Kebenaran yang salah; Kesalahan yang dibenarkan; Kebenaran yang disalahkan; Kebenaran yang benar.

Sounds catchy?

Syukur alhamdulillah kalau iya. Kalau enggak, mungkin saya harus banyak baca tulisan-tulisan nyeleneh lagi.

Dari mana judul ini muncul? Saya juga bingung, cuma kepingin njelasin apa yang ada di pikiran saya selama ini. Rasanya enggak sreg kalau enggak dibikin tulisan, keburu semrawut.

Tulisan ini niatnya hanya untuk direnungkan. Sama seperti makanan punyamu yang masih ada sisa di meja makan tapi lupa kamu makan–seharian bakal kepikiran. Apa nanti bakal dimakan adikmu, ayahmu, ibumu, kakakmu, atau kucingmu?

Tulisan ini juga sebagai alat latihan saya untuk mengolah pikiran. Kalau mau tahu, saya udah kepikiran ini dari semenjak kuliah semester 7 (setahun lalu, lah), tapi selalu susah dituangkan ke tulisan. Jadi kalau nanti agak membikin pikiran njelimet, ya maklumin lah ya…

Jadi begini….

Kuliah semester 4, jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina, saya diperkenalkan sama seorang bapak-bapak botak yang namanya agak susah dieja–Michel Foucault (Micel Fuko, bacanya). Saya pertama dikenalin sama tulisan-tulisan bapak botak ini di perkuliahan Teori Perbandingan Politik Luar Negeri yang diajar oleh mas Dodi Mantra. Yang diperkenalkan beliau pertama kali adalah mengenai analisa wacana (Discourse Analysis), kurang lebih maksudnya adalah melihat bagaimana suatu wacana (misalnya, lelaki sixpack dan berjanggut tipis itu gagah) bisa menjadi sesuatu yang diketahui (dan diyakini) oleh khalayak luas.

Ya kan? Siapa yang pertama kali bilang kalau laki-laki sixpack dan janggut tipis itu gagah? Akhirnya yang berperut bundlepack kaya saya disangka kurang gagah.

Awalnya sih, saya susah ngerti. Begitu ketemu dua prinsip Michel Foucault dalam pemikiran postmodernisme yakni power is everywhere” dan “distrust to who claims have a direct access to truth” atau kurang lebih “kekuasaan ada di mana-mana” dan “tiada yang memiliki kebenaran hakiki”, akhirnya saya ngerti. Ditambah mbaca tentang intertextualitas, atau kurang lebih maksudnya segala buku yang kita baca merujuk ke buku yang lain sehingga pengetahuan kita berasal juga dari pengetahuan orang lain, saya jadi semakin ngerti apa yang kepingin dibilang tokoh-tokoh postmodernis terutama om Foucault.

(Kalau belum ngerti intertextualitas, inget aja kalau apa yang kita tahu kebanyakan dari buku (yang dibuat orang lain) atau omongan orang (yang juga berantai dari orang lain))


Pikiran saya mulai kebentuk, pandangan saya terhadap orang-orang yang mengaku memiliki “kebenaran” semakin skeptis. Tetapi, saya tetap memberikan batasan bahwa yang memiliki kebenaran hakiki hanya Tuhan saya, Allah SWT serta kitabNya, Al-Qur’an. Kebenaran yang tidak hakiki hanya ada di dunia. Karena hal itu berkaitan dengan kepercayaan, semua bebas menginterpretasi masing-masing sesuai kepercayaan dan tidak “merusak” alur berpikir dari postmodernisme.

Lalu apa yang saya dapat dari mbaca semua jargon-jargon rumit di atas?

Saya bisa update lagi baca buku-buku yang judulnya keren di Path atau foto bukunya di Instagram.

Gadeng.

Saya jadi bisa lihat busuknya dunia ini, busuknya beberapa orang, busuknya sistem, busuknya kata-kata, busuknya banyak hal. Cukup mbikin saya stress, lho. Karena saya yang dulunya polos harus ketemu realitas sebusuk itu. Kepala saya gatel mulu tiap lihat orang komen membela yang (dirasa) benar tapi masih ada cacat logika; sedih kalau lihat hal yang enggak sesuai sebenarnya dan harapan saya, dan lain-lainnya. Tapi, hal-hal di atas juga membantu saya untuk makin hati-hati dalam berasumsi.

Contohnya,

Kita semua mungkin pernah punya satu teman di sekolah; di kampus; di kantor, yang selalu jadi bahan bully. Bahan gosip kalau lagi makan di kantin, referensi ejekan kalau kehabisan objek untuk diejek, dan lain-lain. Kadang kebencian itu menyebar lewat omongan, tanpa mau tahu sebenarnya orang yang di-bully itu sebenarnya kaya apa. Iya, betul. Cukup denger “lo tau gak sih itu si X? Badannya bau banget!” saraf-saraf di otak kita langsung nyimpen informasi dan langkah-langkah untuk menghindari si X ini. Padahal, bisa jadi yang ngomong bau itu karena mulutnya kedekatan sama hidung.

Itu contoh wacana/diskursus (Discourse). Kalau kata mas Dodi Mantra, hampir 80% pengetahuan kita terbentuk dari diskursus.

Contoh lain, semua takut sama kecoak (apalagi kalau terbang). Rasa takut sebenarnya subjektif, tergantung dulu kita ditakut-takutin apa kalau enggak mau belajar atau makan, pas masih kecil. Kalau kamu dibilang “ayo makan! Nanti dikejar kecoak!” kamu pasti akan takut kecoak. Kalau kamu dibilang “ayo makan! Nanti dikasih pak RT nih!” niscaya seumur hidup kamu enggak akan tinggal di kota.

Artinya, rasa takut dan rasa kesalnya kita terhadap si kecoak (terbang) dan si objek bully ini dibentuk oleh diskursus dan omongan orang. Which also happens in another subject(s).

Contoh di atas juga membenarkan apa yang dibilang om Foucault dengan “power is everywhere“. Yak, kekuasaan ada di mana-mana.

Kalau kamu kebanyakan baca detikcom atau pkspiyungan, kata “kekuasaan” pasti hanya ditujukan untuk para elit politik, presiden, gubernur, atau pak RT.

Padahal, emakmu juga punya kekuasaan. Bapakmu punya kekuasaan. Bahkan, kucingmu juga punya kekuasaan.

Ah masa, sih?

Siapa yang bisa bikin kamu bangun dari tidurmu yang (kelepasan) nyenyak dan mimpi makan bareng Maudy Ayunda? Emakmu. Kamu bisa digampar pake sapu lidi merek Maspion kalau bangunnya telat.

Siapa yang bisa bikin kamu melarat tujuh turunan? Bapakmu. Kalau blio enggak mau bayarin sekolahmu dan uang jajanmu sehari-hari? Game over.

Siapa yang bisa bikin kamu berdarah-darah kena cakar kalau enggak mau ngelus-ngelus? Kucingmu.

Itu baru kekuasaan berbentuk fisik, rek.


Kamu tahu dari siapa kalau 1+1 sama dengan 2? Gurumu. Tahu dari siapa kalau ternyata dulu ada konvensi antarcopet se-Jawa Barat? Koran (ini seriusan ada, lho). Tahu dari siapa kalau kentut di depan umum menyebabkan bonyok di sekujur badan? Masyarakat.

Nah itu contoh kekuasaan non-fisik..

Jadi, kekuasaan benar ada di mana-mana. Tinggal kita pintar-pintar ngeliat jaring-jaring kekuasaan itu.

Iya, terus kenapa?


Nah, sebentar dulu. Di lain kesempatan, mas Dodi Mantra sempat ngasih saya buku seabrek-abrek tentang postmodernisme dan konco-konconya. Di situ saya belajar tentang hubungan kekuasaan-pengetahuan (Power-Knowledge nexus) dan juga Biopolitics/Biopower.

Om Foucault bilang kalau kekuasaan dan pengetahuan punya hubungan, kalau ada orang punya kekuasaan, doi bisa memanipulasi pengetahuan agar kekuasaannya bisa diterima. Pengetahuan, juga bisa digunakan sebagai kekuasaan untuk memanipulasi. Contohnya ya media massa. Dulu saya pernah diwanti-wanti sama salah satu dosen di semester 2, “hati-hati jangan terombang-ambing sama media”. Karena media memiliki (dan diberi kekuasaan dengan dipercaya) kekuasaan untuk memproduksi pengetahuan berupa berita, yang dicerna oleh orang-orang.

Lalu ada Biopolitics/Biopower. Enggak banyak yang bisa saja njelasin dari sini. Tapi yang jelas, keberadaan peraturan tertentu, adanya penjara dengan serentetan kualifikasi buat calon narapidana, adanya batasan antara orang yang dibilang “sakit jiwa” dan enggak, adanya rumah sakit dan lainnya adalah bentuk kekuasaan biologis atau biopower agar kita menjadi manusia yang diinginkan oleh pemerintah/pembuat peraturan.

Kekuasaan-kekuasaan ini enggak selalu negatif, kok. Adapula yang bagus hasilnya, macam peraturan dan hukum yang berlaku sekarang. Karena ada hukum dan peraturan, orang-orang yang tadinya mau maling kepikiran kalau dipenjara 20 tahun, jadi urung niat.

Etetapi, kekuasaan-kekuasaan itu juga rawan untuk disalahgunakan. Meskipun tidak persis seperti jargon-jargon di atas, tapi skemanya bisa mirip.

Yang paling rentan adalah dalam konteks politik.

Sebelum saya jelasin,

Dari ribuan angsa putih, kalau ada angsa hitam, mana yang kamu lihat duluan?

Jawaban paling banyak pasti angsa hitam. Karena kalau kamu jawab angsa putih, kalau bukan enggak ngeliat angsa, kamu enggak tahu angsa itu apa.

Sama seperti kondisi politik sekarang: dari sejumlah pejabat politik yang korupsi, kalau muncul yang–cover-nya–bersih, jutaan persen pasti dipercaya. Pasti.

Setelah dipercaya karena terlihat bersih, lalu masuk ke tahap selanjutnya–cinta buta. Well, I guess you know how does it feel.

Seperti keju mozzarella yang sebenarnya enggak enak-enak amat, kalau dilihat dari lumernya yang nutupin makanan, siapa yang enggak jatuh cinta?


Tapi, enggak semua keju mozzarella sesuai harapan, rek. Dari 15 kali (perkiraan) makan keju mozzarella di Pizza Hut dalam bentuk pinggiran pizza, hampir 90% bersisa karena eneg.


Kurang lebih gambarannya gitu.


Ketika udah di tahap itu, siapapun yang berkata negatif siap-siap dihantam. Pasti.


Segala argumen yang meyakinkan logika pasti akan dikeluarkan.


Which leads us to the next step.


Argumen yang meyakinkan pasti diiyakan. Because it sounds like truth.


When our mind is convinced, our heart seemed to be happy with the statement, stop right there. Because you might fallen into argument trap.


Ini berpihak banget sih!


Karena topik sensitif, pasti akan dianggap begitu. Sama halnya dengan topik “agama/politik”. Karena sudah sangat menempel, akhirnya kalau nyentuh dikit, langsung dikaitin sama yang satunya. Gampangnya, kalau ada cowok/cewek mau deketin pacarmu, dan mereka ganteng/cantik, pasti disangka mau merebut pacarmu. 


Karena hal-hal ini sudah “dibenamkan” ke kepala kita tanpa disadari.


All those news, articles, what we read, what we listen, forms what we think.


Ditambah, semakin banyak yang percaya, semakin terlihat kalau itu benar. Itulah hukumnya.


Contoh,


**bukan menggeneralisir pengguna motor ya**


Kalau ada yang lagi naik mobil, baik pribadi atau umum, dan ditabrak motor. Siapa yang disalahin? Kemungkinan besar, yang naik mobil. Karena:

1. Terkesan orang kaya yang suka menindas;

2. Yang kasihan yang selalu benar;

3. Karena kasihan, semua bela motor, dan yang motor pasti menang karena banyak yang mbela.


Karena apa? Ya itulah diskursus yang terbentuk di masyarakat, itulah kepercayaan orang banyak.



Akhir kata, apa yang saya tulis di sini tidaklah berniat berat sebelah, postmodernisme pun tidak berlaku sebagai polisi moral, ia hanya menunjukkan jaring-jaring kekuasaan yang sedang berlaku. Karena moral dan pikiran orang relatif berbeda-beda.

Saya rasa banyak orang yang harus tahu betapa mengerikannya jaring-jaring kekuasaan tersebut, dibuat oleh orang yang jeli melihat peluang dan memang kondisi negara kita yang tidak pas.

Terakhir, saya hanya ingin berkata kalau semua kebenaran di dunia ini sifatnya relatif, kalau kamu enggak berpegang kepada satu hal yang pasti (dalam kepercayaan saya, Allah SWT dan Al-Qur’an) mustahil kita bisa berdiri stabil di antara ombak-ombak besar yang ada saat ini. Kalau kamu sudah yakin dengan apa yang kamu yakini sekarang, tulisan ini tidak berniat untuk mengubah jalan pikiranmu, hanya untuk direnungkan. 


Karena kebenaran bisa disalahkan, kesalahan bisa dibenarkan, banyak bisa jadi benar, kecil bisa jadi selalu salah.


Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s