Review: Sabtu Bersama Bapak

Cast-nya dahsyat!

Beberapa bulan lalu, saya meminjam novel Sabtu Bersama Bapak ke salah satu teman saya, Dega, setelah berkali-kali liat orang bilang kalau novel karangan Adhitya Mulya ini bagus dan sangat relatable. Dari judulnya sendiri, “Sabtu Bersama Bapak”, kelihatan ada hal spesifik yang mau diceritain sama penulis novelnya. Turns out, betul. Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang dipimpin oleh pak Gunawan Garnida, ditemani ibu Itje Garnida, bersama dua anak laki-laki bernama Satya dan Cakra Garnida. pak Gunawan yang tubuhnya sedang digerogoti kanker, sadar kalau ia tidak akan bisa menemani anak-anaknya tumbuh dan mengajarkan hal-hal yang harus dipahami oleh laki-laki. Oleh karena itu, pak Gunawan membuat video dirinya yang berisi pelajaran-pelajaran penting untuk Satya dan Cakra dan menemani mereka hingga dewasa. Video ini ditonton oleh Satya dan Cakra bersama ibu Itje setiap hari Sabtu. Jadilah Sabtu Bersama Bapak.

Sedikit bicara soal novelnya, saya takjub banget sama gaya tulisan Adhitya Mulya yang ringan dan apa adanya. Saya baca bukunya enggak sampe 4 jam langsung selesai dilahap habis. Ceritanya juga relatable, dan enggak harus mikir berkali-kali untuk paham apa maksud tulisannya. Enggak cuma relatable dan ringan, tapi, banyak pelajaran yang bisa diambil terutama untuk para calon kepala rumah tangga yang kepingin jadi “Most Valuable Father” untuk keluarganya kelak.

Masuk ke filmnya, secara keseluruhan, filmnya more than just good. Saya suka pemeran-pemerannya, kelakarnya, ceritanya (meskipun ada yang diubah sedikit), dan tentu, Acha Septriasa + Sheila Dara Aisha.

Pluses:

  • Deva Mahenra is absolutely the MVP among the remaining casts. Aktingnya sebagai Cakra “Saka” Garnida perlu dikasih jempol banyak. Selama film diputar, hampir enggak ada satu scene yang gak bagus. Penyampaian candaannya juga enggak keliatan awkward atau maksain, adegan awkward-nya juga beneran keliatan awkward dan cringeworthy, adegan sedihnya beneran bikin sedih. What a roller coaster of emotions. Dan yang terpenting, Deva Mahenra dan Saka yang di buku sesuai banget.
  • Selain Deva Mahenra, Acha Septriasa also deserved a second-place MVP. Pemilihan Acha sebagai Risa di sini menurut saya tepat. Deskripsi Risa yang ada di buku sama di film cocok, dan emosi yang diperlihatkan juga enggak kerasa maksain. And damn, she speaks french.
  • Jennifer Arnelita, Ernest Prakasa, dan Mongol juga nambahin bumbu lucu film-nya. Mongol cuma muncul sebentar tapi efek bikin ketawanya panjang. Jennifer Arnelita (Wati) dan Ernest Prakasa (Firman) resenya sesuai banget sama di buku, rese bikin ketawa.
  • Yang jadi Ayu (Sheila Dara Aisha) beneran cantik.
  • Quotes-quotes-nya. Waktu nonton, saya bilang “Anjay moment” ke Aumita setiap ada kata-kata brilian nan edan. Kalau saya hitung, ada lebih dari 10 lah. Terutama: “Saya akan rindu masakan kamu nanti” “Kamu enggak rindu saya, mas?” “Adakah kata-kata di kamus yang melebihi kata rindu?” “Tidak, mas” “Kalau gitu, saya tidak bisa menjawab”. (Note: Laki-laki yang udah masuk umur rawan nikah, mending catet setiap kata-katanya. Siapa tau calon mertua senang (kalau udah ada)
  • Candaan the best-nya muncul:

“Pagi, Pak CakraPagi, WatiUdah sarapan, Pak?Udah, WatiUdah punya pacar, Pak?Diam kamu, Wati”

Minuses:

  • Sayang seribu sayang, Ira Wibowo sebagai ibu Itje Garnida kayanya sedih terus sepanjang hidupnya. Setiap ngomong nadanya melankolis, rasanya mau simpen tisu buat bu Itje. Kalau dibandingin sama bukunya, ibu Itje dalam bayangan saya adalah seorang ibu yang konyol-polos, baik luar biasa, dan enggak pernah keliatan sedih di depan anak-anaknya. Tipikal-tipikal ibu Hetty Koes Endang lah. Ibu Itje baru keliatan enggak sedih di adegan-adegan sebelum akhir. Dan seperti biasa, tipikal FTV, logat Sunda selalu terlihat dipaksain.
  • Sayang seribu sayang (2), saya rasa pemilihan Abhimana Aryasatya untuk jadi pak Gunawan Garnida kurang pas. Pertama, kalau mau disandingkan, umurnya Ira Wibowo dan Abhimana Aryasatya beda 15 tahun, lebih kelihatan kaya teman sebaya. I was hoping pak Gunawan would be portrayed by someone not that old, but looked damn wise. Saya rasa aktor kaya Tio Pakusadewo atau Ray Sahetapy cocok jadi pak Gunawan.
  • Gunther hanya disebutin. Di buku, Gunther adalah salah satu bule yang ikut-ikutan ngebercandain Saka, bareng sama Wati dan Firman lewat e-mail, yang sebenernya juga atasan Saka. Kalau ada, mungkin ketawanya bisa lebih pecah dari yang udah.
  • Rian & Miku di film enggak dikasih banyak ngomong. Tapi ini enggak masalah sih, terutama karena mereka aktor kecil. Cuma sedikit sayang aja. Akting mereka juga rada hambar, sayangnya.
  • Arifin Putra kurang total marahnya. Keliatan sedikit maksain.
  • The Last Shot. Mungkin ini gak ngeganggu banget, sih. Cuma buat saya ini cukup ganggu. Di scene terakhir, seolah ada rekaman yang ngeliatin keluarga Garnida dulu harmonis, anak-anaknya pak Gunawan memeluk pak Gunawan dan ibu Itje yang lagi tiduran. Scene ini niatnya mau ngeliatin kalau ada rekaman lain, jadi di layarnya seakan ada tampilan kamera kalau lagi ngerekam. Masalahnya, kalau di scene itu ada Cakra, Satya, ibu Itje dan pak Gunawan, yang ngerekam siapa? Masalah tambahannya, rekamannya bergerak dari luar rumah ke dalam. Apakah yang merekam adalah makhluk supranatural? Wahyudi? Jionis?

All in all, meskipun ada kekurangan, film ini sangat recommended untuk ditonton. 4/5

P.S: Jangan mentang-mentang judulnya berbau happy family, ngajak anak-anak tanpa tahu dulu ada candaan 18+ atau enggak. Jangan heran nantinya setelah nonton anak-anak nanyain hal yang….. you know lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s