Ada polanya.

*N.B: Saya bukan lagi mahasiswa politik, tapi mantan. Tidak lagi saya terlalu tertarik sama dunia politik. Jadi komentar saya ini tidak akan membahas sampai ke jeroan karena khawatir ada salah informasi yang bisa berakibat bahaya.

Remaja menuju ke dewasa, umur-umur 14-25 tahun mungkin lagi senang-senangnya komentar sana-sini. Apalagi ada sosial media, dan kita yang berumur segitu pun lagi senang-senangnya (enggak sengaja) baca berita yang muncul sekelibat di sosial media kita.

Berita soal Aurel operasi plastik, Donald Trump terpilih, soal pilgub, ini, itu, dan lain-lain. That’s why kolom komentar di website berita banyak penuh sama komentar-komentar, meskipun enggak semuanya remaja-dewasa.

img_1058
Kurang lebih begini

Ini adalah bagian dari tumbuh dewasa, jadi wajar. Enggak jauh, setahun lalu pun, gue masih suka komentar sembarangan karena merasa bisa paling benar dan pintar. Dulu, dalam hati rasanya kepingin sumpah serapah di depan muka mereka karena komentarnya yang–gue rasa–bodoh. Makanya kolom komentar terus penuh, apalagi untuk isu-isu yang gampang di-google dan muncul di mana-mana, pasti deh, ada komentar yang nadanya begitu.

Political fiasco yang lagi terjadi di Jakarta contohnya. Coba kalian main ke detikcom, lihat berita yang ada kaitannya dengan Pilgub DKI 2017, pasti komentarnya lebih dari 100. Isinya? Subjektif. Bantah sana-sini, ngatain sana-sini, semua binatang keluar, macam-macam.

capture33
Bener kan? (Sumber: detikcom)

Kejadian semacam ini enggak terjadi sekali-dua kali, dan enggak terjadi hanya di Indonesia. Di luar negeri, kolom komentar bisa jadi arena bertarung untuk buktiin siapa yang lebih benar dan siapa yang salah.

Capture44.PNG

Hal ini wajar. Wajar dalam demokrasi sekarang-sekarang, wajar dalam dunia per-netizen-an, wajar dalam perbedaan pendapat.

Semua wajar sampai kalian liat isi dari perdebatan di atas. Di gambar ketiga, saya ambil komentar-komentar itu dari video The Western Media Is Being Paid Millions To Hide This Video! Putin Tells us a BIG SECRET!. Sebelum kalian judge saya kalau saya penyuka video-video yang konspirasi-global-ish atau yang berbau Garut Kota Illuminati, tunggu dulu. Saya punya pertanyaan untuk kalian renungin:

“Apa selama ini yang kalian tonton, baca, dengar, itu mutlak benar? Pernah kalian coba cari alternatifnya?”

Untuk pertanyaan itu, saya menjawab bahwa tidak semua yang saya tonton, baca, dengar adalah mutlak benar. Kecuali agama yang saya pegang. Saya batasi sampai situ.

Jika kalian juga berpikir sama seperti saya, bahwa apa yang telah dicekoki kepada kita tidak mutlak benar, maka kalian akan masuk ke sebuah alam pikiran yang isinya, akan skeptis dan terus kritis tentang sebuah hal yang dianggap “kebenaran”.

Dalam konteks ini, saya enggak bahas soal Pilgub DKI 2017. Melainkan video soal Vladimir Putin yang ini:

Di video ini, Putin kurang lebih bilang kalau sebenarnya ISIS adalah buat-buatan Amerika. Meskipun enggak blak-blakan, tapi itu poin yang dibilang Putin.

Saya percaya? 95 persen, ya.

Kenapa saya percaya?

Pertama, jangan dipikir bahwa “power” itu selalu berbentuk kekerasan. Terlalu sempit artinya. Kalau power hanya berbentuk kekerasan, untuk membuat orang patuh sama kita, jalannya hanya satu: hajar. Tapi power punya banyak bentuk lain, makanya, di jurusan hubungan internasional, dibagi menjadi beberapa konsep: soft power, hard power, smart power. Artinya, pukul-pukulan bukan hanya satu jalan.

Softpower dalam wikipedia:

Soft power is a concept developed by Joseph Nye of Harvard University to describe the ability to attract and co-opt rather than by coercion (hard power), using force or giving money as a means of persuasion. Soft power is the ability to shape the preferences of others through appeal and attraction. A defining feature of soft power is that it is non-coercive; the currency of soft power is culture, political values, and foreign policies.

“kemampuan untuk menarik dan bekerjasama dibanding kekerasan … kemampuan untuk membentuk persepsi untuk disukai melewati cara-cara menarik seperti melalui budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negeri”

Ada yang ingat video di tahun 2010 waktu Obama ke Indonesia dan bilang “Sate… Bakso…”? Itu salah satu softpower. Ada yang suka lihat kalau lagi Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, ada duta besar Amerika Serikat ngucapin di RCTI? Itu softpower. Tidak sebatas itu. Film seperti Avengers, Inception, Dark Knight, Home Alone, itu semua juga bisa jadi softpower. Karena memperkenalkan budaya dan nilai-nilai Amerika Serikat secara tidak langsung. Berpengaruh juga terhadap sifat dan sikap. Ragu? Cek ini: Media Effects Theory.

Artinya, media juga bisa jadi perpanjangan tangan dari power. Media yang membentuk persepsi, media yang secara tidak sadar, membuat kita punya pikiran tertentu. Media juga enggak harus media semacam CNN, Fox, TVOne, atau semacamnya. Tapi sesederhana Meme.

Ada yang pernah lihat meme ini?

86281788_0c02e424-070c-44a5-9c57-37064286c6ab

Model perempuannya, Heidi Yeh, hidupnya rusak sekarang karena disangka operasi plastik oleh orang-orang yang lihat meme ini. Reputasinya jadi negatif dan enggak ada yang mau kerja lagi sama dia. Basically, karirnya mati. (Plastic surgery meme ruined my life: Model Heidi Yeh reveals her regret over ad). Padahal, itu iklan kosmetik.

Dan itu cuma satu meme.

Sekarang bayangin Vladimir Putin, yang dapat label jelek di sana-sini karena sering berseberangan dengan Amerika Serikat. Kalau kalian google “Vladimir Putin” dan klik tab “Berita”, kalian bisa lihat segimana banyaknya berita yang headline-nya selalu bermakna negatif soal Putin.

So there we have it! Imej Putin yang buruk dan terpatri di otak.

Hal yang sama terjadi sama Donald Trump. Bedanya, Putin enggak ambil pusing dan diam. Trump malah berkoar-koar yang bikin api makin berkobar. Rencana untuk mengeluarkan muslim dari Amerika emang bikin sakit hati. Tapi tanpa disadari, adakah–atau banyakkah berita miring soal Hillary Clinton? Sedikit.

Hillary Clinton diduga didukung dan dibiayai oleh bank-bank besar di Wall Street dan juga media. Alhasil, kita tahu arahnya ke mana. Padahal, Donald Trump belum jadi presiden. Tapi banyak juga warga negara kita sudah mengecap bahwa Trump itu buruk.

Kebanyakan netizen sangat reaktif sama berita-berita semacam ini. Ada berita A, berita A dirubungin. Berita B? Langsung diserang. Berita C? Hajar. Tidak hanya di Indonesia tapi di luar negeri.

Kalau kita lihat upil dari mikroskop, tentu enggak kelihatan seperti upil. Tapi kalau kita lihat dari mata telanjang, itu jelas upil.

Ada pola-pola yang sering dilewatkan sama orang banyak. Karena terlalu reaktif melihat satu kejadian tanpa menyambungkan titik-titik lain yang ada kaitannya, supaya tahu kesimpulannya.

Pola-pola ini tentu enggak akan dengan sembarangan menampakkan diri, biasanya, pola-pola ini sembunyi. Atau, karena kita melihat dari dekat, pola ini enggak kelihatan. Makanya kalau di Sherlock Holmes, ada hal yang kayak gini:

2a1ea1f7e5cb6f634a2c39d30900a5b1.jpg

Fungsinya untuk mengaitkan satu kejadian sama kejadian lainnya agar kita paham dari sudut manapun. Enggak hanya reaktif di satu kejadian.

Pada akhirnya, video-video dan gambar-gambar tadi menunjukkan sesuatu; bahwa sebenarnya hal-hal di atas juga hanya bagian dari satu gambar besar yang masih jadi pertanyaan.

Tapi, pesannya adalah, jangan terlalu gampang menerima hal–apapun. Selalu koreksi, selalu introspeksi diri, selalu kritis.

Karena semua kejadian, ada polanya.

Advertisements

2 thoughts on “Ada polanya.

  1. Kalau menurut saya bahasa sederhananya adalah tela’ah dulu sebuah masalah sebelum berkomentar. Media sekarang berpihak ke salah satu golongan dan tidak netral. Dan masyarakat banyak yang langsung menelan mentah-mentah. Saya juga setuju hanya agama ilmu yang paling mutlak. Baiknya adalah jika ada problem seperti misal Habib Rizqi Vs Polri, harus didengarkan dari 2 belah pihak masalahnya, baru berpendapat. Itulah cara berpendapat yang benar

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s