Sebelum Anda marah-marah karena judulnya, biar saya jelaskan kalau ini adalah artikel yang dibuat oleh Elizabeth Pisani, seorang jurnalis dari Amerika Serikat yang berfokus kepada Indonesia, terutama untuk ilmu pengetahuan, politik, serta budaya.

(Ini tautan untuk artikel yang dibuat oleh beliau Indonesian kids don’t know how stupid they are)

Kesan pertama saya membaca judulnya cukup terkejut, bukan karena tersulut ingin marah, tapi karena keberanian yang dimiliki ibu Pisani ini. Saya tidak ambil pusing sama judulnya, karena saya tahu isi artikel dan faktanya memang mirip. Lagipula, hal ini pun didukung oleh tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation & Development), sebuah organisasi yang dibentuk untuk memberikan informasi bagi setiap negara yang berguna untuk dijadikan sebagai referensi kebijakan untuk kemajuan ekonomi dan kesejahteraan setiap manusia.

Sedikit tentang PISA

Tes PISA sendiri dilakukan 3 tahun sekali. Sampel yang diambil adalah anak-anak berumur 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih berdasarkan standar teknis yang ditentukan melalui proses quality assurance sehingga benar-benar harus sesuai dengan standar. Materi yang diujikan ada 3; Reading (membaca), Mathematics (matematika), serta Science (ilmu pengetahuan, tidak sebatas IPA). Saya kutip dari website PISA:

PISA focuses on the assessment of student performance in reading, mathematics and science because they are foundational to a student’s ongoing education. PISA also collects valuable information on student attitudes and motivations, and formally assesses skills such as collaborative problem solving and is investigating opportunities to assess other important competencies related, for example, to global competence.

Soal yang dibuat oleh PISA sendiri tidak murni menggunakan Bahasa Inggris, di salah satu pertanyaan FAQ (Frequently Asked Questions) ada kalimat yang berbunyi:

Participating PISA countries and economies are invited to submit questions that are then added to items developed by the OECD’s experts and contractors. The questions are reviewed by the international contractors and by participating countries and economies and are carefully checked for cultural bias. Only those questions that are unanimously approved are used in PISA. Further, before the main test there is a trial test run in all participating countries and economies. If any test questions prove to have been too easy or too hard in certain countries and economies, they are dropped from the main test in all countries and economies.

Jadi, pertanyaan yang dibuat oleh PISA bisa dibilang independen, dan niatnya khusus untuk mengetahui kapabilitas manusia-manusia di bumi ini.

Hasil tes PISA Indonesia

Sebelum masuk ke hasil yang Indonesia capai pada tahun 2015, saya ingin menjabarkan definisi yang ditetapkan oleh tes PISA terhadap kategori Reading, Mathematics, dan Science, disadur dari laporan PISA (hal.28) (Laporan PISA 2015)

  • Reading literacy (kemampuan membaca): Adalah kemampuan siswa untuk memahami, menggunakan, dan merefleksikan teks tertulis dengan tujuan untuk mencapai tujuan (goals), mengembangkan potensi dan pengetahuan, serta terlibat di masyarakat

 

  • Science literacy (memahami ilmu pengetahuan): Adalah kemampuan siswa untuk memahami hal-hal saintifik, serta dapat menggunakan ide dan teori saintifik sebagai alat untuk diskusi dan refleksi. Siswa dengan science literacy yang baik dapat berdiskusi dan mau terlibat dalam diskusi yang menggunakan metode-metode saintifik, termasuk dalam menjelaskan fenomena-fenomena, interpretasi data, dan memberikan bukti secara saintifik*. NB: Saintifik bukan berarti berkaitan hanya dengan Fisika, Matematika, dan Kimia.

 

  • Mathematical literacy (keterampilan matematika): Adalah kemampuan siswa untuk menggunakan, menginterpretasikan, serta merumuskan matematika dalam konteks yang berbeda-beda. Termasuk pula, berargumen dengan dasar matematika serta menggunakan konsep, alat-alat, fakta, serta prosedur matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi sebuah fenomena.

 

Untuk mendapatkan data komprehensif, PISA juga membagikan kuesioner tambahan untuk mengetahui informasi kontekstual dari mulai latar belakang siswa, keadaan keluarga, besar ruang kelas, hingga aspek terkecil seperti motivasi siswa, cara belajar, dan kebiasaan siswa.

Berikut adalah tabel lengkap mengenai hasil dari PISA 2015

45

Indonesia berada di urutan 9 dari bawah, persis di bawah Yordania. Jika dilihat dari data yang ditampilkan, dari sejumlah siswa Indonesia yang diikutsertakan dalam tes PISA, hanya 0.8% yang merupakan Top Achievers (Mencapai level 5 atau 6 pada satu atau lebih subjek) dan 42.3% merupakan Low Achievers (Tidak melewati level 2 pada semua subjek). Artinya, siswa Indonesia masih jauh ketinggalan dari negara-negara lain.

Tetapi, untuk kebahagiaan, siswa Indonesia paling bahagia berada di sekolah menurut laporan PISA 2012

 

Lalu, apa salahnya?

Sayangnya, paling bahagia tidak menjamin seorang siswa untuk menjadi top achievers.

Semasa kuliah, saya merenungkan pilihan-pilihan saya dan apa yang telah terjadi semasa saya SD hingga SMA. Saya merasa ‘banyak yang kurang’ dari diri saya sendiri. Dulu, waktu SMA, saya pernah bercita-cita ingin jadi Tony Stark dari Indonesia, bisa punya perusahaan mobil, bisa bikin Iron Man, dan lain-lain. Masih hangat di otak saya bagaimana saya di SMA termotivasi gila-gilaan karena film Iron Man, saya dibuat cinta fisika karena film itu.

Beberapa minggu setelah menonton Iron Man, saya mengajak beberapa teman kelas yang pintar di fisika untuk membuat proyek, membuat baju exoskeleton a la Iron Man. Saya bertanya tentang gigajoule, tentang listrik, dan banyak hal lagi. Membuat sketsa baju Iron Man yang bisa melakukan hal apapun.

Namun, impian saya mulai patah ketika saya mulai tidak paham fisika. Di SMA, saya masuk jurusan IPA, beberapa kali mendapat nilai yang cukup memuaskan di fisika, kimia, dan biologi pula. Namun saya merasa ada yang kurang dari pemahaman saya. Tapi pada waktu itu, saya tidak tahu sama sekali apa yang kurang.

Lulus SMA, layaknya siswa pada umumnya, saya mencoba peruntungan dengan ikut serta dalam tes untuk masuk universitas negeri, pilihan saya jatuh ke Universitas Indonesia waktu itu. Pilihan pertama? Teknik mesin. Seingat saya, untuk memperbesar peluang masuk, sayapun memilih beberapa jurusan dengan ‘sedikit peminat’. Mengetahui kalau jurusan akan menjadi tanggungjawab saya dan pilihan karir, saya memilih jurusan seperti Arsitektur Interior, Metalurgi, dan Fisika yang seingat saya menyediakan banyak bangku kosong.

Sayangnya, saya tidak berhasil.

Saya kecewa bukan main waktu itu. Bertanya-tanya kenapa saya tidak bisa masuk UI? Hingga akhirnya saya coba evaluasi diri beberapa waktu kemudian dengan melihat soal-soal tes SIMAK UI. Awalnya saya merasa mengerjakan sesuai dengan rumus yang diajarkan. Sesuai dengan apa yang saya hafalkan sewaktu les.

Lama-lama, saya mengerti kalau sebenarnya saya tidak mengerti. Tapi hafal.

Ayah saya sering bilang:

Belajar itu ukurannya ‘paham’, ‘ngerti’. Ibaratnya, kalau kamu lihat gelas, mau dibolak-balik kaya apapun, kamu paham itu gelas. Tapi kalau hanya hafal, gelas kalau kamu lihat dari bawah cuma lingkaran. Kalau kamu lihat dari samping kaya silinder.

Mulai dari sinilah letak kesalahan saya sadari.

Kesalahan 1: Siswa diajarkan untuk ‘hafal’. 

Dulu, kami di sekolah diberikan segerombolan rumus-rumus dan cara cepat mengerjakannya. Termasuk di bimbingan belajar. Saya hanya tahu kalau rumus gravitasi adalah F= GxMm/r2. Tapi kenapa bisa begitu? Tidak tahu. Inipun terjadi di beberapa mata pelajaran lainnya. Dan ‘Cara cepat’ adalah hal yang menurut saya jelas terlihat kalau pelajaran tersebut diajarkan untuk dapat lulus Ujian Nasional. Kalau tidak, kenapa harus ada cara cepat

Kesalahan 2: Banyak jargon (istilah).

Ini pengalaman pribadi saya, jadi mungkin tidak berlaku untuk beberapa siswa. Saya tipe orang yang untuk paham hal tertentu harus dikaitkan atau dianalogikan dengan hal yang sederhana. Jargon sendiri seringkali hadir tanpa diperkenalkan terlebih dahulu. Akhirnya, saya kebingungan mengaitkan jargon satu ke jargon lainnya. Contoh:

Ia [Newton] mengemukakan bahwa benda yang memiliki massa lebih kecil akan cenderung tertarik oleh benda yang massanya lebih besar, apel tertarik oleh bumi. Gerak tersebut diakibatkan gaya tarik apel kepada bumi jauh lebih kecil jika dibandingkan gaya tarik bumi terhadap apel. Fakta ini kemudian dikenal dengan hukum gravitasi newton. (Disadur dari rumus hitung)

Tulisan yang saya tebalkan, menurut saya mengandung jargon. Karena biasanya fisika dan beberapa ilmu eksak lainnya perlu imajinasi, kalau kata-kata semacam ‘apel tertarik oleh bumi’ saja siswa sulit mengerti, bagaimana bisa lanjut ke tahap selanjutnya? Biasanya, kalau saya mengajar adik saya atau beberapa teman saya, saya selalu kaitkan istilah-istilah semacam itu dengan praktiknya di dunia nyata atau analogi dengan hal yang lebih mudah dipahami. Hal ini memudahkan siswa untuk memahami konsep dan mengenali jargon.

Kesalahan 3: Nilai = tingkat kepintaran.

Ini mungkin sudah jadi rahasia umum, tapi kenyataannya masih saja ada hal seperti ini. Saya selalu prihatin kalau nilai dikaitkan dengan tingkat kepintaran. Padahal, jelas-jelas nilai bagus tergantung dari prosesnya. Terkadang, proses juga masih sering dicampuri faktor lain, kalau siswa sedang sakit? Kalau ternyata sedang ada halangan tertentu? Bisa saja nilai terpengaruh. Sayangnya, nilai masih jadi tolak ukur yang seakan bisa jadi alat prediksi kesuksesan seorang siswa.

Hal ini juga didukung faktor eksternal seperti orang tua, lingkungan, media, bahkan pemerintah. Semuanya berputar membentuk siklus.

Orang tua —-> Lingkungan —-> Sekolah —-> Pemerintah/media —-> Orang tua

Orang tua ingin anaknya sukses. Itu pasti. Tetapi, takaran suksesnya kadang-kadang bergantung pula dengan lingkungannya, ada yang ingin anaknya punya nilai 100 semua, rapor bagus dan dapat penghargaan. Siapa yang memberi penghargaan? Sekolah. Akibat dorongan pemerintah dan media, yang secara langsung dan tidak langsung menetapkan standar tertentu bagi ‘anak berprestasi’ dan ‘pintar’, sekolah membentuk mindset sendiri bahwa anak pintar adalah yang sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah secara langsung dan media secara tidak langsung. Imbasnya, tentu kembali ke orang tua. Kebanyakan orang tua pasti merasa malu kalau anaknya mendapat nilai ’40’ atau ’50’ di rapor. Lalu siklus ini kembali terulang.

Kesalahan 4: Kurang motivasi

Saya teringat guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA, bu Anik Zubaida. Ketika seharusnya Bahasa Indonesia membosankan, bu Anik dulu sering cerita tentang hal yang tidak sepenuhnya terkait dengan teori yang diajarkan di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Beliau malah bercerita. Saya lupa persisnya cerita tentang apa saja, tapi yang saya ingat betul, saya termotivasi untuk mulai menulis karena bu Anik. Dan bu Anik adalah salah satu guru yang meninggalkan imej ‘keren’ di otak saya.

Seperti halnya kejadian saya yang tergila-gila dengan fisika setelah menonton Iron Man, seharusnya ruang kelas tidak hanya dipenuhi oleh catatan dan papan tulis yang penuh serta LKS dan PR yang menumpuk. Siswa tidak hanya menjalankan hidup yang linear sekolah – kuliah – kerja – menikah, beberapa dari mereka mungkin akan hidup dengan cara yang tidak konvensional. Ada yang akan jadi aktivis, traveler, pebisnis, yang setelah sekolah akan menikah, dan lain – lain. Seperti yang saya alami, hampir 80% dari memori saya tentang sekolah hanyalah tentang teman dan pengalaman. Tidak semua pelajaran akhirnya digunakan, hanya sedikit. Lalu, kenapa harus memenuhi ruang kelas hanya dengan catatan?

Kesalahan 5: “Matematika itu mengerikan/ Skripsi itu mengerikan”

“Matematika itu susah!” “Gue benci hitung-hitungan!” “Sumpah gue takut entar skripsi enggak bisa!”

Itu adalah beberapa hal yang sering terdengar dari siswa dan mahasiswa di Indonesia. Mungkin di luar negeri pun begitu, hanya beda bahasa.

Buat saya sendiri, betul matematika susah, dan skripsi adalah hal yang cukup menguras otak. Tetapi, kenapa harus dijadikan ketakutan?

Saya rasa, ketakutan terhadap matematika dan skripsi terlalu berlebihan, hingga ke tahap siswa dan mahasiswa benci dan cenderung menghindari. Tidak hanya di matematika dan skripsi, tetapi beberapa subjek lain.

Kesalahan 6: Membaca & Menulis itu membosankan

Hal ini saya temukan di banyak teman dan lingkungan saya. Membaca rasanya jadi aktivitas yang membosankan, apalagi harus membaca buku tebal berbahasa Inggris. Di jurusan saya, Hubungan Internasional dulu, buku yang diberikan dosen tidak tanggung-tanggung tebalnya. Saya teringat di semester pertama ketika masih culun dan bau kencur, dosen Pengantar Hubungan Internasional saya memberikan buku Global Politics yang tebalnya kurang lebih 500 halaman dalam bahasa Inggris. Saya yang belum tahu apa-apa dulu cuma bisa menghela nafas.

Menulis juga. Tidak separah membaca, karena saya sering menemukan blog orang-orang yang berisi mulai curhatan pribadi hingga blog yang kelihatan untuk tugas. Untuk di tingkatan menulis santai atau cerpen, masih OK. Tetapi, untuk di tingkatan yang lebih tinggi, seperti menulis buku, belum begitu banyak.

Kesalahan Tambahan: Sinetron, YouTube, dan media sosial

YouTube dan media sosial sebenarnya berlaku seperti pisau bermata dua. Tergantung pemakainya menggunakan untuk apa. Tapi, di masa-masa seperti ini, ada banyak influencer dan YouTuber yang menggunakan daya pengaruhnya justru untuk membawa penonton (yang termasuk anak-anak muda) ke arah yang…. Cenderung salah.

Subjektif memang kalau berbicara tentang salah. Tetapi, menggunakan standar norma Indonesia, akhlak, dan kepribadian, saya rasa banyak yang salah. Anak-anak kecil menggunakan jari tengah sambil bernyanyi, misalnya.

Sinetron adalah yang terparah. Hampir tidak ada unsur positif selain hiburan (murah). Sinetron memperlihatkan adegan-adegan yang aneh dan jalan cerita yang itu-itu saja. Hujatan saya terhadap sinetron ada di tulisan saya yang lain. Tetapi intinya, sinetron bisa memengaruhi dan merubah penonton dengan usia muda yang belum sepenuhnya rasional.

Akibatnya, apa?

Akibat dari kesalahan-kesalahan itu (dan kesalahan lain yang belum saya temukan) adalah:

Akibat 1: Siswa/mahasiswa yang tidak berorientasi terhadap proses

Kenapa mencontek dan jual-beli kunci jawaban sering terjadi? Karena siswa panik. Dari satu sisi, mereka tidak mengerti materi yang diajarkan dan dari sisi yang lain, ujian sudah di depan mata. Mereka sadar kalau SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak akan membantu mereka lulus ujian atau Ujian Nasional. Jadi, secara rasional, mereka memilih alternatif yang paling simpel dan menguntungkan: mencontek.

Mencontek sendiri tidak semata-mata terjadi karena itu, ada faktor-faktor lain pula seperti karena memang malas, atau hobi. Tapi untuk tulisan ini, kita anggap faktor utamanya adalah karena kepanikan.

Gabungan dari Kesalahan 1, 2, dan 3 berakibat hal ini. Terutama karena “nilai” berbanding lurus dengan kepintaran. Saya selalu eneg ketika setelah masa-masa Ujian Nasional, sering ada berita tentang siswa yang dapat nilai Ujian Nasional tertinggi. Buat saya, berita semacam itu tidak ada pentingnya kecuali karena ekspos dan nama baik untuk sekolah. Akibatnya? Secara tidak langsung, orang-orang se-Indonesia menetapkan standar bahwa pintar adalah sama dengan nilai tinggi. 

“Proses” menjadi hal yang aneh. Padahal, di masa depan, siswa dan mahasiswa akan menghadapi “proses” untuk menjadi seseorang yang sukses. Kalau terbiasa dengan pola yang melewati proses, maka sulit bagi siswa dan mahasiswa Indonesia untuk menikmati proses yang panjang.

Akibat 2: Fixed Mindset, not Growth Mindset

Saya punya kutipan yang jadi pegangan saya. Dari Elon Musk “I think it’s possible for ordinary people to become extraordinary” (Saya rasa mungkin untuk orang biasa untuk menjadi luar biasa).

Mimpi saya banyak. Mulai dari ingin bisa membuat baju Iron Man, mengerti fisika, punya jet pribadi dan lainnya. Apa semua mungkin? Mungkin. Klise memang kalau bilang ‘tidak ada yang tidak mungkin’, tapi itu betul. Saya merasa kita sebagai manusia, terlepas dari faktor geografi, budaya, dan lainnya, punya kesempatan yang sama untuk punya mimpi tinggi.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap bahwa ‘mimpi’ seharusnya hal yang masih bisa dicapai.

Penganut kepercayaan tersebut memiliki pemikiran disebut dengan Fixed Mindset. Artinya, orang dengan Fixed Mindset percaya bahwa kemampuan yang dimilikinya adalah mutlak. Tidak bisa dikembangkan. Mereka beranggapan bahwa orang-orang sukses memiliki kemampuan yang dibawa dari lahir, sukses secara genetik.

Sebaliknya, Growth Mindset adalah orang yang percaya bahwa kemampuannya selalu bisa dikembangkan, dan “nilai” adalah sekedar angka. Mereka selalu merasa “bodoh” dan akhirnya mengembangkan kemampuan terus-menerus.

Dikutip dari artikel yang ditulis oleh Pak Rhenald Kasali:

 Seperti yang pernah saya tulis pada kolom di Jawa Pos setahun yang lalu, manusia memiliki dua jenis mindset, yaitu growth mindset dan fixed mindset. Orang-orang yang memiliki settingan pikiran tetap (fixed mindset) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan mereka yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap dirinya “bodoh”. Baginya ijazah dan IPK hanya merupakan langkah kemarin, sedangkan masa depan adalah soal impak: apa yang bisa Anda diberikan atau dilahirkan.  Maka kepada mereka yang pernah belajar dengan saya selalu saya tegaskan, pintar itu bagus, tetapi impak jauh lebih penting.  Celakanya universitas banyak dikuasai orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah sehingga mereka terkurung dalam penjara yang mereka set sendiri, yaitu fixed mindset. Bagi mereka impak itu sama dengan paper, atau kertas karya, terlepas dari apakah bisa dijalankan atau tidak.

Hal ini bisa terjadi karena kurangnya motivasi yang diberikan oleh setiap ruang kelas. Kita terlalu dipersiapkan untuk menjadi ‘pekerja’, bukan manusia.

Akibat 3: Konflik karena kurang baca, kurangnya buku bagus

Hal yang paling ironis saya temukan beberapa hari lalu ada di artikel yang saya cantumkan di atas. Berjudul Indonesian kids don’t know how stupid they are.

Kalau Anda lihat bagian komentarnya, sangat penuh orang Indonesia yang berbahasa Inggris, dan Indonesia beramai-ramai mencaci maki judul tulisannya.

Ditambah lagi, ada yang pura-pura terlihat saintifik dengan menanyakan metode penelitian PISA, padahal sudah terjawab semua di laman website PISA dan OECD.

STUPID
Contoh 1
STUPID1
Contoh 2

Komen-komen tersebut membuat saya… Gemas. Pasalnya, mereka yang menantang judul yang menggunakan “STUPID” justru memperlihatkan diri mereka sebagai “STUPID”. Lebih parahnya lagi, mereka tidak teliti membaca sebelum berkomentar.

Kedua, buku bacaan di Indonesia yang kurang bagus. Untuk novel dan buku cerita lainnya, saya tidak meragukan karena memang banyak yang bagus. Tapi untuk buku-buku yang memberikan pengetahuan baru? Saya rasa masih jarang. Bahkan untuk buku pengetahuan non-fiksi saja, masih sedikit.

Contohnya, kebanyakan buku-buku yang memberikan pengetahuan baru berasal dari buku luar negeri yang diterjemahkan. Kita punya buku seperti teori manajemen, makroekonomi, tapi tidak jauh berbeda dengan buku teori pada umumnya. Yang saya maksud ‘pengetahuan baru’ adalah buku yang memberikan perspektif baru, istilah baru, temuan baru yang berguna untuk khalayak luas.

Di luar negeri, banyak buku-buku seperti itu. Contoh, Outliers oleh Malcolm Gladwell, How to Win Friends and Influence People oleh Dale Carnegie, dan lain-lain. Di Indonesia, buku seperti itu tergolong sedikit, makanya dihadirkan versi terjemahan dari buku-buku semacam itu.

Hal tersebut bisa jadi merupakan imbas dari Kesalahan 6. Akhirnya tidak ada penulis buku-buku yang seperti itu.

Solusinya apa?

Solusi 1: Guru/Tutor, anggaplah kalian menjelaskan sebuah materi kepada anak 5 tahun

“If you can’t explain it simply, you don’t understand enough” kata sebuah kutipan. Kutipan ini tidak hanya sekadar kata-kata kosong, namun justru menjelaskan hal yang benar. Saya beberapa kali menemukan hal serupa. Contohnya, salah satu pertanyaan di wawancara kerja Apple adalah “Bagaimana Anda menjelaskan RAM kepada anak umur 5 tahun?”. Contoh lainnya, jika Anda senang mengunjungi website Reddit, Anda akan menemukan forum yang berjudul “Explain Like I’m 5“. Sebagai tambahan, sebuah metode belajar bernama Feynman Technique pun menyarankan untuk menjelaskan ulang menggunakan istilah-istilah sederhana.

Seperti saya uraikan di atas, penggunaan jargon yang terlalu banyak dan sulit dipahami membuat siswa/mahasiswa sulit mengerti konsep bahkan yang ada di tingkatan dasar sekalipun. Akan lebih baik jika pelajaran dibuat seperti storytelling.

Solusi 2: Orang tua, anak-anak memiliki keunikan tersendiri, dan mereka bukan robot

Orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anak, itu pasti. Sudah hukumnya. Tetapi, kalau anak Anda dijadikan ‘alat’ untuk Anda agar mendapatkan predikat ‘orang tua hebat’ atau pujian lainnya dari lingkungan Anda, itu salah. Anak Anda punya keunikan sendiri yang mungkin Anda harus temukan perlahan, tidak semua anak bisa dan–yang terpenting–mau ikut ekskul tertentu atau menyukai pelajaran tertentu. Nilai jelek di satu pelajaran bukan berarti dia bodoh atau tidak mampu.

Anak mungkin tidak mau dipaksa, tapi kalau diberi motivasi dan support, anak pasti akan terdorong untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Solusi 3: Kurangi baca cerita sukses

Untuk takaran tertentu, membaca cerita sukses bisa memberi kita energi dan motivasi untuk melakukan hal-hal yang terasa mustahil. Tapi jika terlalu banyak, cerita sukses akan memberikan perasaan kalau kita semua pada akhirnya akan sukses. Sehingga, rasa ‘harus bekerja keras’ akan hilang.

Sebaliknya, bacalah banyak cerita gagal. Ketahuilah kalau semua orang bisa bermimpi, namun eksekusi lebih penting daripada sekadar mimpi. Kita harus sadar kalau dunia terus berubah dan persaingan semakin ketat karena kualifikasi yang dibutuhkan untuk sukses akan semakin ketat pula. 20 atau 30 tahun lalu, tidak diperlukan kemahiran Digital Marketing, sekarang? Sudah perlu.

Solusi 4: Waktu adalah tsunami

Rasanya baru kemarin Pak Jokowi terpilih jadi presiden. Tapi ternyata, itu sudah 3 tahun lalu. Rasanya baru kemarin BlackBerry merajai pasar ponsel pintar, tapi sekarang sudah tergantikan oleh Apple dan Samsung.

Semakin hari, waktu tidak terasa. Satu tahun bagaikan beberapa bulan saja. Hari ini, sudah bulan ke-8 di tahun 2017, sisa 4 bulan lagi. Apa yang sudah kita lakukan untuk berubah?

Perlu disadari kalau di saat kita sedang asik menonton TV atau memandangi berita Lambe Turah, orang lain sedang mati-matian membangun dirinya dan bekerja keras. Waktu adalah mata uang yang harus kita bayarkan setiap hari, kalau kita hanya gunakan untuk leha-leha, apakah kita tidak merugi?

Sudah banyak website atau aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan diri. Ingat, pengembangan diri tidak perlu dan tidak akan selesai dalam satu malam. Kita bisa sedikit demi sedikit membangun diri, kalau mengutip istilah Kaizen, hanya perlu lebih baik 1% setiap harinya. Bayangkan, kalau kita ada peningkatan 1% di diri kita setiap harinya, berarti 365% selama setahun!

Caranya? Cukup dengan baca dan belajar hal baru.

Kesimpulan

Kita sering mendengar ungkapan “Indonesia adalah bangsa besar!” atau “Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bangsa besar di tahun 20XX”. Sekilas, itu semua terlihat seperti prediksi. Bahwa Indonesia PASTI akan menjadi besar pada beberapa tahun ke depan.

Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi kalau masing-masing dari kita tidak berkontribusi atau berubah sendiri.

Saya gemas dengan apa yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia selama ini. Alasan mengapa saya menaruh “Indonesian (kids) don’t know how stupid they are” adalah karena itu memang yang terjadi. Saya mengurung (kids) karena tidak hanya anak kecil, namun kita semua.

Kita terjebak dengan cerita-cerita Indonesia berhasil memenangi olimpiade, jargon-jargon kalau Indonesia akan menjadi besar, bonus demografi, anak Indonesia pintar-pintar.

Di atas kertas, itu semua benar. Tapi pada praktiknya, saya sendiri tidak menemukan hal itu.

Saya mungkin tidak terlihat nasionalis karena tidak setuju kalau Indonesia berpotensi menjadi bangsa besar. Karena memang pada kenyataannya, untuk sekarang, seperti itu. Mungkin, jika tulisan ini berhasil menggugah pembaca, hanya dalam kurun waktu 1-2 minggu, atau bahkan hitungan hari, pesan tulisan ini akan pudar begitu saja.

Juga mungkin terlihat seperti orang yang “Cuma bisa kritik tapi enggak ada karya dan solusi”. Percayalah, solusi dan karya muncul dari observasi dan kritik.

Saya percaya Indonesia bisa menjadi bangsa besar KALAU hal-hal yang saya jabarkan di atas–dan beberapa hal lainnya–mulai teratasi. Hingga nanti, mungkin saya akan ada di satu barisan dengan Elizabeth Pisani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s