indonesia, buku jadi salah satu hal yang paling ditakutkan. Kalau diurut, mungkin begini:

HAL YANG DITAKUTKAN MASYARAKAT INDONESIA

  1. Kecoak terbang
  2. “Ada yang pengen dibicarain”
  3. Anak Jalanan/Tukang Bubur Naik Haji tamat
  4. Buku
  5. Raffi Ahmad – Nagita Slavina cerai

Buktinya, ada di beberapa artikel ini The case of reading and preserving Indonesian literature90 persen orang Indonesia tak suka baca buku, dan Why Indonesians Don’t Read More Books.

Dari artikel di Jakarta Post, menurut studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di Amerika Serikat, Indonesia ada di urutan 60 dari 61 negara dalam minat membaca. Mau tahu di bawah kita siapa? Botswana.

BotswanaBot-swana. Bot-swa-na.

Bukan berarti Botswana jelek lho ya (meskipun masih sering ada gajah nyebrang jalanan), tapi, Botswana?

Hal itu yang bikin saya merasa agak miris, sebenarnya. Karena ketidaksukaan membaca ini ngaruh ke banyak hal.

Salah satunya, adalah kurang berwarnanya pemberitaan di Indonesia, terutama di kolom-kolom yang harusnya berisi berita menyenangkan.

Kita banyak juara olimpiade fisika, matematika, robotika, dan -tika -ika lainnya. Beberapa kali orang-orang kita dikirim ke luar negeri untuk belajar, ikut ini-itu, dan banyak lagi.

Tapi hanya sedikit dari pemberitaan di Indonesia yang meliputi anak-anak yang inovatif, kita pernah ditiup angin segar dengan hadirnya Esemka, baru-baru ini Pesawat N219 yang bakal mulai mengudara April nanti di Makassar.

Enggak sampai di situ, dulu kita punya Laras dan Luthfia yang berhasil membuat tusuk gigi pendeteksi boraks. Lalu ada juga senjata elektrik tanpa suara, penyaring udara dari kotoran sapi, canting batik otomatis, detektor telur busuk, dan lainnya. (Ini sumbernya)

Kemana itu semua?

Berita hari ini lebih banyak bicara soal Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji mau tamat, segala hal berbau “mantan” (Seriously guys, it’s overused.), om telolet om yang mendunia (selama beberapa hari), sampai Raffi Ahmad.

Kenapa?

Karena permintaan pasar. Media juga cari untung, dong. Alhasil berita yang dimuat harus bisa menjual ke orang-orang yang membaca dan menonton. Sejauh ini, berita yang dimuat terus-menerus soal artis yang selingkuh, dan politik yang enggak ketolongan bikin enegnya. Artinya? Orang-orang masih banyak yang menikmati hal-hal itu.

Ya, kita masih senang melihat Stefan William berakhir dengan Celine Evangelista, bukan Natasha Wilona. Dibanding khawatir dengan kondisi dunia yang begitu cepat berubah (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous (VUCA)).

Kita masih lebih sedih lihat Anak Jalanan tamat. Dibanding berpikir soal solusi macet Jakarta yang enggak ada selesai-selesainya.

Kita masih lebih tertarik dengan menghujat orang-orang yang sekarang lagi bermunculan di TV. Dibanding berpikir gimana cara jadi Steve Jobs atau Elon Musk selanjutnya.

Kalau melihat daftar 30 under 30 dari Forbes, saya suka minder sendiri. Seumuran saya rata-rata udah bikin produk yang seengganya mengubah hajat hidup orang jadi lebih mudah atau baik.

Minimnya niat membaca juga berpengaruh ke buku-buku yang dijual, karya orang Indonesia, di toko-toko buku terdekat.

Banyak tulisan-tulisan yang incredible. Eka Kurniawan, Tere Liye, Ika Natassa, Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, misalnya. Belum lagi kalau menghitung yang enggak keliatan di permukaan.

Sayangnya, buku-buku bagus ini seringkali ketutup sama buku-buku yang–dengan 900++ halaman–membicarakan soal iluminati, atlantis, Rothschild, dan buku-buku konspirasi lainnya.

Meskipun jumlahnya enggak keterlaluan banyak, tapi ini juga mencerminkan keinginan pasar yang cukup tinggi atas buku-buku senada Garut Kota Illuminati.

Buku-buku yang diterbitkan karena penulisnya terkenal pun marak. Jadi, kadang enggak perlu perhatiin kontennya, karena terkenal, ya pasti banyak yang beli. Jadi urusan konten urusan belakangan.

Selanjutnya, kurangnya minat baca juga bikin kita kekurangan bahan obrolan, referensi data, kesempatan untuk keliatan geeky, dan, enggak ganti-ganti candaan selain soal mantan dan om telolet om.

Kalau mau bukti, coba ketik “mantan” di Google. Hasilnya kaya begini:

screenshot-2017-02-08-11-49-24

Dan soal om telolet om, I hate to rain on your parade, but this is…… embarrassing.

screenshot-2017-02-08-11-54-38

Inilah kenapa kadang rentang waktu candaan kita lebih panjang…..

Selain itu, seperti dilansir di Harvard Business Review, dalam artikel berjudul The Business Case for Reading Novels, ada satu kalimat yang berbunyi:

It’s when we read fiction that we have the time and opportunity to think deeply about the feelings of others, really imagining the shape and flavor of alternate worlds of experience

Artinya, kalau kita mbaca buku (terutama fiksi), kita jadi bisa lebih memahami perasaan orang lain dengan menempatkan kita di posisinya.

Di satu media berita terbesar di dunia, Line Today, saya nemu satu berita yang berjudul “Pakai Apple Watch, Ketua MK: Jam Rp13 Juta Sudah Cukup”. Bagi warga Indonesia, komentar apa yang Anda kira akan muncul di kolom komentar? Ya, kurang lebih komentar yang bernada iri-ditutupi-sarkastik macam begini

Ayolah. Rp13 juta untuk jam buat sekelas pejabat eselon atas bisa dibilang masih murah. Nih ya, untuk referensi, salah satu merek terkenal yang biasa dipakai banyak orang-orang kelas atas:

screenshot-2017-02-08-12-12-44
dan ini barang second.

 

Jadi ya… Kalau ditanya Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar? Jawabannya bisa diambil kesimpulan oleh masing-masing dari sepotong uraian yang saya tulis di atas.

Saya sendiri belum begitu banyak baca buku, per buku saya bisa habis 3-4 minggu. Cukup lama, tapi masih bisa ditingkatkan. Warren Buffet, investor terkenal dan pemilik Berkshire Hathaway, setiap hari baca 500 artikel setiap pagi. Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt selama hidupnya baca lebih dari 2000 buku (itupun yang dia ingat), Steve Jobs pun terinspirasi dari buku (14 books that inspired Steve Jobs), begitu pula Elon Musk (The Transformative Effects of Reading + Elon Musk’s Reading List) (P.S. Elon Musk tahu cara bikin roket karena baca buku).

Mengambil kutipan dari salah satu artikel di atas, yang diambil dari penulis Nora Ephron di buku “I Feel Bad About My Neck”

“Reading is everything. Reading makes me feel like I’ve accomplished something, learned something, become a better person. Reading makes me smarter. Reading gives me something to talk about later on. Reading is the unbelievably healthy way my attention deficit disorder medicates itself. Reading is escape, and the opposite of escape; it’s a way to make contact with reality after a day of making things up, and it’s a way of making contact with someone else’s imagination after a day that’s all too real. Reading is grist. Reading is bliss.”

Ada polanya.

*N.B: Saya bukan lagi mahasiswa politik, tapi mantan. Tidak lagi saya terlalu tertarik sama dunia politik. Jadi komentar saya ini tidak akan membahas sampai ke jeroan karena khawatir ada salah informasi yang bisa berakibat bahaya.

Remaja menuju ke dewasa, umur-umur 14-25 tahun mungkin lagi senang-senangnya komentar sana-sini. Apalagi ada sosial media, dan kita yang berumur segitu pun lagi senang-senangnya (enggak sengaja) baca berita yang muncul sekelibat di sosial media kita.

Berita soal Aurel operasi plastik, Donald Trump terpilih, soal pilgub, ini, itu, dan lain-lain. That’s why kolom komentar di website berita banyak penuh sama komentar-komentar, meskipun enggak semuanya remaja-dewasa.

img_1058
Kurang lebih begini

Ini adalah bagian dari tumbuh dewasa, jadi wajar. Enggak jauh, setahun lalu pun, gue masih suka komentar sembarangan karena merasa bisa paling benar dan pintar. Dulu, dalam hati rasanya kepingin sumpah serapah di depan muka mereka karena komentarnya yang–gue rasa–bodoh. Makanya kolom komentar terus penuh, apalagi untuk isu-isu yang gampang di-google dan muncul di mana-mana, pasti deh, ada komentar yang nadanya begitu.

Political fiasco yang lagi terjadi di Jakarta contohnya. Coba kalian main ke detikcom, lihat berita yang ada kaitannya dengan Pilgub DKI 2017, pasti komentarnya lebih dari 100. Isinya? Subjektif. Bantah sana-sini, ngatain sana-sini, semua binatang keluar, macam-macam.

capture33
Bener kan? (Sumber: detikcom)

Kejadian semacam ini enggak terjadi sekali-dua kali, dan enggak terjadi hanya di Indonesia. Di luar negeri, kolom komentar bisa jadi arena bertarung untuk buktiin siapa yang lebih benar dan siapa yang salah.

Capture44.PNG

Hal ini wajar. Wajar dalam demokrasi sekarang-sekarang, wajar dalam dunia per-netizen-an, wajar dalam perbedaan pendapat.

Semua wajar sampai kalian liat isi dari perdebatan di atas. Di gambar ketiga, saya ambil komentar-komentar itu dari video The Western Media Is Being Paid Millions To Hide This Video! Putin Tells us a BIG SECRET!. Sebelum kalian judge saya kalau saya penyuka video-video yang konspirasi-global-ish atau yang berbau Garut Kota Illuminati, tunggu dulu. Saya punya pertanyaan untuk kalian renungin:

“Apa selama ini yang kalian tonton, baca, dengar, itu mutlak benar? Pernah kalian coba cari alternatifnya?”

Untuk pertanyaan itu, saya menjawab bahwa tidak semua yang saya tonton, baca, dengar adalah mutlak benar. Kecuali agama yang saya pegang. Saya batasi sampai situ.

Jika kalian juga berpikir sama seperti saya, bahwa apa yang telah dicekoki kepada kita tidak mutlak benar, maka kalian akan masuk ke sebuah alam pikiran yang isinya, akan skeptis dan terus kritis tentang sebuah hal yang dianggap “kebenaran”.

Dalam konteks ini, saya enggak bahas soal Pilgub DKI 2017. Melainkan video soal Vladimir Putin yang ini:

Di video ini, Putin kurang lebih bilang kalau sebenarnya ISIS adalah buat-buatan Amerika. Meskipun enggak blak-blakan, tapi itu poin yang dibilang Putin.

Saya percaya? 95 persen, ya.

Kenapa saya percaya?

Pertama, jangan dipikir bahwa “power” itu selalu berbentuk kekerasan. Terlalu sempit artinya. Kalau power hanya berbentuk kekerasan, untuk membuat orang patuh sama kita, jalannya hanya satu: hajar. Tapi power punya banyak bentuk lain, makanya, di jurusan hubungan internasional, dibagi menjadi beberapa konsep: soft power, hard power, smart power. Artinya, pukul-pukulan bukan hanya satu jalan.

Softpower dalam wikipedia:

Soft power is a concept developed by Joseph Nye of Harvard University to describe the ability to attract and co-opt rather than by coercion (hard power), using force or giving money as a means of persuasion. Soft power is the ability to shape the preferences of others through appeal and attraction. A defining feature of soft power is that it is non-coercive; the currency of soft power is culture, political values, and foreign policies.

“kemampuan untuk menarik dan bekerjasama dibanding kekerasan … kemampuan untuk membentuk persepsi untuk disukai melewati cara-cara menarik seperti melalui budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negeri”

Ada yang ingat video di tahun 2010 waktu Obama ke Indonesia dan bilang “Sate… Bakso…”? Itu salah satu softpower. Ada yang suka lihat kalau lagi Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, ada duta besar Amerika Serikat ngucapin di RCTI? Itu softpower. Tidak sebatas itu. Film seperti Avengers, Inception, Dark Knight, Home Alone, itu semua juga bisa jadi softpower. Karena memperkenalkan budaya dan nilai-nilai Amerika Serikat secara tidak langsung. Berpengaruh juga terhadap sifat dan sikap. Ragu? Cek ini: Media Effects Theory.

Artinya, media juga bisa jadi perpanjangan tangan dari power. Media yang membentuk persepsi, media yang secara tidak sadar, membuat kita punya pikiran tertentu. Media juga enggak harus media semacam CNN, Fox, TVOne, atau semacamnya. Tapi sesederhana Meme.

Ada yang pernah lihat meme ini?

86281788_0c02e424-070c-44a5-9c57-37064286c6ab

Model perempuannya, Heidi Yeh, hidupnya rusak sekarang karena disangka operasi plastik oleh orang-orang yang lihat meme ini. Reputasinya jadi negatif dan enggak ada yang mau kerja lagi sama dia. Basically, karirnya mati. (Plastic surgery meme ruined my life: Model Heidi Yeh reveals her regret over ad). Padahal, itu iklan kosmetik.

Dan itu cuma satu meme.

Sekarang bayangin Vladimir Putin, yang dapat label jelek di sana-sini karena sering berseberangan dengan Amerika Serikat. Kalau kalian google “Vladimir Putin” dan klik tab “Berita”, kalian bisa lihat segimana banyaknya berita yang headline-nya selalu bermakna negatif soal Putin.

So there we have it! Imej Putin yang buruk dan terpatri di otak.

Hal yang sama terjadi sama Donald Trump. Bedanya, Putin enggak ambil pusing dan diam. Trump malah berkoar-koar yang bikin api makin berkobar. Rencana untuk mengeluarkan muslim dari Amerika emang bikin sakit hati. Tapi tanpa disadari, adakah–atau banyakkah berita miring soal Hillary Clinton? Sedikit.

Hillary Clinton diduga didukung dan dibiayai oleh bank-bank besar di Wall Street dan juga media. Alhasil, kita tahu arahnya ke mana. Padahal, Donald Trump belum jadi presiden. Tapi banyak juga warga negara kita sudah mengecap bahwa Trump itu buruk.

Kebanyakan netizen sangat reaktif sama berita-berita semacam ini. Ada berita A, berita A dirubungin. Berita B? Langsung diserang. Berita C? Hajar. Tidak hanya di Indonesia tapi di luar negeri.

Kalau kita lihat upil dari mikroskop, tentu enggak kelihatan seperti upil. Tapi kalau kita lihat dari mata telanjang, itu jelas upil.

Ada pola-pola yang sering dilewatkan sama orang banyak. Karena terlalu reaktif melihat satu kejadian tanpa menyambungkan titik-titik lain yang ada kaitannya, supaya tahu kesimpulannya.

Pola-pola ini tentu enggak akan dengan sembarangan menampakkan diri, biasanya, pola-pola ini sembunyi. Atau, karena kita melihat dari dekat, pola ini enggak kelihatan. Makanya kalau di Sherlock Holmes, ada hal yang kayak gini:

2a1ea1f7e5cb6f634a2c39d30900a5b1.jpg

Fungsinya untuk mengaitkan satu kejadian sama kejadian lainnya agar kita paham dari sudut manapun. Enggak hanya reaktif di satu kejadian.

Pada akhirnya, video-video dan gambar-gambar tadi menunjukkan sesuatu; bahwa sebenarnya hal-hal di atas juga hanya bagian dari satu gambar besar yang masih jadi pertanyaan.

Tapi, pesannya adalah, jangan terlalu gampang menerima hal–apapun. Selalu koreksi, selalu introspeksi diri, selalu kritis.

Karena semua kejadian, ada polanya.

Review: Sabtu Bersama Bapak

Cast-nya dahsyat!

Beberapa bulan lalu, saya meminjam novel Sabtu Bersama Bapak ke salah satu teman saya, Dega, setelah berkali-kali liat orang bilang kalau novel karangan Adhitya Mulya ini bagus dan sangat relatable. Dari judulnya sendiri, “Sabtu Bersama Bapak”, kelihatan ada hal spesifik yang mau diceritain sama penulis novelnya. Turns out, betul. Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang dipimpin oleh pak Gunawan Garnida, ditemani ibu Itje Garnida, bersama dua anak laki-laki bernama Satya dan Cakra Garnida. pak Gunawan yang tubuhnya sedang digerogoti kanker, sadar kalau ia tidak akan bisa menemani anak-anaknya tumbuh dan mengajarkan hal-hal yang harus dipahami oleh laki-laki. Oleh karena itu, pak Gunawan membuat video dirinya yang berisi pelajaran-pelajaran penting untuk Satya dan Cakra dan menemani mereka hingga dewasa. Video ini ditonton oleh Satya dan Cakra bersama ibu Itje setiap hari Sabtu. Jadilah Sabtu Bersama Bapak.

Sedikit bicara soal novelnya, saya takjub banget sama gaya tulisan Adhitya Mulya yang ringan dan apa adanya. Saya baca bukunya enggak sampe 4 jam langsung selesai dilahap habis. Ceritanya juga relatable, dan enggak harus mikir berkali-kali untuk paham apa maksud tulisannya. Enggak cuma relatable dan ringan, tapi, banyak pelajaran yang bisa diambil terutama untuk para calon kepala rumah tangga yang kepingin jadi “Most Valuable Father” untuk keluarganya kelak.

Masuk ke filmnya, secara keseluruhan, filmnya more than just good. Saya suka pemeran-pemerannya, kelakarnya, ceritanya (meskipun ada yang diubah sedikit), dan tentu, Acha Septriasa + Sheila Dara Aisha.

Pluses:

  • Deva Mahenra is absolutely the MVP among the remaining casts. Aktingnya sebagai Cakra “Saka” Garnida perlu dikasih jempol banyak. Selama film diputar, hampir enggak ada satu scene yang gak bagus. Penyampaian candaannya juga enggak keliatan awkward atau maksain, adegan awkward-nya juga beneran keliatan awkward dan cringeworthy, adegan sedihnya beneran bikin sedih. What a roller coaster of emotions. Dan yang terpenting, Deva Mahenra dan Saka yang di buku sesuai banget.
  • Selain Deva Mahenra, Acha Septriasa also deserved a second-place MVP. Pemilihan Acha sebagai Risa di sini menurut saya tepat. Deskripsi Risa yang ada di buku sama di film cocok, dan emosi yang diperlihatkan juga enggak kerasa maksain. And damn, she speaks french.
  • Jennifer Arnelita, Ernest Prakasa, dan Mongol juga nambahin bumbu lucu film-nya. Mongol cuma muncul sebentar tapi efek bikin ketawanya panjang. Jennifer Arnelita (Wati) dan Ernest Prakasa (Firman) resenya sesuai banget sama di buku, rese bikin ketawa.
  • Yang jadi Ayu (Sheila Dara Aisha) beneran cantik.
  • Quotes-quotes-nya. Waktu nonton, saya bilang “Anjay moment” ke Aumita setiap ada kata-kata brilian nan edan. Kalau saya hitung, ada lebih dari 10 lah. Terutama: “Saya akan rindu masakan kamu nanti” “Kamu enggak rindu saya, mas?” “Adakah kata-kata di kamus yang melebihi kata rindu?” “Tidak, mas” “Kalau gitu, saya tidak bisa menjawab”. (Note: Laki-laki yang udah masuk umur rawan nikah, mending catet setiap kata-katanya. Siapa tau calon mertua senang (kalau udah ada)
  • Candaan the best-nya muncul:

“Pagi, Pak CakraPagi, WatiUdah sarapan, Pak?Udah, WatiUdah punya pacar, Pak?Diam kamu, Wati”

Minuses:

  • Sayang seribu sayang, Ira Wibowo sebagai ibu Itje Garnida kayanya sedih terus sepanjang hidupnya. Setiap ngomong nadanya melankolis, rasanya mau simpen tisu buat bu Itje. Kalau dibandingin sama bukunya, ibu Itje dalam bayangan saya adalah seorang ibu yang konyol-polos, baik luar biasa, dan enggak pernah keliatan sedih di depan anak-anaknya. Tipikal-tipikal ibu Hetty Koes Endang lah. Ibu Itje baru keliatan enggak sedih di adegan-adegan sebelum akhir. Dan seperti biasa, tipikal FTV, logat Sunda selalu terlihat dipaksain.
  • Sayang seribu sayang (2), saya rasa pemilihan Abhimana Aryasatya untuk jadi pak Gunawan Garnida kurang pas. Pertama, kalau mau disandingkan, umurnya Ira Wibowo dan Abhimana Aryasatya beda 15 tahun, lebih kelihatan kaya teman sebaya. I was hoping pak Gunawan would be portrayed by someone not that old, but looked damn wise. Saya rasa aktor kaya Tio Pakusadewo atau Ray Sahetapy cocok jadi pak Gunawan.
  • Gunther hanya disebutin. Di buku, Gunther adalah salah satu bule yang ikut-ikutan ngebercandain Saka, bareng sama Wati dan Firman lewat e-mail, yang sebenernya juga atasan Saka. Kalau ada, mungkin ketawanya bisa lebih pecah dari yang udah.
  • Rian & Miku di film enggak dikasih banyak ngomong. Tapi ini enggak masalah sih, terutama karena mereka aktor kecil. Cuma sedikit sayang aja. Akting mereka juga rada hambar, sayangnya.
  • Arifin Putra kurang total marahnya. Keliatan sedikit maksain.
  • The Last Shot. Mungkin ini gak ngeganggu banget, sih. Cuma buat saya ini cukup ganggu. Di scene terakhir, seolah ada rekaman yang ngeliatin keluarga Garnida dulu harmonis, anak-anaknya pak Gunawan memeluk pak Gunawan dan ibu Itje yang lagi tiduran. Scene ini niatnya mau ngeliatin kalau ada rekaman lain, jadi di layarnya seakan ada tampilan kamera kalau lagi ngerekam. Masalahnya, kalau di scene itu ada Cakra, Satya, ibu Itje dan pak Gunawan, yang ngerekam siapa? Masalah tambahannya, rekamannya bergerak dari luar rumah ke dalam. Apakah yang merekam adalah makhluk supranatural? Wahyudi? Jionis?

All in all, meskipun ada kekurangan, film ini sangat recommended untuk ditonton. 4/5

P.S: Jangan mentang-mentang judulnya berbau happy family, ngajak anak-anak tanpa tahu dulu ada candaan 18+ atau enggak. Jangan heran nantinya setelah nonton anak-anak nanyain hal yang….. you know lah.

Kebenaran yang salah; Kesalahan yang dibenarkan; Kebenaran yang disalahkan; Kebenaran yang benar.

Sounds catchy?

Syukur alhamdulillah kalau iya. Kalau enggak, mungkin saya harus banyak baca tulisan-tulisan nyeleneh lagi.

Dari mana judul ini muncul? Saya juga bingung, cuma kepingin njelasin apa yang ada di pikiran saya selama ini. Rasanya enggak sreg kalau enggak dibikin tulisan, keburu semrawut.

Tulisan ini niatnya hanya untuk direnungkan. Sama seperti makanan punyamu yang masih ada sisa di meja makan tapi lupa kamu makan–seharian bakal kepikiran. Apa nanti bakal dimakan adikmu, ayahmu, ibumu, kakakmu, atau kucingmu?

Tulisan ini juga sebagai alat latihan saya untuk mengolah pikiran. Kalau mau tahu, saya udah kepikiran ini dari semenjak kuliah semester 7 (setahun lalu, lah), tapi selalu susah dituangkan ke tulisan. Jadi kalau nanti agak membikin pikiran njelimet, ya maklumin lah ya…

Jadi begini….

Kuliah semester 4, jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina, saya diperkenalkan sama seorang bapak-bapak botak yang namanya agak susah dieja–Michel Foucault (Micel Fuko, bacanya). Saya pertama dikenalin sama tulisan-tulisan bapak botak ini di perkuliahan Teori Perbandingan Politik Luar Negeri yang diajar oleh mas Dodi Mantra. Yang diperkenalkan beliau pertama kali adalah mengenai analisa wacana (Discourse Analysis), kurang lebih maksudnya adalah melihat bagaimana suatu wacana (misalnya, lelaki sixpack dan berjanggut tipis itu gagah) bisa menjadi sesuatu yang diketahui (dan diyakini) oleh khalayak luas.

Ya kan? Siapa yang pertama kali bilang kalau laki-laki sixpack dan janggut tipis itu gagah? Akhirnya yang berperut bundlepack kaya saya disangka kurang gagah.

Awalnya sih, saya susah ngerti. Begitu ketemu dua prinsip Michel Foucault dalam pemikiran postmodernisme yakni power is everywhere” dan “distrust to who claims have a direct access to truth” atau kurang lebih “kekuasaan ada di mana-mana” dan “tiada yang memiliki kebenaran hakiki”, akhirnya saya ngerti. Ditambah mbaca tentang intertextualitas, atau kurang lebih maksudnya segala buku yang kita baca merujuk ke buku yang lain sehingga pengetahuan kita berasal juga dari pengetahuan orang lain, saya jadi semakin ngerti apa yang kepingin dibilang tokoh-tokoh postmodernis terutama om Foucault.

(Kalau belum ngerti intertextualitas, inget aja kalau apa yang kita tahu kebanyakan dari buku (yang dibuat orang lain) atau omongan orang (yang juga berantai dari orang lain))


Pikiran saya mulai kebentuk, pandangan saya terhadap orang-orang yang mengaku memiliki “kebenaran” semakin skeptis. Tetapi, saya tetap memberikan batasan bahwa yang memiliki kebenaran hakiki hanya Tuhan saya, Allah SWT serta kitabNya, Al-Qur’an. Kebenaran yang tidak hakiki hanya ada di dunia. Karena hal itu berkaitan dengan kepercayaan, semua bebas menginterpretasi masing-masing sesuai kepercayaan dan tidak “merusak” alur berpikir dari postmodernisme.

Lalu apa yang saya dapat dari mbaca semua jargon-jargon rumit di atas?

Saya bisa update lagi baca buku-buku yang judulnya keren di Path atau foto bukunya di Instagram.

Gadeng.

Saya jadi bisa lihat busuknya dunia ini, busuknya beberapa orang, busuknya sistem, busuknya kata-kata, busuknya banyak hal. Cukup mbikin saya stress, lho. Karena saya yang dulunya polos harus ketemu realitas sebusuk itu. Kepala saya gatel mulu tiap lihat orang komen membela yang (dirasa) benar tapi masih ada cacat logika; sedih kalau lihat hal yang enggak sesuai sebenarnya dan harapan saya, dan lain-lainnya. Tapi, hal-hal di atas juga membantu saya untuk makin hati-hati dalam berasumsi.

Contohnya,

Kita semua mungkin pernah punya satu teman di sekolah; di kampus; di kantor, yang selalu jadi bahan bully. Bahan gosip kalau lagi makan di kantin, referensi ejekan kalau kehabisan objek untuk diejek, dan lain-lain. Kadang kebencian itu menyebar lewat omongan, tanpa mau tahu sebenarnya orang yang di-bully itu sebenarnya kaya apa. Iya, betul. Cukup denger “lo tau gak sih itu si X? Badannya bau banget!” saraf-saraf di otak kita langsung nyimpen informasi dan langkah-langkah untuk menghindari si X ini. Padahal, bisa jadi yang ngomong bau itu karena mulutnya kedekatan sama hidung.

Itu contoh wacana/diskursus (Discourse). Kalau kata mas Dodi Mantra, hampir 80% pengetahuan kita terbentuk dari diskursus.

Contoh lain, semua takut sama kecoak (apalagi kalau terbang). Rasa takut sebenarnya subjektif, tergantung dulu kita ditakut-takutin apa kalau enggak mau belajar atau makan, pas masih kecil. Kalau kamu dibilang “ayo makan! Nanti dikejar kecoak!” kamu pasti akan takut kecoak. Kalau kamu dibilang “ayo makan! Nanti dikasih pak RT nih!” niscaya seumur hidup kamu enggak akan tinggal di kota.

Artinya, rasa takut dan rasa kesalnya kita terhadap si kecoak (terbang) dan si objek bully ini dibentuk oleh diskursus dan omongan orang. Which also happens in another subject(s).

Contoh di atas juga membenarkan apa yang dibilang om Foucault dengan “power is everywhere“. Yak, kekuasaan ada di mana-mana.

Kalau kamu kebanyakan baca detikcom atau pkspiyungan, kata “kekuasaan” pasti hanya ditujukan untuk para elit politik, presiden, gubernur, atau pak RT.

Padahal, emakmu juga punya kekuasaan. Bapakmu punya kekuasaan. Bahkan, kucingmu juga punya kekuasaan.

Ah masa, sih?

Siapa yang bisa bikin kamu bangun dari tidurmu yang (kelepasan) nyenyak dan mimpi makan bareng Maudy Ayunda? Emakmu. Kamu bisa digampar pake sapu lidi merek Maspion kalau bangunnya telat.

Siapa yang bisa bikin kamu melarat tujuh turunan? Bapakmu. Kalau blio enggak mau bayarin sekolahmu dan uang jajanmu sehari-hari? Game over.

Siapa yang bisa bikin kamu berdarah-darah kena cakar kalau enggak mau ngelus-ngelus? Kucingmu.

Itu baru kekuasaan berbentuk fisik, rek.


Kamu tahu dari siapa kalau 1+1 sama dengan 2? Gurumu. Tahu dari siapa kalau ternyata dulu ada konvensi antarcopet se-Jawa Barat? Koran (ini seriusan ada, lho). Tahu dari siapa kalau kentut di depan umum menyebabkan bonyok di sekujur badan? Masyarakat.

Nah itu contoh kekuasaan non-fisik..

Jadi, kekuasaan benar ada di mana-mana. Tinggal kita pintar-pintar ngeliat jaring-jaring kekuasaan itu.

Iya, terus kenapa?


Nah, sebentar dulu. Di lain kesempatan, mas Dodi Mantra sempat ngasih saya buku seabrek-abrek tentang postmodernisme dan konco-konconya. Di situ saya belajar tentang hubungan kekuasaan-pengetahuan (Power-Knowledge nexus) dan juga Biopolitics/Biopower.

Om Foucault bilang kalau kekuasaan dan pengetahuan punya hubungan, kalau ada orang punya kekuasaan, doi bisa memanipulasi pengetahuan agar kekuasaannya bisa diterima. Pengetahuan, juga bisa digunakan sebagai kekuasaan untuk memanipulasi. Contohnya ya media massa. Dulu saya pernah diwanti-wanti sama salah satu dosen di semester 2, “hati-hati jangan terombang-ambing sama media”. Karena media memiliki (dan diberi kekuasaan dengan dipercaya) kekuasaan untuk memproduksi pengetahuan berupa berita, yang dicerna oleh orang-orang.

Lalu ada Biopolitics/Biopower. Enggak banyak yang bisa saja njelasin dari sini. Tapi yang jelas, keberadaan peraturan tertentu, adanya penjara dengan serentetan kualifikasi buat calon narapidana, adanya batasan antara orang yang dibilang “sakit jiwa” dan enggak, adanya rumah sakit dan lainnya adalah bentuk kekuasaan biologis atau biopower agar kita menjadi manusia yang diinginkan oleh pemerintah/pembuat peraturan.

Kekuasaan-kekuasaan ini enggak selalu negatif, kok. Adapula yang bagus hasilnya, macam peraturan dan hukum yang berlaku sekarang. Karena ada hukum dan peraturan, orang-orang yang tadinya mau maling kepikiran kalau dipenjara 20 tahun, jadi urung niat.

Etetapi, kekuasaan-kekuasaan itu juga rawan untuk disalahgunakan. Meskipun tidak persis seperti jargon-jargon di atas, tapi skemanya bisa mirip.

Yang paling rentan adalah dalam konteks politik.

Sebelum saya jelasin,

Dari ribuan angsa putih, kalau ada angsa hitam, mana yang kamu lihat duluan?

Jawaban paling banyak pasti angsa hitam. Karena kalau kamu jawab angsa putih, kalau bukan enggak ngeliat angsa, kamu enggak tahu angsa itu apa.

Sama seperti kondisi politik sekarang: dari sejumlah pejabat politik yang korupsi, kalau muncul yang–cover-nya–bersih, jutaan persen pasti dipercaya. Pasti.

Setelah dipercaya karena terlihat bersih, lalu masuk ke tahap selanjutnya–cinta buta. Well, I guess you know how does it feel.

Seperti keju mozzarella yang sebenarnya enggak enak-enak amat, kalau dilihat dari lumernya yang nutupin makanan, siapa yang enggak jatuh cinta?


Tapi, enggak semua keju mozzarella sesuai harapan, rek. Dari 15 kali (perkiraan) makan keju mozzarella di Pizza Hut dalam bentuk pinggiran pizza, hampir 90% bersisa karena eneg.


Kurang lebih gambarannya gitu.


Ketika udah di tahap itu, siapapun yang berkata negatif siap-siap dihantam. Pasti.


Segala argumen yang meyakinkan logika pasti akan dikeluarkan.


Which leads us to the next step.


Argumen yang meyakinkan pasti diiyakan. Because it sounds like truth.


When our mind is convinced, our heart seemed to be happy with the statement, stop right there. Because you might fallen into argument trap.


Ini berpihak banget sih!


Karena topik sensitif, pasti akan dianggap begitu. Sama halnya dengan topik “agama/politik”. Karena sudah sangat menempel, akhirnya kalau nyentuh dikit, langsung dikaitin sama yang satunya. Gampangnya, kalau ada cowok/cewek mau deketin pacarmu, dan mereka ganteng/cantik, pasti disangka mau merebut pacarmu. 


Karena hal-hal ini sudah “dibenamkan” ke kepala kita tanpa disadari.


All those news, articles, what we read, what we listen, forms what we think.


Ditambah, semakin banyak yang percaya, semakin terlihat kalau itu benar. Itulah hukumnya.


Contoh,


**bukan menggeneralisir pengguna motor ya**


Kalau ada yang lagi naik mobil, baik pribadi atau umum, dan ditabrak motor. Siapa yang disalahin? Kemungkinan besar, yang naik mobil. Karena:

1. Terkesan orang kaya yang suka menindas;

2. Yang kasihan yang selalu benar;

3. Karena kasihan, semua bela motor, dan yang motor pasti menang karena banyak yang mbela.


Karena apa? Ya itulah diskursus yang terbentuk di masyarakat, itulah kepercayaan orang banyak.



Akhir kata, apa yang saya tulis di sini tidaklah berniat berat sebelah, postmodernisme pun tidak berlaku sebagai polisi moral, ia hanya menunjukkan jaring-jaring kekuasaan yang sedang berlaku. Karena moral dan pikiran orang relatif berbeda-beda.

Saya rasa banyak orang yang harus tahu betapa mengerikannya jaring-jaring kekuasaan tersebut, dibuat oleh orang yang jeli melihat peluang dan memang kondisi negara kita yang tidak pas.

Terakhir, saya hanya ingin berkata kalau semua kebenaran di dunia ini sifatnya relatif, kalau kamu enggak berpegang kepada satu hal yang pasti (dalam kepercayaan saya, Allah SWT dan Al-Qur’an) mustahil kita bisa berdiri stabil di antara ombak-ombak besar yang ada saat ini. Kalau kamu sudah yakin dengan apa yang kamu yakini sekarang, tulisan ini tidak berniat untuk mengubah jalan pikiranmu, hanya untuk direnungkan. 


Karena kebenaran bisa disalahkan, kesalahan bisa dibenarkan, banyak bisa jadi benar, kecil bisa jadi selalu salah.


Semoga bermanfaat.