Seberapa Berbedakah Sinetron Indonesia dan Series Luar Negeri?

screenshot-2017-02-10-11-40-34screenshot-2017-02-10-11-40-48screenshot-2017-02-10-11-42-02

(Disadur dari Line Today, “4 Sinetron Sinemart ini Segera Tayang Serentak di SCTV”)

Sinetron adalah salah satu dari beberapa pemicu debat kusir setelah Kolom Detikcom, Politik, dan Young Lex.

Bisa dilihat dari gambar di atas. Ada pihak yang ingin ganyang sinetron (dengan argumen utama: merusak moral), ada pembela sinetron #1 (dengan argumen utama: “enggak usah ditonton ajasih!” dan emang karya lu apa?**“), pembela sinetron #2 (dengan argumen utama: “alah drama luar aja lebih parah kok!“), dan Mahatma Gandhi kw-sekian (dengan argumen utama: berbahasa baku), terakhir, penyedia fakta (argumen utama: bau data).

**Argumen yang paling mudah ditemukan di setiap kritik di Indonesia

Meskipun berkali-kali saya berpikir objektif tentang sinetron, memang sulit ditemukan. Tapi saya jadi penasaran membandingkan antara sinetron Indonesia, drama Korea, dan series TV Amerika/Inggris. Ketiganya sudah pernah saya jajal, jadi kurang lebih tahu di mana letak perbedaannya.

1. Cerita

Cerita adalah salah satu struktur paling penting dari sebuah series/sinetron/drama. Dengan cerita, kita tahu si A itu siapa, B itu siapa, C apanya A & B, dan ke mana mereka bertiga nantinya? Selain itu, hampir 90% penentu bagus atau enggaknya sebuah series/sinetron/drama ditentukan dengan ceritanya yang bikin penasaran. Salah satu sinetron Indonesia yang paling berkesan ceritanya adalah–saya yakin semua setuju–Keluarga Cemara. Dibantu dengan lirik lagu “Harta yang paling berharga, adalah keluarga….” plus cerita yang jauh dari “lo-gue” atau mobil-mobil mentereng, Keluarga Cemara jadi salah satu sinetron favorit sepanjang masa.

Sayangnya, sekarang jarang kelihatan lagi sinetron yang mbahas soal keluarga secara mendalam. Malahan, yang kita temui sekarang isinya tentang anak yang–enggak tahu gimana caranya–bisa ketukar (apa admin rumah sakitnya mabok?), balapan di jalan (padahal di 86 Net TV udah pernah ketangkep itu balap liar), dan…

hqdefault
Hello Kitty rebus.

Lalu intinya, selalu tentang cinta lagi, cinta lagi. Dengan porsi yang enggak ketulungan besarnya.

Memang enggak bisa dipungkiri kalau cerita cinta bisa jadi daya tarik utama untuk narik penonton. Overall, love is what we longing, right? Tetapi, harusnya porsi cerita cintanya bisa dikecilkan atau dibalut dengan cerita yang unik.

Hal itu yang saya temuin beberapa drama Korea dan series Amerika/Inggris. Reply 1988 adalah salah satu drama Korea yang punya kesan paling baik buat saya. Dibanding fokus dengan adegan cinta-cintaan dan unyu-unyu, drama ini fokus ke hubungan antara 5 keluarga yang tinggal di satu gang kecil di Ssamundong. Tradisi-tradisi berkumpul di satu rumah, tuker-tukeran makanan antarkeluarga jadi satu hal yang bikin saya jatuh cinta sama drama ini. Sementara itu di series Amerika, ada How I Met Your Mother dan Friends. Meskipun saya belum nonton Friends, tapi How I Met Your Mother dan Friends pun fokus terhadap hubungan masing-masing karakter yang diselingi dengan adegan-adegan yang enggak selalu mengarah ke cinta.

2. Akting

Selain cerita, akting juga jadi salah satu faktor yang menentukan bagus atau enggaknya sebuah sinetron/drama/series. Ibaratnya, cerita itu rumah dan akting adalah gerbang masuknya. Kalau gerbang masuknya udah sengeri rumah-rumah di film horor, apa berani kita masuk dan lihat isinya (kecuali Harry Pantja dan kru Dunia Lain)?

Dalam observasi saya, akting enggak hanya meliputi gimana seorang aktor melakukan sebuah adegan, tapi ekspresi, gestur, sampai intonasi pun masuk ke hitungan.

Coba kita lihat adegan marah dari tiga scene:

Ini salah satu adegan dari Reply 1988:

Dan ini dari Anak Jalanan:

Plus, dari Whiplash:

See the difference?

Inilah kenapa akting penting. Selain jadi pilar untuk cerita dan keseluruhan film/series/drama/sinetron, dari akting, kita sebagai penonton juga bisa ikut mengalami naik-turun emosi bersamaan dengan protagonis. Di sisi lain, kita juga bisa ikut merasakan kerentanan (vulnerability) dari aktor dan peran yang diperankan. Kalau tidak begitu baik aktingnya, sulit bagi penonton untuk merasakan rollercoaster of emotion, apalagi paham ceritanya.

3. Sinematografi

Saya enggak tau banyak soal sinematografi, tapi definisinya:

“Seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab semua aspek Visual dalam pembuatan sebuah film. Mencakup Interpretasi visual pada skenario, pemilihan jenis Kamera, jenis bahan baku yang akan dipakai, pemilihan lensa, pemilihan jenis filter yang akan dipakai di depan lensa atau di depan lampu, pemilihan lampu dan jenis lampu yang sesuai dengan konsep sutradara dan cerita dalam skenario. Seorang sinematografer juga memutuskan gerak kamera, membuat konsep Visual, membuat floorplan untuk ke efisienan pengambilan gambar. Artinya seorang sinematografer adalah orang yang bertanggung jawab baik secara teknis maupun tidak teknis di semua aspek visual dalam film.”

Artinya, aspek-aspek yang enggak kelihatan pun berpengaruh. Kalau kita lihat dari contoh adegan di Reply 1988 dan Anak Jalanan, ada perbedaan jelas antara kedua adegan tersebut.

Di adegan Reply 1988, kita bisa lihat perbedaan letak ambil (angle), ada berapa kali buram (blur), dan kamera yang agak bergetar waktu Duk Seon mulai marah, dan enggak banyak zoom.

Sementara di Anak Jalanan, pergerakan kameranya enggak beragam. Kalau enggak zoomin/zoom-out, ya dilambatkan (slowmotion)Jadi emosinya enggak terlalu ketangkap.

Contoh lain, ada di series Inggris, Sherlock. Coba perhatiin adegan ini:

Mirip seperti Reply 1988, ada beragam pergerakan kamera dan enggak hanya itu-itu aja.

4. Poster

Ini adalah salah satu masalah estetika yang menurut saya pribadi, mengganggu banget. Poster untuk promosi seharusnya dibuat semenarik mungkin dan semisterius mungkin, supaya penonton penasaran.

Caranya? Banyak. Pakai karakter tulisan (font) yang berbeda-beda, angle-nya dimainkan, warna latar, dan lain-lain. Coba bandingkan tiga poster berikut:

 

(Kiri ke kanan: Reply 1988, Sherlock, Ganteng-Ganteng Serigala)

Ada perbedaan yang kontras dari ketiganya, kan? Di dua poster di sebelah kiri, misalnya, semua pemeran terlibat di satu foto dan punya ekspresi yang sama. Sementara untuk GGS, terlihat edit-annya kurang rapih dan…. itu serigala di belakang untuk apa? Coba kalau poster GGS dibuat lebih simpel, satu klub serigala (atau apapun lah…) berdiri di satu lorong sekolah pakai jas khas keserigalaannya dan difoto dari tengah? Bakal lebih bagus.

Dan penggunaan font kurang pas di poster GGS, sayangnya. Belum lagi beberapa karakter di posternya warna kulitnya jadi beda-beda.

Kesimpulan

Tulisan ini intinya emang mau memojokkan sinetron Indonesia atas kemonotonannya dan kurang menarik. Banyak aspek yang kelihatannya dibiarin begitu aja tanpa dibuat bagus, alhasil, ya apa yang banyak orang lihat itu bisa dibilang karya seadanya. Agak kecewa juga banyak aktor yang bangga dengan pekerjaannya sebagai aktor sinetron. Bukan berarti semua aktor Indonesia jelek, sayangnya, aktor-aktor yang bagus dan senior seperti Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, Dian Sastro, Alumni The Raid, dan banyak lagi malah ketutup sama yang ngisi sinetron.

Sebenarnya, sinetron Indonesia bisa jauh lebih baik dari sekarang, coba baca Artikel ini, itu salah satu cerita di balik industri sinetron Indonesia. Intinya, penulis cerita sinetron enggak bisa disalahkan mutlak. Karena cerita sinetron dibuat sesuai kesukaan dan permintaan pasar (alasan saya buat tulisan Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?). Jadi, kalau ditanya seberapa beda antara sinetron, drama, dan series?

 

Jauh banget.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s