Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?

Dulu, pre-kuliah, buku yang paling seneng saya lihat (dan baca) adalah ensiklopedia buatan Time tentang dinosaurus, yang isinya 80% gambar, 20% teks. Ensiklopedia itu berjasa mengisi otak saya dengan pengetahuan tentang Allosaurus yang dielu-elukan sebagai saingannya Tyrannosaurus Rex. Diplocaulus (bukan DJ) yang kepalanya segitiga. Plesiosaurus yang lehernya panjang dan musuh paling ngeselin di Dino Crisis 2, dan lain-lain.

a1wyrmy1h6l
Kurang lebih begini bentuknya

Kuliah semester 2, saya mulai baca buku yang porsi gambarnya lebih sedikit dibanding tulisan. Mau tahu apa? Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw. Mungkin itu buku pertama yang saya baca dengan 217 halaman. Isinya sendiri enggak ada serius-seriusnya. Cukup miris juga, waktu itu hampir 18 tahun umur saya tapi enggak pernah baca buku selain Biologi Kelas 1 SMP/SMA. Paling mentok? Bagaimana Cara Menjadi Cepat Kaya Dengan Beternak Kecoak Madagaskar. Enggak deng, boong.

Setahun setelahnya, di semester 4, tepatnya tahun 2014, saya mulai baca-baca buku yang teksnya penuhin satu halaman dan tebalnya bukan main. Waktu itu, saya sering disuruh baca buku-buku hubungan internasional karena mahasiswa hubungan internasional senjatanya hanya baca dan nulis. Enggak gampang, karena terbiasa lihat gambar-gambar lucu, sekarang disajiin gambar korban perang dan paling mentok, diagram hutang luar negeri.

Pelan-pelan, saya mulai terbiasa baca buku-buku yang teksnya banyak karena terdorong kewajiban kuliah. Ditambah, saya enggak mau kuliah hanya untuk mejeng tanpa sadar duit orang tua udah kekikis. Jadi ya mau enggak mau harus baca.

Di tahun yang sama, portofolio buku bacaan saya mulai nambah pelan-pelan. Dari baca buku melankolis kaya The Fault in Our Stars, sampe buku filsafat seberat The History of Sexuality karya Michel Foucault. Banyak waktu saya mulai keambil untuk baca. Di TransJakarta, di kampus, di kelas, di rumah, dan termasuk, kamar mandi.

Salah satu sensasi yang paling memuaskan dari membaca adalah, perasaan masuk ke dunia dan pandangan orang lain.

masa sih? Itu kan cuma tulisan doang?”

Ada beberapa kutipan yang sejalan dengan apa yang saya bilang:

“A book is a dream that you hold in your hand.”

–Neil Gaiman

“Whenever you read a good book, somewhere in the world a door opens to allow in more light.”

–Vera Nazarian

“Great books help you understand, and they help you feel understood.”

–John Green

“A book is a version of the world. If you do not like it, ignore it or offer your own version in return.”

–Salman Rushdie

Sensasi yang paling kuat saya rasain waktu baca buku-bukunya Haruki Murakami. Murakami dikenal sebagai penulis yang karakter-karakter di bukunya selalu sendiri, pendiam, enggak tertarik dengan apapun, dan berlatar belakang agak sedih. Uraian kata-kata yang ia tulis selalu membuat saya rasanya ada di dalam dunia yang Murakami tulis, lengkap dengan suasana yang digambarkan oleh Murakami di setiap tulisannya. Dan ini adalah bagian yang paling saya suka dari membaca buku.

Oke, stop ngomongin tentang apa yang saya alami. Rasanya terlalu narsistik kalau ngomong tentang diri sendiri.

Di Indonesia, buku jadi salah satu hal yang paling ditakutkan. Kalau diurut, mungkin begini:

HAL YANG DITAKUTKAN MASYARAKAT INDONESIA

  1. Kecoak terbang
  2. “Ada yang pengen dibicarain”
  3. Anak Jalanan/Tukang Bubur Naik Haji tamat
  4. Buku
  5. Raffi Ahmad – Nagita Slavina cerai

Buktinya, ada di beberapa artikel ini The case of reading and preserving Indonesian literature90 persen orang Indonesia tak suka baca buku, dan Why Indonesians Don’t Read More Books.

Dari artikel di Jakarta Post, menurut studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di Amerika Serikat, Indonesia ada di urutan 60 dari 61 negara dalam minat membaca. Mau tahu di bawah kita siapa? Botswana.

BotswanaBot-swana. Bot-swa-na.

Bukan berarti Botswana jelek lho ya (meskipun masih sering ada gajah nyebrang jalanan), tapi, Botswana?

Hal itu yang bikin saya merasa agak miris, sebenarnya. Karena ketidaksukaan membaca ini ngaruh ke banyak hal.

Salah satunya, adalah kurang berwarnanya pemberitaan di Indonesia, terutama di kolom-kolom yang harusnya berisi berita menyenangkan.

Kita banyak juara olimpiade fisika, matematika, robotika, dan -tika -ika lainnya. Beberapa kali orang-orang kita dikirim ke luar negeri untuk belajar, ikut ini-itu, dan banyak lagi.

Tapi hanya sedikit dari pemberitaan di Indonesia yang meliputi anak-anak yang inovatif, kita pernah ditiup angin segar dengan hadirnya Esemka, baru-baru ini Pesawat N219 yang bakal mulai mengudara April nanti di Makassar.

Enggak sampai di situ, dulu kita punya Laras dan Luthfia yang berhasil membuat tusuk gigi pendeteksi boraks. Lalu ada juga senjata elektrik tanpa suara, penyaring udara dari kotoran sapi, canting batik otomatis, detektor telur busuk, dan lainnya. (Ini sumbernya)

Kemana itu semua?

Berita hari ini lebih banyak bicara soal Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji mau tamat, segala hal berbau “mantan” (Seriously guys, it’s overused.), om telolet om yang mendunia (selama beberapa hari), sampai Raffi Ahmad.

Kenapa?

Karena permintaan pasar. Media juga cari untung, dong. Alhasil berita yang dimuat harus bisa menjual ke orang-orang yang membaca dan menonton. Sejauh ini, berita yang dimuat terus-menerus soal artis yang selingkuh, dan politik yang enggak ketolongan bikin enegnya. Artinya? Orang-orang masih banyak yang menikmati hal-hal itu.

Ya, kita masih senang melihat Stefan William berakhir dengan Celine Evangelista, bukan Natasha Wilona. Dibanding khawatir dengan kondisi dunia yang begitu cepat berubah (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous (VUCA)).

Kita masih lebih sedih lihat Anak Jalanan tamat. Dibanding berpikir soal solusi macet Jakarta yang enggak ada selesai-selesainya.

Kita masih lebih tertarik dengan menghujat orang-orang yang sekarang lagi bermunculan di TV. Dibanding berpikir gimana cara jadi Steve Jobs atau Elon Musk selanjutnya.

Kalau melihat daftar 30 under 30 dari Forbes, saya suka minder sendiri. Seumuran saya rata-rata udah bikin produk yang seengganya mengubah hajat hidup orang jadi lebih mudah atau baik.

Minimnya niat membaca juga berpengaruh ke buku-buku yang dijual, karya orang Indonesia, di toko-toko buku terdekat.

Banyak tulisan-tulisan yang incredible. Eka Kurniawan, Tere Liye, Ika Natassa, Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, misalnya. Belum lagi kalau menghitung yang enggak keliatan di permukaan.

Sayangnya, buku-buku bagus ini seringkali ketutup sama buku-buku yang–dengan 900++ halaman–membicarakan soal iluminati, atlantis, Rothschild, dan buku-buku konspirasi lainnya.

Meskipun jumlahnya enggak keterlaluan banyak, tapi ini juga mencerminkan keinginan pasar yang cukup tinggi atas buku-buku senada Garut Kota Illuminati.

Buku-buku yang diterbitkan karena penulisnya terkenal pun marak. Jadi, kadang enggak perlu perhatiin kontennya, karena terkenal, ya pasti banyak yang beli. Jadi urusan konten urusan belakangan.

Selanjutnya, kurangnya minat baca juga bikin kita kekurangan bahan obrolan, referensi data, kesempatan untuk keliatan geeky, dan, enggak ganti-ganti candaan selain soal mantan dan om telolet om.

Kalau mau bukti, coba ketik “mantan” di Google. Hasilnya kaya begini:

screenshot-2017-02-08-11-49-24

Dan soal om telolet om, I hate to rain on your parade, but this is…… embarrassing.

screenshot-2017-02-08-11-54-38

Inilah kenapa kadang rentang waktu candaan kita lebih panjang…..

Selain itu, seperti dilansir di Harvard Business Review, dalam artikel berjudul The Business Case for Reading Novels, ada satu kalimat yang berbunyi:

It’s when we read fiction that we have the time and opportunity to think deeply about the feelings of others, really imagining the shape and flavor of alternate worlds of experience

Artinya, kalau kita mbaca buku (terutama fiksi), kita jadi bisa lebih memahami perasaan orang lain dengan menempatkan kita di posisinya.

Di satu media berita terbesar di dunia, Line Today, saya nemu satu berita yang berjudul “Pakai Apple Watch, Ketua MK: Jam Rp13 Juta Sudah Cukup”. Bagi warga Indonesia, komentar apa yang Anda kira akan muncul di kolom komentar? Ya, kurang lebih komentar yang bernada iri-ditutupi-sarkastik macam begini

Ayolah. Rp13 juta untuk jam buat sekelas pejabat eselon atas bisa dibilang masih murah. Nih ya, untuk referensi, salah satu merek terkenal yang biasa dipakai banyak orang-orang kelas atas:

screenshot-2017-02-08-12-12-44
dan ini barang second.

 

Jadi ya… Kalau ditanya Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar? Jawabannya bisa diambil kesimpulan oleh masing-masing dari sepotong uraian yang saya tulis di atas.

Saya sendiri belum begitu banyak baca buku, per buku saya bisa habis 3-4 minggu. Cukup lama, tapi masih bisa ditingkatkan. Warren Buffet, investor terkenal dan pemilik Berkshire Hathaway, setiap hari baca 500 artikel setiap pagi. Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt selama hidupnya baca lebih dari 2000 buku (itupun yang dia ingat), Steve Jobs pun terinspirasi dari buku (14 books that inspired Steve Jobs), begitu pula Elon Musk (The Transformative Effects of Reading + Elon Musk’s Reading List) (P.S. Elon Musk tahu cara bikin roket karena baca buku).

Mengambil kutipan dari salah satu artikel di atas, yang diambil dari penulis Nora Ephron di buku “I Feel Bad About My Neck”

“Reading is everything. Reading makes me feel like I’ve accomplished something, learned something, become a better person. Reading makes me smarter. Reading gives me something to talk about later on. Reading is the unbelievably healthy way my attention deficit disorder medicates itself. Reading is escape, and the opposite of escape; it’s a way to make contact with reality after a day of making things up, and it’s a way of making contact with someone else’s imagination after a day that’s all too real. Reading is grist. Reading is bliss.”

Advertisements

2 thoughts on “Apa Yang Menarik dari 300++ Halaman Kertas Tanpa Gambar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s